Akselerasi Ekonomi Jawa Tengah: Proyeksi Tumbuh 5,84% di Akhir 2025, Berlanjutkah?
Ekonomi Jawa Tengah tumbuh 5,84% (yoy) pada triwulan IV 2025, melampaui regional dan nasional. Sepanjang 2025, pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah mencapai 5,37%. Kinerja positif ini didorong konsumsi rumah tangga, investasi, serta sektor industri pengolahan yang solid. Bank Indonesia terus bersinergi menjaga pertumbuhan berkelanjutan di daerah.

Jawa Tengah mencatatkan pertumbuhan ekonomi impresif 5,84 persen (year on year/yoy) pada triwulan IV 2025, melampaui rata-rata regional Jawa dan nasional. Kinerja ini menandai akselerasi tajam di akhir tahun, didorong oleh lonjakan konsumsi rumah tangga dan investasi yang kuat, namun tetap menyisakan pertanyaan mengenai keberlanjutan daya tahan ekonomi di tengah gejolak global yang terus membayangi.
Pertumbuhan signifikan ini menempatkan Jawa Tengah di atas pertumbuhan ekonomi regional Jawa (5,80 persen) dan nasional (5,39 persen). Sepanjang tahun 2025, ekonomi provinsi ini tumbuh 5,37 persen, menguat dari 4,95 persen pada 2024.
Pendorong Kinerja Gemilang
Pendorong utama datang dari Konsumsi Rumah Tangga yang melonjak 4,44 persen (yoy), didukung optimisme konsumen dan program diskon besar di ritel modern akhir tahun. Investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) juga tumbuh solid 6,24 persen (yoy), dengan Kabupaten Kendal, Kota Semarang, Kabupaten Batang, Kabupaten Semarang, dan Kabupaten Demak menjadi magnet investasi paling menarik. Tak ketinggalan, Konsumsi Pemerintah meroket 9,11 persen (yoy) akibat percepatan realisasi belanja anggaran menjelang akhir tahun.
Dari sisi lapangan usaha, Industri Pengolahan tetap menjadi tulang punggung dengan pertumbuhan 5,18 persen (yoy), menunjukkan kekuatan manufaktur daerah. Sektor Perdagangan (5,26 persen) dan Konstruksi (6,85 persen) turut menyumbang positif, sejalan dengan ambisi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengejar target 94 persen jalan provinsi dalam kondisi mantap. Paling mencolok, sektor Akomodasi dan Makan Minum (Akmamin) melesat 13,97 persen (yoy) berkat bangkitnya pariwisata, ditandai pembukaan rute penerbangan internasional Bandara Ahmad Yani Semarang-Singapura. Sektor Jasa Keuangan mencatat pertumbuhan tertinggi 16,14 persen (yoy), sementara Pertanian pulih 4,06 persen (yoy) setelah sempat terkontraksi.
Klaim Bank Indonesia
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, M. Noor Nugroho, mengklaim kinerja ini “mencerminkan daya tahan ekonomi daerah yang tetap solid di tengah dinamika global.”
Ia menambahkan, “Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada triwulan IV 2025 menunjukkan momentum pemulihan yang semakin kuat, dengan permintaan domestik yang tetap terjaga serta investasi yang masih tumbuh positif.”
Tantangan di Balik Angka
Meski demikian, Nugroho menekankan perlunya “terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan untuk menjaga kesinambungan pertumbuhan.” Pernyataan ini menyiratkan bahwa momentum positif ini belum sepenuhnya stabil dan memerlukan intervensi berkelanjutan.
Bank Indonesia, lanjutnya, akan “terus mendorong pengendalian inflasi, penguatan investasi, serta akselerasi ekonomi digital dan inklusif agar pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah tetap berkelanjutan.” Ini menegaskan bahwa tantangan inflasi dan kebutuhan investasi masih menjadi prioritas utama, di balik angka pertumbuhan yang memukau.