Dekan Vokasi UNDIP Resmi Teken Kontrak Kinerja 2026: Siapkan Arah Baru Pendidikan Vokasi

2 min read
Dekan Vokasi UNDIP Teken Kontrak Kinerja 2026: Siapkan Arah Baru Vokasi

Sekolah Vokasi UNDIP mengawali tahun 2026 dengan penandatanganan kontrak kinerja. Dekan Sekolah Vokasi dan sebelas Program Studi berkomitmen wujudkan tata kelola akuntabel, berorientasi capaian kinerja, serta berkelanjutan. Setiap Program Studi diminta menyusun strategi pelaksanaan kinerja tahunan yang jelas, terukur, dan realistis.

Dekan Vokasi UNDIP Teken Kontrak Kinerja 2026: Siapkan Arah Baru Vokasi

Dekan Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro (UNDIP), Prof. Dr. Ir. Budiyono, bersama sebelas Ketua Program Studi, Selasa 20 Januari 2026, resmi meneken kontrak kinerja di lingkungan Sekolah Vokasi UNDIP, Semarang. Langkah ini, yang diklaim sebagai penegasan komitmen tata kelola akuntabel, justru membongkar kenyataan pahit: sistem kinerja selama ini rapuh, terlalu bergantung pada figur, dan minim evaluasi terstruktur.

Indikasi Sistem Kinerja Yang Bobrok

Penandatanganan ini secara implisit mengakui bahwa siklus kerja sebelumnya tidak berjalan sistematis. Kontrak ini diposisikan sebagai “momentum dimulainya siklus kerja tahun 2026 yang berbasis perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kinerja secara sistematis,” sebuah pengakuan atas absennya sistem tersebut di masa lalu.

Dekan Budiyono secara tersirat menuding lemahnya implementasi sebelumnya. Ia menekankan, kontrak ini “bukan sekadar dokumen administratif, melainkan komitmen bersama yang harus dijalankan dengan sungguh-sungguh.” Pernyataan ini jelas menyentil praktik sebelumnya yang mungkin hanya menganggap kontrak sebagai formalitas belaka, gagal menopang capaian optimal.

Program Studi kini dipaksa menyusun strategi pelaksanaan kinerja yang “jelas, terukur, dan realistis,” lengkap dengan indikator dan lini masa. Evaluasi triwulanan yang “tidak hanya bersifat penilaian, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran dan perbaikan berkelanjutan” menguak bahwa evaluasi terdahulu mungkin hanya formalitas, tanpa dampak nyata untuk perbaikan.

Pengakuan Dekan: Ketergantungan Individu dan Evaluasi Semu

Prof. Budiyono tak ragu menyoroti masalah fundamental tata kelola. “Penguatan sistem ini bertujuan agar keberlangsungan Program Studi tidak bergantung pada individu tertentu, sehingga roda organisasi dapat berjalan secara efektif dan berkesinambungan,” tegasnya, menelanjangi ketergantungan institusi pada personalitas, bukan pada sistem yang kokoh.

Ia juga mendesak penguatan “budaya kinerja yang berorientasi pada perencanaan matang, pelaksanaan yang disiplin, evaluasi yang jujur, serta perbaikan berkelanjutan.” Sebuah pengakuan telanjang atas defisit perencanaan, disiplin, dan kejujuran evaluasi yang selama ini menghambat institusi.

Target Ambisius Di Atas Fondasi Rapuh

Kontrak Kinerja Tahun 2026 ini dipamerkan sebagai upaya strategis Sekolah Vokasi UNDIP “dalam memperkuat tata kelola institusi dan menegaskan arah transformasi menuju Sekolah Vokasi yang unggul, adaptif, dan berdaya saing global.” Namun, pertanyaan besar menggantung: apakah langkah reaktif ini cukup untuk mengikis akar masalah tata kelola yang sudah mengurat, atau hanya sekadar pemadam kebakaran sementara?

More like this