Prabowo dan Presiden Jerman: Sinergi Perdagangan RI

3 min read
Prabowo dan Presiden Jerman: Sinergi Perdagangan RI

Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Republik Federal Jerman Frank-Walter Steinmeier sepakat memperkuat hubungan ekonomi kedua negara melalui peningkatan perdagangan dan investasi yang saling menguntungkan. (Foto Dok. Bakom RI) Jakarta, Idola 92.6 FM-Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Republik Federal Jerman Frank-Walter Steinmeier sepakat memperkuat hubungan ekonomi kedua negara melalui peningkatan perdagangan dan investasi yang saling menguntungkan. Dalam pertemuan bilateral, Prabowo menegaskan komitmen Indonesia dan Jerman untuk terus memperluas kerja sama ekonomi di berbagai sektor strategis. “Kami sepakat untuk terus meningkatkan volume perdagangan dan investasi yang saling menguntungkan,” ujar Prabowo dalam pernyataan pers bersama di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (15/6). Prabowo juga menekankan pentingnya hubungan antara Indonesia dan Eropa. Menurutnya, penyelesaian perundingan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) akan memberikan manfaat besar bagi dunia usaha di kedua kawasan. “Saya menekankan pentingnya hubungan Indonesia dan Eropa, dan kami berharap perjanjian Indonesia-European Union CEPA dapat mencapai kesimpulan substantif,” katanya. Ia berharap Jerman dapat terus berperan aktif dalam mendorong proses finalisasi perjanjian tersebut di tingkat internal Uni Eropa. “Kami berharap Jerman akan terus memainkan peran aktif dalam proses finalisasi perjanjian di internal Eropa sehingga dapat segera memberikan manfaat konkret bagi dunia usaha di kedua kawasan,” ucapnya. Selain melalui kerja sama perdagangan, hubungan Indonesia dan Jerman juga diperkuat melalui program Competitiveness Industrial Modernization and Trade Acceleration Program (CITA) yang bertujuan meningkatkan daya saing industri dan mempercepat perdagangan. Prabowo turut mengundang investor Jerman untuk memperluas investasinya di Indonesia, khususnya pada sektor-sektor prioritas yang tengah dikembangkan pemerintah. “Indonesia juga mengundang pihak Jerman untuk memperluas investasi di sektor-sektor penting di Indonesia, seperti transisi energi, hilirisasi industri, pengembangan kendaraan listrik, serta industri semikonduktor,” ungkapnya. Sementara itu, Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier menyampaikan bahwa kedua negara memiliki visi yang sama dalam menciptakan kerangka kerja yang lebih kuat bagi perdagangan dan ekonomi. “Indonesia dan Jerman juga memiliki keinginan bersama untuk membangun kerangka yang baik bagi perdagangan dan ekonomi. Kami berharap perjanjian Indonesia-Uni Eropa CEPA pada akhirnya dapat ditandatangani,” ujar Steinmeier. (her/dav)

Prabowo dan Presiden Jerman: Sinergi Perdagangan RI

Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier menuntut percepatan penguatan hubungan ekonomi kedua negara. Pertemuan di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (15/6), menandai desakan Indonesia agar Jerman berperan aktif dalam finalisasi Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Eropa (IEU-CEPA) yang terkatung-katung, sekaligus membuka keran investasi Jerman di sektor-sektor krusial.

Tuntutan ini muncul di tengah kebutuhan mendesak Indonesia akan suntikan modal asing dan percepatan diversifikasi ekonomi. Prabowo secara terang-terangan mengundang investor Jerman untuk memperluas investasi di sektor prioritas seperti transisi energi, hilirisasi industri, pengembangan kendaraan listrik, dan industri semikonduktor.

Desakan IEU-CEPA dan Investasi Prioritas

Pemerintah Indonesia menyoroti lambatnya penyelesaian IEU-CEPA, sebuah kesepakatan yang digadang akan memberikan manfaat besar bagi dunia usaha di kedua kawasan. Prabowo menegaskan pentingnya hubungan Indonesia dengan Eropa dan berharap perjanjian tersebut dapat segera mencapai kesimpulan substantif.

Jerman, sebagai lokomotif ekonomi Uni Eropa, diharapkan memainkan peran kunci dalam mendorong proses finalisasi perjanjian di tingkat internal blok tersebut. Kehadiran Steinmeier di Jakarta menjadi momentum bagi Indonesia untuk menekan percepatan birokrasi Uni Eropa yang dinilai menghambat kemajuan.

Selain melalui kesepakatan perdagangan, hubungan ekonomi kedua negara juga diperkuat melalui program Competitiveness Industrial Modernization and Trade Acceleration Program (CITA). Program ini bertujuan meningkatkan daya saing industri dan mempercepat arus perdagangan, namun efektivitasnya masih menjadi pertanyaan di tengah lambatnya realisasi CEPA.

Volume perdagangan dan investasi yang saling menguntungkan menjadi inti pembicaraan. Indonesia membutuhkan akses pasar lebih luas dan modal teknologi dari Jerman, sementara Jerman mencari mitra strategis di Asia Tenggara dengan potensi pasar besar dan sumber daya alam melimpah.

Sikap Tegas dari Jakarta dan Berlin

“Kami sepakat untuk terus meningkatkan volume perdagangan dan investasi yang saling menguntungkan,” tegas Prabowo dalam pernyataan pers bersama. Ia menambahkan, “Saya menekankan pentingnya hubungan Indonesia dan Eropa, dan kami berharap perjanjian Indonesia-European Union CEPA dapat mencapai kesimpulan substantif.”

Prabowo juga menuntut Jerman untuk mengambil langkah konkret: “Kami berharap Jerman akan terus memainkan peran aktif dalam proses finalisasi perjanjian di internal Eropa sehingga dapat segera memberikan manfaat konkret bagi dunia usaha di kedua kawasan.”

Menanggapi desakan tersebut, Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier mengakui adanya visi yang sama. “Indonesia dan Jerman juga memiliki keinginan bersama untuk membangun kerangka yang baik bagi perdagangan dan ekonomi. Kami berharap perjanjian Indonesia-Uni Eropa CEPA pada akhirnya dapat ditandatangani,” ujar Steinmeier, meskipun tanpa memberikan komitmen waktu yang konkret.

Pertemuan ini menggarisbawahi posisi Jerman sebagai mitra dagang dan investasi penting bagi Indonesia, khususnya di sektor manufaktur dan energi. Namun, lambatnya progres IEU-CEPA dan kebutuhan investasi yang mendesak menuntut langkah lebih agresif dari kedua belah pihak, terutama dari Jerman, untuk menerjemahkan janji diplomatik menjadi aksi ekonomi nyata.

More like this