Visi Sumanto: Regenerasi Dalang Muda, Jaminan Masa Depan Budaya Wayang di Jateng

3 min read
Visi Sumanto: Regenerasi Dalang Muda Jamin Masa Depan Wayang Jateng

Ketua DPRD Jateng Sumanto menggelar pementasan wayang kulit di Karanganyar. Acara ini menampilkan dalang cilik Gibran Maheswara serta Ki Anggit Laras Prabowo dan Ki Canggih Tri Atmaja. Sumanto mendorong regenerasi dalang muda sebagai upaya melestarikan budaya. Kegiatan wayang rutin ini mendapat apresiasi dari Paguyuban Dalang Karanganyar dan Keraton Surakarta.

Visi Sumanto: Regenerasi Dalang Muda Jamin Masa Depan Wayang Jateng

Ketua DPRD Jawa Tengah, Sumanto, kembali menggelar pementasan wayang kulit masif di halaman rumah pribadinya di Desa Suruh, Tasikmadu, Karanganyar, pada Jumat (16/5). Acara yang diklaim sebagai upaya regenerasi dalang muda dan pelestarian budaya ini menjadi sorotan rutin, mempertanyakan sejauh mana inisiatif personal seorang pejabat negara mampu menjawab tantangan pelestarian warisan budaya secara fundamental dan tanpa bias kepentingan.

Pementasan yang melibatkan dalang cilik dan dalang senior ini bukan sekadar tontonan budaya, melainkan telah menjadi agenda “selapanan” – rutin setiap 35 hari sekali – yang konsisten dihelat Sumanto. Pola ini memicu pertanyaan tentang motif di balik konsistensi tersebut: apakah murni pengabdian budaya atau turut menjadi platform efektif untuk membangun citra dan menjaga koneksi politik di akar rumput.

Detail Agenda Budaya Politisi

Pementasan terbaru menampilkan dalang cilik Gibran Maheswara dengan lakon “Kangsa Adu Jago”, dilanjutkan oleh dalang Ki Anggit Laras Prabowo dan Ki Canggih Tri Atmaja yang membawakan lakon utama “Pendadaran Siswa Sokalima”. Acara berlangsung di tengah keramaian, memperlihatkan mobilisasi massa yang selalu menyambut hangat kegiatan tersebut.

Sumanto menegaskan bahwa wayang adalah “tuntunan” yang sarat nilai, bukan sekadar hiburan. Inklusi dalang cilik seperti Gibran disebut sebagai strategi kunci untuk menanamkan cinta budaya pada generasi dini, langkah yang patut dicermati keberlanjutannya melampaui panggung rumah pribadi pejabat.

Rutinitas pementasan ini, yang telah berjalan setiap “selapan,” memang berhasil menarik perhatian masyarakat dari berbagai daerah. Namun, fokus pelestarian yang terpusat pada satu figur pejabat ini juga dapat menumpulkan gerakan akar rumput yang lebih independen dan berkelanjutan di luar pengaruh politik.

Apresiasi yang Mengintai

Sumanto menyatakan komitmennya, “Wayang bukan sekadar tontonan, tetapi tuntunan yang mengandung nilai-nilai kehidupan.” Dia menambahkan, “Kami ingin anak-anak mengenal dan mencintai budaya sejak dini.” Pernyataan ini menegaskan klaimnya atas inisiatif tersebut.

Ketua Paguyuban Dalang Karanganyar, Sulardiyanto, memberi apresiasi. “Terima kasih kepada Bapak Sumanto yang telah menyediakan ruang bagi seniman untuk terus tampil,” ujarnya, menggarisbawahi ketergantungan seniman pada figur yang memiliki akses dan sumber daya.

Tokoh Keraton Surakarta, KGPH Benowo, turut memuji konsistensi Sumanto. “Beliau sosok pejabat yang peduli terhadap pelestarian seni tradisional, khususnya wayang kulit,” ucapnya.

Benowo lebih jauh menambahkan, “Pertunjukan ini mengajarkan budi pekerti luhur dan nilai-nilai kehidupan yang sangat relevan di masa kini,” menyoroti potensi wayang sebagai media pendidikan moral.

Pertanyaan Abadi Pelestarian

Sumanto optimistis, dengan edukasi budaya sejak dini, generasi muda akan lebih mencintai dan melestarikan warisan bangsa. “Wayang akan tetap hidup selama kita terus merawatnya bersama,” tegasnya.

Namun, keberhasilan regenerasi dalang dan pelestarian budaya tidak hanya bergantung pada inisiatif personal seorang politisi. Diperlukan kerangka kerja kebudayaan yang lebih luas, sistematis, dan terintegrasi – bukan sekadar agenda rutin yang berpusat pada rumah pribadi figur publik – agar wayang benar-benar lestari dan terlepas dari bayang-bayang kepentingan elektoral.

More like this