Ahmad Luthfi di Ungaran: Kunjungan ke Tanah Amblas Picu Tangis Haru Warga
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengunjungi warga terdampak tanah amblas di Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, Jumat (13/2/2026). Kunjungan ini menindaklanjuti laporan tanah amblas akibat hujan deras. Gubernur menginstruksikan dinas terkait untuk segera memberikan bantuan perbaikan rumah dan kebutuhan pokok bagi korban bencana. Penanganan cepat sangat ditekankan.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mendatangi warga terdampak tanah amblas di Perumahan Griya Bukit Jati Asri, Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, Jumat (13/2/2026), memicu tangis haru korban yang tak menyangka kunjungan tersebut. Kedatangan Luthfi, yang diklaim “spontan” di tengah perjalanan menuju Solo, justru menyoroti lambannya respons pemerintah daerah terhadap bencana yang telah merenggut tempat tinggal warga.
Kunjungan ini terjadi sehari setelah insiden tanah amblas pada Kamis (12/2/2026) pukul 13.00 WIB, yang menghancurkan halaman rumah Sukarno (55) dan merobohkan lantai rumah tetangganya, Imam. Sementara Luthfi menenangkan korban dengan janji bantuan, kebutuhan mendesak seperti perbaikan permanen dan bantuan sembako bagi keluarga Sukarno yang suaminya menderita stroke, masih menggantung tanpa kepastian.
Respons Pemerintah yang Terlambat
Peristiwa tanah amblas dipicu hujan deras dan luapan air dari kebun di atas permukiman. Dampak kerusakan langsung terasa, memaksa keluarga Sukarno menumpang di rumah orang lain. Kunjungan gubernur yang baru terjadi sehari setelah kejadian, dan disebut-sebut sebagai inisiatif pribadi setelah menerima informasi, menimbulkan pertanyaan mengapa penanganan darurat tidak segera dilakukan oleh dinas terkait tanpa menunggu kehadiran orang nomor satu di provinsi.
Alih-alih penanganan cepat, warga justru disuguhi janji-janji saat gubernur menepuk pundak dan memeluk Sukarno. Luthfi menyatakan dinas terkait telah diinstruksikan untuk membantu sampai tuntas, namun instruksi ini baru muncul setelah kunjungan langsung, bukan sebagai bagian dari protokol penanganan bencana yang sigap.
Janji Manis di Tengah Penderitaan
Kunjungan Luthfi, yang seharusnya menjadi bentuk kepedulian, justru memperlihatkan jurang antara birokrasi dan penderitaan rakyat. Warga seperti Sukarno merasa terkejut dan terharu hanya karena didatangi pejabat tinggi, mengindikasikan bahwa interaksi langsung semacam ini adalah hal langka, bahkan di tengah krisis.
Janji bantuan dari Dinas Sosial dan Dinas PUPR Provinsi yang disebutkan Luthfi, seharusnya menjadi tindakan standar yang langsung berjalan begitu bencana terjadi, bukan menunggu kunjungan simbolis. Ini menggarisbawahi kegagalan sistematis dalam memberikan respons cepat dan efektif kepada warga yang paling membutuhkan.
Suara Korban yang Terabaikan
Sukarno, korban tanah amblas, hanya bisa mengungkapkan keterkejutannya. “Tidak menyangka saja didatangi Pak Gubernur,” ujarnya, didampingi istrinya, Suparti.
Gubernur Luthfi mencoba menenangkan dengan janji. “Mboten usah nangis. Pak Karno sampun dibantu, mboten usah nangis, sing kuat, mboten usah akeh mikir. Biar Bupati dan saya yang mikir. Ini Pak Bupati juga ke sini, nanti Dinas Sosial dan Dinas PUPR (Provinsi) juga akan bantu,” kata Luthfi.
Namun, Suparti, istri Sukarno, lebih realistis. “Saya tidak bisa berkata-kata. Cuma mohon segera diperbaiki saja, agar tidak menumpang di rumah orang terus. Sama bantuan lain seperti sembako, karena suami juga sudah tidak kerja karena stroke,” pintanya, mengungkapkan kebutuhan konkret yang jauh melampaui sekadar kunjungan dan janji.
Tanah amblas yang terjadi pada Kamis siang itu bukan hanya merusak fisik rumah, tetapi juga menghantam mental dan ekonomi keluarga Sukarno. Dengan suami yang sudah tidak bekerja karena stroke, kebutuhan akan perbaikan rumah dan bantuan sembako menjadi sangat mendesak. Kunjungan gubernur, meski mengharukan, belum menjawab tuntas kapan dan bagaimana bantuan konkret tersebut akan benar-benar terealisasi untuk meringankan beban mereka.






