Ahmad Luthfi Pastikan: Hunian Sementara Siap untuk Pengungsi Tanah Gerak Tegal!
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi memastikan penanganan bencana tanah bergerak di Kabupaten Tegal. Fokus pada pemulihan jangka panjang, relokasi warga terdampak, serta penyediaan hunian sementara dan tetap. Infrastruktur rusak juga diprioritaskan. Sekitar 250 rumah terdampak dan 804 jiwa mengungsi. Pemerintah penuhi kebutuhan dasar.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mendesak penanganan komprehensif bencana tanah bergerak di Kabupaten Tegal, Rabu (4/2/2026), setelah ratusan rumah hancur dan 804 jiwa terpaksa mengungsi. Luthfi menuntut relokasi warga terdampak ke hunian layak dan aman, menolak solusi sementara yang hanya menguntungkan birokrasi tanpa kepastian bagi korban.
Desakan ini disampaikan Luthfi saat memimpin rapat koordinasi darurat di Posko Terpadu Kesehatan, Desa Padasari, Tegal. Ia secara eksplisit memerintahkan seluruh unsur siaga penuh, memastikan tidak ada kejadian susulan yang luput dari perhatian, dan segera menyiapkan hunian sementara bagi pengungsi.
PENANGANAN JANGKA PANJANG DITEKANKAN
Luthfi menyoroti kegagalan penanganan yang hanya berfokus pada tanggap darurat. “Kita tidak bisa hanya memberi bantuan lalu selesai,” tegasnya, menuntut pemerintah menyiapkan hunian sementara (huntara) hingga hunian tetap (huntap) secara terencana dan berkelanjutan. Kebutuhan dasar warga terdampak, mulai dari dapur umum hingga fasilitas sekolah, harus terpenuhi secara total, bukan sekadar janji-janji.
INFRASTRUKTUR DAN RELOKASI MENDESAK
Selain aspek kemanusiaan, percepatan penanganan infrastruktur terdampak menjadi prioritas utama. Luthfi mendikte Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Jawa Tengah dan pemerintah kabupaten untuk bergerak cepat. “Jalan dan jembatan itu prioritas. Kalau ada jembatan yang putus, dalam satu minggu harus clear, minimal tiga hari sudah tertangani,” katanya, menyoroti lambannya respons sebelumnya.
Gubernur juga menuntut pemulihan sosial jangka panjang, terutama mengingat sekitar 250 rumah dilaporkan “hilang” dan tidak mungkin dibangun kembali di lokasi semula. “Ini harus jadi prioritas. Dinas Sosial provinsi dan kabupaten harus memikirkan masa depan masyarakatnya,” ujarnya, mendesak pendataan detail warga yang akan direlokasi. Huntara harus diproyeksikan sebagai tahapan menuju huntap yang dilengkapi fasilitas umum lengkap, bukan sekadar tempat penampungan sementara.
KONDISI LAPANGAN KRITIS
Bupati Tegal Ischak Maulana Rohman melaporkan pergerakan tanah masih sangat dinamis, berdampak pada 250 rumah dan memaksa 804 jiwa mengungsi. Pemerintah Kabupaten Tegal telah menetapkan status Tanggap Darurat Bencana selama 14 hari, fokus pada pemenuhan kebutuhan dasar, logistik, layanan kesehatan, dan dapur umum yang menyiapkan 1.050 porsi makan. Bupati Ischak hanya bisa berterima kasih atas bantuan Rp 300 juta dari Gubernur, meski skala bencana menuntut lebih dari itu.
Rapat koordinasi ini dihadiri jajaran Forkopimda, unsur TNI, Polri, Basarnas, BPBD, serta perangkat daerah terkait, namun pertanyaan tetap muncul: apakah instruksi keras Gubernur akan diterjemahkan menjadi tindakan nyata yang cepat dan efektif, ataukah hanya berakhir sebagai retorika di tengah penderitaan warga?





