APJII Rilis Data Terbaru 2025: Pengguna Internet di Indonesia Capai 229 Juta Jiwa
Teknologi.id – APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) merilis data terbaru jumlah pengguna internet di Indonesia tahun 2025 mencapai 229. 428.417 juta jiwa daari total populasi penduduk di Indonesia 284.438.900 juta jiwa. Sebelumnya di tahun 2023, jumlah pengguna di Indonesia mencapai 215 juta dan di tahun 2024 mencapai 221 juta jiwa. Sedangkan, dari hasil survei penetrasi internet dan perilaku penggunaan internet 2025 yang dilaksanakan pada tanggal 10 April hingga 16 Juli 2025 menyentuh angka 80,66%. Hal ini meningkat 1,16% dibandingkan dengan tahun lalu dengan angka 79,50%. Dari angka-angkat tersebut menunjukan bahwa lebih dari 82% populasi di Indonesia sudah terhubung dengan internet. Data ini diambil oleh APJII melalui survei kepada WNI (Warga Negara Indonesia) yang dilaksanakan pada tanggal 10 April hingga 16 Juli 2025. Dalam survey ini melibatkan kurang lebih sekitar 8.700 responden yang tersebar di 38 Provinsi dengan menggunakan metode wawancara tatap muka dan metode multistage random sampling dengan margin of Eror (MoE) 1.1%. Hasil dari survei data menunjukan bahwa akses internet sudah menyentuh wilayah-wilayah di Indonesia dan juga menjadi penanda bahwa internet sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat untuk belajar, bekerja, berbisnis hingga mencari hiburan. Siapa Saja Pengguna Internet di Indonesia? Berdasarkan hasil data APJII, bahwa pengguna internet di Indonesia paling banyak dilihat dari tingkat penetrasi didominasi oleh: Generasi Milenial (kelahiran tahun 1981-1996).Dengan angka penetrasi 89,12% dan angka kontribusi 25,17% Gen Z (generasi kelahiran tahun 1997-2012).Dengan angka penetrasi 87,80% dan kontribusi 25,54% Gen X (generasi kelahiran tahun 1965-1980). Dengan angka penetrasi 79,48% dan angka kontribusi 18,15% Gen Alpha (generasi kelahiran tahun 2013). Dengan angka penetrasi 79,73% dan angka kontribusi 23,19% Baby Boomers (generasi kelahiran tahun 1946-1964).Dengan angka penetrasi 59,40% dan angka kontribusi 7,53%Pre Boomers (generasi kelahiran tahun 1945). Dengan angka penetrasi 20,88% dan angka kontribusi 0,43% Jika melihat pada data berdasarkan pendidikan, anak–anak SD berada diperingkat pertama dengan angka 34,85% kemudian disusul dengan SMA dengan angka 32,90%, anak—anak SMP dengan angka 17,46% dan mahasiswa sebesar 12,86%. Kontribusi penetrasi internet di Indonesia memang banyak di dominasi oleh para laki-laki dengan jumlah 82,73% dengan angka kontribusi 51,50%. Dibandingkan dengan perempuan yang hanya mencapai angka penetrasi 78,57% dengan kontribusi 48,50%. Penggunaan internet di Indonesia oleh masyarakat biasanya digunakan untuk bekerja dengan jumlah penetrasi sebesar 78,57%. Hampir 36,77% pengguna internet menggunakan jaringan wifi (free wifi) agar terkoneksi dengan internet. Baca Juga:Mengejutkan! ChatGPT Kini Lebih Sering Dipakai untuk Tanya Pajak daripada Koding Apa alasan orang-orang terkoneksi dengan Internet? Alasan utama orang-orang menggunakan internet adalah untuk: Mengakses sosial media (24,80%)Mengakses berita atau informasi terkini, mengingat semua sudah serba digital (15,04%)Melakukan transaksi online, seperti pembayaran qris mauupun transaksi transfer (14,95%)Mengakses konten hiburan (14,68%)Layanan Publik (8,61%) dan Keuangan (5,84%)Menggunakan Email (4.20%)Mengerjakan pekerjaan sekolah dari rumah (4,17%)Akses transportasi online (4,6%)WFH (Work From Home) (3,54%) Sedangkan ada juga yang tidak dapat terkoneksi dengan internet disebabkan karena tidak memiliki perangkat yang terhubung ke internet, tidak bisa menggunakan perangkat, tidak melihat menfaat dari internet, mahalnya harga kuota, dan keterbatasan fisik. Sehingga hal ini menjadi salah satu faktor internet kurang tersebar secara merata. Baca Juga:Roblox Dianggap Berbahaya oleh Mendikdasmen, Psikolog Ungkap Sisi Positifnya Persebaran Pengguna Internet berdasarkan Wilayah (Pulau) Secara geografis, berdasarkan hasil data tingkat penetrasi internet di Indonesia, Pulau Jawa masih menempati posisi pertama dengan jumlah penetrasi 84,69% dari angka kontribusi 58,14%. Diikuti oleh Pulau Kalimantan 78,72% dan kontribusi 6.05%, Pulau Sumatera 77,12% dan kontribusi 20,51%, Pulau Bali dan Nusa Tenggara 76,86% dan konribusi 5,13%, Pulau Sulawesi 71,64% dan kontribusi 6,46% serta Pulau Maluku dan Papua 69,26% dan kontribusi 3,71%. Sementara itu, untuk daerah tidak tertinggal jumlah penetrasi mencapai 80,95% dengan kontribusi 98,09% dan untuk daerah tertinggal jumlah penetrasi mencapai 80,55% dengan kontribusi 1,91%. Meskipun demikian, daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar) masih menjadi perhatian khusus APJII dalam menerataan internet. Penutup Tembusnya angka 229 juta pengguna, menjadikan internet bukan lagi fasilitas pendukung melainkan sudah menjadi kebutuhan utama masyarakat. Namun, pertumbuhan ini juga harus diimbangi dengan pemerataan akses, peningkatan kualitas jaringan dan edukasi literasi digital agar tidak terjadi penipuan online, pencurian data dan kejahatan-kejahatan lainnya. Baca artikel dan berita lainnya di Google News – Teknologi.id (SS)

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) melaporkan penetrasi internet Indonesia mencapai 80,66% pada 2025, dengan 229,4 juta jiwa terkoneksi. Data ini, yang dirilis setelah survei nasional April-Juli 2025, menempatkan internet sebagai kebutuhan primer, namun ironisnya juga menelanjangi jurang digital yang menganga dan mendesaknya ancaman kejahatan siber di tengah pertumbuhan pesat ini.
Lonjakan ini, naik 1,16% dari 79,50% pada 2024 dan melampaui 221 juta pengguna tahun sebelumnya, menunjukkan laju adopsi yang masif. Namun, di balik angka gemilang itu, tersembunyi tantangan pemerataan akses, kualitas jaringan, dan terutama, mitigasi risiko penipuan online serta pencurian data yang kian merajalela.
Kesenjangan Pengguna dan Motif Dominan
Pengguna internet didominasi generasi Milenial (89,12% penetrasi) dan Gen Z (87,80%), disusul Gen Alpha (79,73%) dan Gen X (79,48%). Dari segi pendidikan, anak-anak SD menjadi kelompok dengan proporsi pengguna tertinggi (34,85%), mengungguli SMA (32,90%) dan mahasiswa (12,86%). Laki-laki juga lebih dominan dengan 82,73% penetrasi dibanding perempuan 78,57%.
Masyarakat menggunakan internet paling sering untuk media sosial (24,80%), mencari berita (15,04%), dan transaksi online (14,95%). Angka ini mengindikasikan pergeseran perilaku yang menjadikan internet sebagai gerbang utama konsumsi informasi dan ekonomi digital. Ironisnya, 36,77% pengguna masih bergantung pada “free Wi-Fi”, menunjukkan beban biaya akses yang masih jadi kendala.
Kendala konektivitas masih nyata: jutaan warga tidak memiliki perangkat, tidak mampu mengoperasikan teknologi, atau terbentur mahalnya kuota dan keterbatasan fisik. Ini menciptakan paradoks, di mana angka penetrasi tinggi beriringan dengan jutaan orang yang masih terisolasi dari dunia digital.
Disparitas Geografis dan Prioritas Terabaikan
Secara geografis, dominasi Pulau Jawa dengan 84,69% penetrasi (dan 58,14% kontribusi nasional) masih tak tergoyahkan. Angka ini jauh melampaui Kalimantan (78,72%), Sumatera (77,12%), Bali-Nusa Tenggara (76,86%), Sulawesi (71,64%), dan Maluku-Papua (69,26%).
Meskipun daerah tidak tertinggal mencatat penetrasi 80,95%, daerah tertinggal pun diklaim mencapai 80,55%. Namun, APJII sendiri mengakui daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar) masih memerlukan “perhatian khusus”. Pengakuan ini secara implisit menunjuk pada kegagalan pemerataan yang sesungguhnya, di mana angka-angka umum menutupi realitas akses yang timpang.
Tembusnya 229 juta pengguna menegaskan internet bukan lagi kemewahan, melainkan tulang punggung kehidupan modern. Namun, pertumbuhan masif ini menuntut lebih dari sekadar angka. Pemerintah dan pemangku kepentingan wajib mempercepat pemerataan akses, meningkatkan kualitas jaringan, dan secara agresif mengedukasi literasi digital. Tanpa langkah konkret ini, lonjakan penetrasi justru akan memperparah risiko penipuan online, pencurian data, dan berbagai kejahatan siber lain yang mengintai jutaan pengguna baru.