Bintang Muda Lokananta Vol. 2: Menjaring Bakat Musik Masa Depan, Siapa Saja yang Lolos?

3 min read
Bintang Muda Lokananta Vol. 2: Daftar Bakat Musik Masa Depan yang Lolos

Bintang Muda Lokananta Vol. 2 menjaring musisi berbakat melalui program pencarian bakat musik nasional. Kolaborasi Lokananta Records, Danareksa, dan PPA ini telah memilih 12 peserta dari 256 pendaftar. Program di Solo ini mendukung regenerasi ekosistem musik Indonesia, meliputi workshop, rekaman album kompilasi, dan tur promosi. Peserta akan tampil di Lokananta Studio Gigs.

Bintang Muda Lokananta Vol. 2: Daftar Bakat Musik Masa Depan yang Lolos

Solo, Jawa Tengah- Lokananta Records, bersama PT Danareksa (Persero) dan PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA), pada Selasa, 20 Januari 2026, mengumumkan 12 peserta terpilih “Bintang Muda Lokananta Vol. 2”. Program ini hadir sebagai sorotan tajam terhadap upaya Lokananta merebut kembali posisinya di kancah musik nasional setelah lama terpuruk, mengklaim menjaring musisi berbakat demi regenerasi ekosistem musik Indonesia.

Pengumuman ini datang setelah proses seleksi ketat dari 256 band/solois. Namun, program yang berkedok tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL)/CSR ini secara implisit mengakui bahwa ekosistem musik Lokananta memerlukan injeksi serius, bukan sekadar pencarian bakat biasa.

Proses Inkubasi dan Janji Revitalisasi

Dua belas talenta muda dari berbagai kota dan genre—mulai pop, metal, hingga eksperimental—melaju ke panggung kreatif Lokananta. Mereka adalah Alceena Inside (Yogyakarta), Tuan Sendiri (Bandung), Mesin Waktu (Sidoarjo), Barmy Blokes (Surakarta), Pajamas Boy (Sragen), Gardenia (Banjarnegara), Beverlyline (Semarang), Deem (Jakarta), Drewgon (Maluku Utara), Tardigrada (Palu), Tama Yuri (Singkawang), dan We’re All Gonna Make It (Yogyakarta).

Para peserta ini akan menjalani serangkaian inkubasi intensif: tampil di Lokananta Studio Gigs, mengikuti workshop dan mentoring, merekam album kompilasi “Bintang Muda Lokananta Vol. 2” di Studio Lokananta, menggelar Showcase (Album Release Party), dan tur promosi. Seluruh kegiatan dipusatkan di Lokananta Surakarta, menargetkan rilis digital dan fisik dalam format kaset pita, sebuah nostalgia yang dipertanyakan relevansinya di era digital.

Lokananta Studio Gigs sendiri berlangsung dalam tiga sesi, dimulai pada 17 Januari, berlanjut 31 Januari, dan berakhir 14 Februari 2026. Kegiatan ini menjadi ajang bagi para peserta untuk membuktikan karakter musikal dan memperkenalkan karya mereka di hadapan publik dan juri.

Pertanyaan di Balik Antusiasme

In Magma, Head Program Bintang Muda Lokananta Vol. 2, menjelaskan desain programnya. “Lokananta Studio Gigs yang didukung oleh Danareksa dan PPA kami desain sebagai ruang penilaian langsung, di mana juri menilai performa panggung secara utuh, mulai komposisi dan musikalitas, lalu dari dinamika set list, hingga komunikasi dengan audiens,” tegasnya.

Ia menambahkan, “Musisi juga mendapat feedback tertulis untuk pengembangan karyanya. Bagi penonton yang hadir, ruang ini menawarkan penemuan talenta baru dari berbagai kota, nama-nama musisi yang mungkin belum pernah mereka saksikan sebelumnya.” Magma mengklaim, “Lokananta ingin mempertemukan proses pembelajaran, jejaring, serta apresiasi dalam satu pengalaman di Lokananta Studio Gigs.”

Namun, di balik narasi positif ini, muncul keraguan tentang dampak jangka panjang. Juri Alby Moreno (Vokal/Gitar MCPR Band) secara eksplisit mengakui kondisi Lokananta saat ini. “Sudah saatnya Lokananta mengembalikan marwahnya sebagai salah satu ekosistem musik dengan berbagai bentuk IP yang masih linier dan relevan dengan industri dan musik,” ujarnya.

Moreno melanjutkan, “Salah satu jalannya mungkin melalui BML, namun BML bukan semata soal musisi yang terlibat di dalamnya. Ini adalah bagian dari proses panjang dalam menjaga keberlangsungan ekosistem musik yang harus berkelanjutan dan signifikan dengan zaman.” Pernyataan ini jelas menunjukkan bahwa BML hanyalah secuil upaya dalam restorasi besar yang belum pasti arahnya.

Tantangan ke Depan Lokananta

Antusiasme publik memang tercatat, dengan 206 penonton memadati sesi pertama Lokananta Studio Gigs. Para juri—Alby Moreno, Iksan Skuter (Solois), dan Yacko (Rapper)—menilai peserta berdasarkan musikalitas, originalitas, kreativitas, penampilan panggung, serta komunikasi dan pesan karya.

Namun, pertanyaan mendasar tetap menggantung: apakah program pencarian bakat tunggal, meskipun melibatkan inkubasi komprehensif, cukup untuk benar-benar mengembalikan “marwah” Lokananta sebagai pusat ekosistem musik yang relevan dan berkelanjutan? Atau, ini hanya upaya kosmetik yang gagal menyentuh akar masalah struktural Lokananta dalam menghadapi dinamika industri musik modern?

More like this