Adab Pemilik Hewan: Antara Niat Palsu dan Kenyataan Peliharaan Telantar.

3 min read
Adab Pemilik Hewan: Dari Niat Palsu Hingga Peliharaan Telantar

Banyak warga mengeluhkan hewan peliharaan tetangga yang berkeliaran menyebabkan kekacauan, seperti ayam dan kucing. Di Dusun Kayupuring, Magelang, banner dipasang agar hewan peliharaan dikandangkan. Pengendalian hewan peliharaan ini esensial bagi adab bertetangga demi lingkungan harmonis.

Adab Pemilik Hewan: Dari Niat Palsu Hingga Peliharaan Telantar

Seorang warga di sebuah dusun di Kabupaten Magelang mendapati rumahnya porak-poranda dengan pecahan beling dan makanan hancur setelah ditinggal silaturahmi Lebaran. Insiden terbaru ini, dipicu oleh kucing peliharaan tetangga yang berkeliaran bebas, memperparah rentetan panjang gangguan akibat hewan peliharaan abai yang meresahkan warga sekitar.

Kejadian ini memicu seruan keras agar wilayah lain meniru kebijakan Dusun Kayupuring, Kecamatan Grabag, yang telah memasang spanduk peringatan tegas: “Hewan peliharaan harap dikandangkan, jika tidak maka hewan tersebut menjadi milik umum.” Tuntutan ini muncul dari frustrasi akut atas kurangnya tanggung jawab pemilik hewan, yang berujung pada kerusakan properti dan gangguan kehidupan bertetangga.

Kerusakan Akut Akibat Kelalaian Hewan Peliharaan

Puncak kemarahan terjadi saat keluarga tersebut pulang silaturahmi, menemukan piring dan sebuah teko kaca berisi air hancur berserakan di bawah meja. Tidak hanya makanan, air juga menggenangi lantai, meninggalkan kekacauan parah yang diklaim akibat ulah kucing. Padahal, jendela rumah telah dibuka dengan asumsi tidak akan ada gangguan, dan makanan di meja hanya nasi, kerupuk, sayur bening, serta tempe mendoan yang tidak berbau amis.

Kejadian ini bukan kali pertama. Sebelumnya, kucing-kucing tetangga telah berulang kali masuk rumah, mencuri makanan, dan bahkan buang hajat di kasur. Anak-anak sang warga pernah menemukan beberapa ekor bayi kucing bersembunyi di dalam lemari bawah. Praktik membiarkan kucing masuk-keluar rumah telah menjadi pola menjengkelkan yang tak kunjung usai.

Tidak hanya kucing, insiden serupa juga melibatkan ayam peliharaan. Lantai teras rutin dikotori oleh tahi ayam. Tetangga lain mengeluhkan ayam yang bertengger di atap, bertelur hingga pecah di lantai, bahkan masuk rumah dan buang kotoran di mobil atau di kamar anak. “Biar disembelih saja ayamnya!” ujar seorang tetangga saking geramnya.

Pola abai ini menunjukkan pemilik hewan peliharaan gagal mengelola tanggung jawabnya. Mereka membiarkan hewan-hewan tersebut berkeliaran bebas, mengganggu kenyamanan, kebersihan, dan keamanan properti warga lain. Dampaknya jelas: kerugian materi, kelelahan membersihkan, dan suasana bertetangga yang memanas.

Meskipun beberapa insiden ayam sempat mereda, masalah kucing justru berulang dengan intensitas yang mengkhawatirkan. Warga dipaksa untuk terus-menerus menutup jendela atau menghadapi risiko kerusakan, sebuah kondisi yang tidak masuk akal dalam lingkungan tempat tinggal.

Desakan Penegakan Aturan Bertetangga

Penulis keluhan, Sayekti Ardiyani, secara tegas menyatakan keyakinannya bahwa kekacauan terakhir sepenuhnya ulah kucing, bukan tikus atau cicak. “Sebelumnya, saya beberapa kali mendapati kucing yang menjadi hewan peliharaan tetangga, sudah naik meja makan dan kaki depannya berusaha membuka tudung saji,” ungkapnya, memperkuat dugaan.

Ardiyani menegaskan, “Saya sangat setuju kalau semua dusun mencontoh banner seperti di Dusun Kayupuring.” Baginya, adab bertetangga tidak hanya tentang mengendalikan mulut dan perilaku, tetapi juga “mengendalikan hewan peliharaan.”

Ia pun menyindir para pemilik hewan: “Nggak usah punya hewan peliharaan kalau tidak bisa merawat.” Pernyataan ini jelas menyoroti kegagalan pemilik dalam bertanggung jawab, sekaligus menjadi kritik pedas terhadap kebiasaan membiarkan hewan merugikan orang lain.

Solusi Mendesak: Meniru Kayupuring

Insiden berulang ini menggarisbawahi kegagalan mendasar dalam manajemen hewan peliharaan di tingkat komunitas. Tanpa aturan jelas dan sanksi tegas, pemilik hewan abai akan terus menciptakan masalah bagi tetangga mereka.

Dusun Kayupuring telah menunjukkan jalan, bahwa kompromi dan musyawarah—meski mungkin sulit—dapat menghasilkan solusi yang memihak kepentingan umum. Pendekatan proaktif ini mendesak untuk ditiru guna menertibkan pemilik hewan yang tidak bertanggung jawab, sebelum konflik bertetangga semakin meruncing.

More like this