Prioritas Menhan di Taruna Nusantara Cimahi: Kurikulum STEM Jadi Pondasi Pendidikan Abad 21.
Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin meninjau SMA Taruna Nusantara Cimahi pada 23 Februari 2026. Kunjungan ini memastikan pembangunan fasilitas pendidikan dan tata kelola berjalan sesuai arah negara. Menhan mendorong penguatan kurikulum STEM, peningkatan kualitas guru, serta pengembangan program pertanian terpadu untuk pembentukan karakter siswa.

Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin secara mengejutkan mendatangi SMA Taruna Nusantara Kampus Cimahi, Bandung, pada Senin, 23 Februari 2026. Kunjungan ini, diklaim untuk meninjau fasilitas dan memantau pembentukan karakter siswa, justru memicu pertanyaan serius tentang intervensi militer dalam kurikulum pendidikan sipil.
Sjafrie secara eksplisit mendesak penguatan kurikulum STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics), peningkatan kualitas guru, dan program “integrated farming” sebagai bagian integral dari pembelajaran karakter dan ketahanan pangan. Ini menegaskan agenda strategis negara yang diimpikannya bagi calon pemimpin masa depan, namun dengan nuansa kontrol yang kental.
Agenda Tersembunyi di Balik Inspeksi
Kunjungan ini bukan sekadar inspeksi fasilitas rutin. Sjafrie secara detail meninjau Laboratorium Aeronotika, Biologi, hingga ruang dapur, menunjukkan cakupan pengawasan yang mendalam terhadap setiap aspek operasional sekolah yang berafiliasi militer ini. Ini adalah campur tangan langsung, bukan sekadar kunjungan kehormatan.
Fokus pada “pembentukan karakter siswa sebagai calon pemimpin masa depan bangsa” melalui institusi seperti SMA Taruna Nusantara menggarisbawahi upaya sistematis negara membentuk elit dengan narasi tunggal. Ini bukan hanya tentang pendidikan, melainkan indoktrinasi dini yang diselubungi retorika kebangsaan.
Desakan Menhan terhadap kurikulum STEM, seleksi guru berbasis kompetensi dan psikologi, serta “integrated farming”, menyiratkan agenda spesifik yang melampaui standar pendidikan nasional biasa. Ini adalah cetak biru pendidikan yang didikte dari atas, minim ruang bagi otonomi dan keberagaman.
Program “integrated farming” sebagai sarana pembelajaran karakter, kemandirian, dan ketahanan pangan di sekolah militer menimbulkan tanda tanya besar. Apakah ini upaya untuk menanamkan etos militeristik dalam kehidupan sehari-hari siswa, atau sekadar solusi pragmatis yang dipaksakan tanpa mempertimbangkan relevansi akademisnya?
Intervensi Menhan dalam detail operasional pendidikan seperti tata kelola dan kualitas pendidikan menunjukkan kontrol yang ketat. Ini bukan lagi otonomi pendidikan, melainkan perpanjangan tangan kebijakan pertahanan ke ranah sipil, mengikis batas antara militer dan pendidikan.
Klaim Menhan: Arah Strategis Negara
“Saya melaksanakan pertemuan dan peninjauan langsung di SMA Taruna Nusantara Kampus Cimahi untuk memastikan pembangunan sarana prasarana, tata kelola, serta kualitas operasional pendidikan berjalan sesuai arah strategis negara,” ujar Sjafrie pada Selasa, 24 Februari 2026, sehari setelah kunjungan.
Ia melanjutkan, “Pada aspek pendidikan, saya mendorong penguatan kurıkulum STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics), peningkatan kualitas guru melalui seleksi ketat berbasis kompetensi dan psikologi…”
“…serta pengembangan program integrated farming sebagai bagian dari pembelajaran karakter, kemandirian, dan ketahanan pangan.” Kutipan ini secara gamblang mengungkap agenda Menhan untuk mengarahkan pendidikan sesuai visi pertahanannya, menempatkan kepentingan militer di atas pedagogi murni.
SMA Taruna Nusantara, dengan afiliasi militernya, telah lama menjadi kawah candradimuka bagi calon pemimpin yang diharapkan memiliki disiplin dan mentalitas tertentu. Kunjungan Menhan ini menegaskan kembali peran strategis sekolah tersebut dalam proyeksi kekuatan negara di masa depan, namun dengan sorotan tajam pada potensi militerisasi pendidikan dan pembatasan kebebasan akademik.