Rumah BUMN BRI & Pundi Craft: Kunci Eksistensi Produk Kerajinan Lokal Terkuak

3 min read
Rumah BUMN BRI & Pundi Craft: Kunci Eksistensi Produk Kerajinan Lokal Terkuak

PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) terus memberdayakan UMKM melalui Rumah BUMN. Pundi Craft, kerajinan Jakarta Barat, telah tingkatkan kapasitas usaha berkat dukungan BRI sejak 2019. Mereka mengikuti pelatihan dan memasarkan produknya online serta di galeri. Hingga September 2025, BRI membina 54 Rumah BUMN dan 17 ribu pelatihan.

Rumah BUMN BRI & Pundi Craft: Kunci Eksistensi Produk Kerajinan Lokal Terkuak

PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) kembali menggembar-gemborkan program Rumah BUMN-nya, menyorot Pundi Craft dari Jakarta Barat sebagai bukti keberhasilan pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Klaim ini muncul di tengah pertanyaan tentang skala dampak riil program yang baru menjangkau 54 Rumah BUMN dan 17 ribu pelatihan di seluruh Indonesia, bahkan dengan proyeksi hingga akhir September 2025.

Sorotan Pundi Craft

Pundi Craft, usaha kerajinan asal Jakarta Barat milik Dewi Wardah, menjadi sorotan utama narasi ini. Dewi, yang telah mengasah keterampilannya secara otodidak sejak masa sekolah dan berlatar belakang pendidikan seni rupa, memulai usaha profesional sejak 1985. Merek Pundi Craft sendiri baru resmi digunakan pada 1993, menunjukkan fondasi usaha yang kokoh jauh sebelum intervensi BRI.

Keterlibatan Pundi Craft dengan Rumah BUMN BRI baru dimulai pada 2019. Sejak itu, Dewi Wardah diklaim mengikuti berbagai pelatihan pengembangan usaha, khususnya dalam aspek manajemen dan penguatan kualitas produk. Produk unggulan Pundi Craft meliputi tote bag, dekorasi rumah, dan merchandise, yang kini dipasarkan melalui platform e-commerce seperti Tokopedia dan Instagram, serta toko fisik di Galeri MULA dan Galeri Dekranasda Kota Tua.

Namun, data menunjukkan bahwa hingga akhir September 2025, BRI telah membina 54 Rumah BUMN dan melaksanakan 17 ribu pelatihan. Angka ini, untuk skala nasional, menimbulkan pertanyaan serius mengenai efektivitas dan jangkauan sebenarnya dari program “pemberdayaan” yang digadang-gadang mampu mendorong transformasi ekonomi secara luas.

Retorika Pemberdayaan

Dewi Wardah sendiri mengakui, pengenalan terhadap program pembinaan BRI baru terjadi setelah dirinya aktif dalam komunitas dan organisasi seperti Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) pada 2017, bahkan setelah meraih penghargaan kriya kayu terbaik dari Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) pada 2019. “Dari situ saya mulai mengenal dan mengetahui bahwa BRI juga memberikan pembinaan bagi UMKM seperti kami melalui pelatihan,” ujar Dewi. Ini menyoroti bahwa kesuksesan awal Pundi Craft terbangun mandiri, lalu BRI masuk setelahnya.

Sementara itu, Corporate Secretary BRI Dhanny beretorika bahwa UMKM “memiliki potensi ekonomi yang kuat apabila didukung oleh ekosistem pembinaan yang berkelanjutan dan relevan dengan kebutuhan usaha.” Ia menambahkan, “Rumah BUMN binaan BRI hadir untuk menjembatani kebutuhan peningkatan kapasitas, mulai dari pelatihan hingga akses pasar. BRI berkomitmen untuk memperluas jangkauan pendampingan kepada pelaku usaha kreatif agar semakin berperan dalam rantai nilai ekonomi nasional.” Pernyataan ini terdengar seperti justifikasi atas keterbatasan jangkauan yang ada.

Dampak yang Dipertanyakan

Narasi keberhasilan Pundi Craft, meski inspiratif, hanya menutupi fakta bahwa dampak nyata program Rumah BUMN BRI masih terkesan sporadis dan belum menyentuh jutaan UMKM di Indonesia secara merata. Skala intervensi BRI, dengan hanya puluhan Rumah BUMN yang dibina, patut dipertanyakan efisiensinya dalam menciptakan “rantai nilai ekonomi nasional” yang sesungguhnya, bukan sekadar cerita sukses yang terisolasi.

More like this