6 Jurus Kelas Menengah Bertahan Saat Ekonomi Bergejolak
Kondisi ekonomi saat ini benar-benar bikin kita sebagai kelas menengah jadi waswas. Ironisnya, kita adalah tulang punggung ekonomi bangsa ini. Lihat aja kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap PDB, mencapai 54,36 persen. Jadi kalau pertumbuhan ekonomi kuartal I tahun ini 5,6 persen, lebih dari separuhnya datang dari kita-kita yang doyan belanja ini. Ekonomi sulit bertumbuh kalau kita kelas menengah tidak belanja. Persoalannya, kalau belanja terus, nasib kita benar-benar di ujung tanduk. Bahkan, saking sulitnya kondisi ekonomi saat ini, makan di warteg saja perlu strategi. Harus mengorbankan lauk yang mana dulu nih? Begitulah kelas menengah atau orang bergaji pas-pasan di negeri ini memang dilematis. Terlalu mampu untuk dianggap miskin, tapi masih terlalu jauh untuk disebut kaya. Kelihatannya sih aman-aman saja karena punya kerjaan dan digaji, tapi ketika satu aja masalah keuangan datang, misal motor rusak atau kontrakan atau kos-kosan naik, pusingnya bisa bikin nggak doyan makan. Itulah realita yang harus kita hadapi. Kita adalah tulang punggung negeri ini, tapi kita juga yang paling rentan. Maka dari itu, ada beberapa saran soal strategi berhemat yang nggak melulu harus mengurangi jatah lauk di warteg. Mungkin bisa dicoba untuk menjalani kehidupan di negeri yang lagi sakit ini. #1 Kelas menengah sebaiknya tentukan batas pengeluaran sebelum makan di warteg Dalam kondisi ingin berhemat, sebaiknya hindari untuk langsung memilih lauk tanpa menghitung ketika di warteg. Ada baiknya kalian tentukan terlebih dahulu batas maksimal biaya yang dikeluarkan untuk sekali makan di warteg. Misalnya, maksimal kisaran Rp10.000–Rp15.000. Dengan biaya segitu, kalian sudah bisa mendapatkan komposisi makanan berupa nasi, lauk berprotein, satu jenis sayur, dan minuman. Khusus lauk, saya sendiri lebih memilih mengambil dua tempe goreng balok dan satu telur ketimbang ayam yang harganya per potong bisa Rp7.000-Rp100.000. Yang penting lagi, jangan sungkan untuk bertanya harga dari tiap lauk. Baca juga Nasib Dianggap Jadi Warga Kelas Menengah: Dianggap Banyak Uang, Tak Pernah Dapat Bantuan, tapi Hidupnya Justru Paling Sering Nelangsa. #2 Beli lauk dan sayurnya saja, nasi masak sendiri Akan sangat membantu bagi mereka yang masih sendiri dan ngekos ketika punya penanak nasi. Sebab, pengeluaran untuk makan bisa dikurangi dengan masak nasinya sendiri. Jadi, ke warteg cukup beli lauknya saja. Cara ini sangat efektif karena bisa memangkas pengeluaran. Beli tempe 4, telurnya 2, paling habis nggak lebih dari Rp15.000, dan itu bisa dimakan untuk siang dan malam. Saya biasanya menyiasatinya dengan membeli timun untuk tambahan lalapannya. Jadi tetap ada sensasi segarnya. Di sisi lain, pilihan membeli lauk juga lebih realistis ketimbang memaksakan diri memaksa tiap harinya. Pengeluaran mungkin lebih berkurang ya, tapi kita semua tahu kalau kelas menengah kayak kita nggak punya banyak waktu senggang. Kalau pun ada, lebih banyak digunakan untuk rebahan karena sudah kadung capek. #3 Kelas menengah sebaiknya mengurangi pesan makanan online Kalau kerjanya kantoran yang kawasannya macam SCBD, ada baiknya ikutin cara kedua, yaitu masak nasi sendiri, beli lauknya di warteg, dan jadikan bekal. Atau bisa beli lauknya saja di warteg sekitar kantor. Sebisa mungkin hindari pesan makan melalui aplikasi. Meskipun ada kadang promonya, tapi percayalah, biayanya akan lebih mahal dari pada beli langsung. Harganya mungkin murah, cuma Rp15.000, tapi ada ongkirnya, biaya layanan, kadang ditambah biaya parkir. Akhirnya bisa jadi malah mengeluarkan biaya dua kali lipat dari estimasi awal. Lagi pula, cara main pemberlakuan promo di online shop umumnya adalah dengan menaikkan harga dari harga asli kemudian didiskon. Harganya yang diskon tersebut jadinya adalah harga aslinya. Kalau mau pesan makan online, ya setidaknya batasi hanya seminggu sekali. Tidak perlu tiap hari. #4 Sedia makanan dan minuman penyelamat Jadi kebiasaan kelas menengah saat pulang kerja dalam keadaan lelah, lapar, dan tidak menemukan sesuatu yang dimakan, maka biasanya akan buru-buru pesan online. Ya kan? Ngaku kalian! Membuka aplikasi pesan antar memang mudah daripada harus repot-repot mampir ke warung. Tapi, di situlah letak berbahayanya. Sebab, makin lama, itu justru bikin pengeluaran jadi nggak terkendali. Untuk menyiasati itu, saya biasanya membeli makanan dan minuman penyelamat. Nggak perlu membayangkan makanan atau minuman yang mewah-mewah. Cukup beli saja mulai dari bahan makanan berat seperti telur, tempe, abon, atau mie. Semua masakan itu bisa diolah tanpa ribet. Kemudian makanan ringan mulai dari biskuit malkist yang murah, kalau mau yang agak rendah gula, beli wafer yang isian selusin. Itu jauh lebih murah ketimbang beli satuan. Selain, itu bisa juga beli kripik-kripikan yang tanpa merk. Sering dijumpai di toko snack kiloan. Oh ya, kalian juga bisa nyetok buah-buahan. Banyak kok buah yang murah. Contohnya pisang atau salak. Kalau khusus minuman, saya pribadi lebih sering nyetok teh dan milo. Minuman ini bisa diseduh dan diminum sambil nyelesain lemburan dari kantor kan? Semua ini sangat membantu untuk menekan pengeluaran para kelas menengah. Bayangkan biaya Rp50.000 yang biasa dikeluarkan untuk satu kali beli makan online, setara dengan diantaranya telur 2 kg, 14 bungkus mie instan, kripik Rp10.000-an 5 bungkus, 2 sampai 3 lusin wafer, atau beberapa bungkus biskuit malkist. Baca juga Derita Jadi WNI: Pelayanan Publik Tutup di Akhir Pekan, Saat Kebanyakan Warga Baru Punya Waktu Luang. #5 Gunakan langganan digital secara bergantian Kalau kalian lihat per satuan, berlangganan layanan digital itu kelihatan murah. Sebab masing-masing hanya puluhan ribu. Tapi, coba kalau diakumulasikan mulai dari langganan streaming film, youtube, music, game, aplikasi olahraga, atau layanan digital lainnya, maka hasilnya bisa ratusan ribu. Itu mengapa, saya sendiri menggunakan strategi langganan yang bergantian. Misalnya, untuk streaming film, saya akan berlangganan satu bulan untuk saja untuk menikmati series yang sedang diincar. Khusus untuk streaming film, saya menyarankan untuk model patungan. Misalnya, Netflix, berlangganan saja yang Rp120.000, tapi berbarengan 2 orang, berarti Rp60.000 per orang. Enaknya di Netflix yang paket Rp120.000, selain bisa digunakan lebih dari 2 device, videonya juga bisa didownload dan ditonton secara offline, bahkan saat sudah tidak berlangganan. Jadi dengan uang Rp60.000, kalian bisa menikmati Netflix 2 bulan penuh. Selain layanan streaming film, hal yang sama juga saya berlakukan untuk langganan lain, misalnya antara layanan edit video Capcut dan layanan edit foto Adobe Lightroom. Bulan ini Capcut, bulan selanjutnya Adobe Lightroom. Jangan lupa juga memeriksa pembayaran otomatis di Google Play, Play Store, dompet digital, dan kartu debit. Ini untuk memastikan tidak ada layanan digital yang nyedot uang kalian secara rutin tanpa sadar. #6 Kelas menengah bagi uang menjadi anggaran mingguan Mengatur uang untuk sebulan penuh memang kelihatannya sederhana, tapi praktiknya sulit. Saldo awal bulan biasanya sangat menggoda karena kelihatan banyak. Pokoknya apa saja beli. Diajak nongkrong juga ayok. Tapi, ketika akhir bulan, hidup jadi nelongso. Nah, cara paling mudah adalah dengan membagi anggaran menjadi empat bagian mingguan. Misalnya, tersedia uang Rp1,6 juta untuk makan, transport, dan kebutuhan harian. Maka pecah anggaran itu untuk 4 minggu, artinya ada sekitar Rp400.000 per minggu sebagai batas pengeluaran. Ini sering saya lakukan dan sangat membantu dalam berhemat. Bahkan, kalau masih ada sisa uang di akhir minggu dari Rp400.000 itu, ya tinggal dipakai untuk beli makanan yang disukai. Pada akhirnya, semua strategi di atas memang nggak bisa menjamin kita lepas sepenuhnya dari keruwetan kondisi ekonomi saat ini. Tapi, paling tidak, membuat kita bisa bertahan dan tetap waras. Bukankah itu yang diinginkan pemerintah? Warganya waras, supaya tetap berbelanja, daya beli pun menguat, supaya pertumbuhan ekonomi bisa terus dipamerkan. Kita yang bekerja, kita yang berhemat, kita yang putar otak biar tetap waras dengan tetap dipajaki. Sementara di sisi lain mereka begitu bangga dengan angka statistik bahwa ekonomi kita baik-baik saja. Semprul! Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi Editor: Kenia Intan BACA JUGA Saya Kelas Menengah, dan Saya Beneran Pengin Kaya. Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya. Terakhir diperbarui pada 8 Juni 2026 oleh Kenia Intan

Kelas menengah Indonesia terperangkap dalam jerat ekonomi, menjadi tulang punggung yang paling rentan. Mereka menyumbang 54,36 persen pada Produk Domestik Bruto (PDB) melalui konsumsi rumah tangga, namun terpaksa menerapkan strategi penghematan ekstrem hanya untuk mempertahankan hidup di tengah klaim pertumbuhan ekonomi 5,6 persen kuartal pertama tahun ini.
Situasi ini menciptakan ironi pahit: pertumbuhan ekonomi negara bergantung pada daya beli mereka, tetapi daya beli itu sendiri mengancam kelangsungan hidup finansial mereka. Hidup di tengah “negeri yang lagi sakit,” kelas menengah terjebak antara terlalu “mampu” untuk bantuan sosial dan terlalu “jauh” untuk disebut kaya, menghadapi krisis personal hanya karena motor rusak atau kenaikan sewa kos.
Kondisi mendesak ini memaksa mereka memutar otak, bahkan untuk urusan makan sehari-hari. Strategi “makan di warteg perlu taktik” menjadi simbol nyata perjuangan kelas menengah.
Batas Pengeluaran Ketat di Warteg
Mereka kini menetapkan batas pengeluaran Rp10.000-Rp15.000 per porsi makan di warteg. Pilihan lauk seperti dua tempe goreng balok dan satu telur lebih diutamakan ketimbang ayam yang harganya melambung Rp7.000-Rp100.000 per potong. Bertanya harga lauk satu per satu bukan lagi tabu, melainkan keharusan untuk bertahan.
Nasi Masak Sendiri, Lauk Beli
Bagi yang tinggal sendiri, penanak nasi menjadi “penyelamat.” Memasak nasi sendiri dan hanya membeli lauk-pauk di warteg dianggap sangat efektif memangkas biaya. Cara ini, meski menghemat, menekan waktu luang mereka yang sudah terbatas, seringkali dihabiskan untuk “rebahan karena sudah kadung capek.”
Hindari Pesan Makanan Daring
Pesanan makanan daring, meski sesekali menawarkan promo, justru menjebak dalam pengeluaran ganda. Biaya ongkos kirim, layanan, dan parkir seringkali melipatgandakan harga asli, membuat pesanan Rp15.000 bisa membengkak menjadi dua kali lipat. Pembatasan maksimal seminggu sekali menjadi mantra baru.
Sedia “Makanan Penyelamat”
Untuk mencegah lapar dan lelah memicu pesanan daring impulsif, stok makanan dan minuman “penyelamat” wajib ada. Telur, tempe, abon, mi instan, hingga camilan murah tanpa merek dan buah-buahan seperti pisang atau salak menjadi amunisi bertahan. Biaya Rp50.000 untuk sekali pesan daring bisa setara dengan 2 kg telur atau 14 bungkus mi instan.
Langganan Digital Bergantian dan Anggaran Mingguan
Pengeluaran digital juga disiasati. Langganan layanan streaming film, musik, atau aplikasi diedit secara bergantian, bahkan patungan untuk Netflix agar lebih hemat. Pemeriksaan pembayaran otomatis juga rutin dilakukan. Selain itu, pembagian gaji bulanan menjadi anggaran mingguan (misal, Rp400.000 per minggu dari Rp1,6 juta) membantu mengendalikan pengeluaran, menghindari “hidup nelongso” di akhir bulan.
Kritikus ekonomi dan suara kolektif kelas menengah menuding pemerintah abai terhadap realita pahit ini.
“Kita yang bekerja, kita yang berhemat, kita yang putar otak biar tetap waras dengan tetap dipajaki,” tegas mereka, menyoroti ketimpangan beban.
“Sementara di sisi lain mereka begitu bangga dengan angka statistik bahwa ekonomi kita baik-baik saja. Semprul!” lantang mereka mengekspresikan frustrasi terhadap narasi ekonomi yang terputus dari kenyataan.
Strategi-strategi bertahan hidup ini, walau tidak menjamin kebebasan sepenuhnya dari keruwetan ekonomi, setidaknya memungkinkan kelas menengah untuk “tetap waras.” Ini kontras tajam dengan ambisi pemerintah yang “menginginkan warganya waras, supaya tetap berbelanja, daya beli pun menguat, supaya pertumbuhan ekonomi bisa terus dipamerkan.” Beban ganda ini menempatkan kelas menengah di posisi paling rentan, menjadi korban angka statistik yang gemilang.