Anatomi Kepemimpinan Pesantren: Mengapa Model Ini Unik dan Bertahan?

3 min read
Kepemimpinan Pesantren: Anatomi Model Unik yang Bertahan Lama

Kepemimpinan pesantren dipahami sebagai organisme hidup, bukan mekanis. Kiai berfungsi sebagai pusat kendali visi dan arah, didukung jaringan luas. KH. Mahrus Amin Darunnajah menerapkan sistem kepemimpinan kolektif. Konsep “all out” dan “lillāh” menjadi dua sayap kepemimpinan vital, mendorong totalitas membangun pesantren.

Kepemimpinan Pesantren: Anatomi Model Unik yang Bertahan Lama

Muhammad Irfanudin Kurniawan, Dosen Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta, membongkar ilusi kepemimpinan mekanis di pesantren. Ia menegaskan, kepemimpinan pondok pesantren beroperasi sebagai organisme hidup, menuntut totalitas dan pengorbanan yang menembus batas model manajerial konvensional. Analisis ini menelanjangi pandangan bahwa pemimpin cukup “berada di depan,” justru menuntut mereka membangun sistem di mana kepemimpinan tumbuh di setiap jaringannya.

Konsep “the law of the lead” yang lazim di perusahaan atau lembaga pemerintah, menurut Kurniawan, gagal menangkap esensi kepemimpinan pesantren. Ia bukan sekadar posisi, melainkan fungsi yang menyebar, menolak gagasan kepemimpinan tunggal yang statis.

Kepemimpinan Organik: Bukan Otak Mati

Kurniawan membandingkan kiai atau pengasuh dengan “otak” dalam tubuh manusia – pusat kendali yang memberi visi. Namun, ia memperingatkan, “otak tidak bekerja sendiri.” Visi tersebut harus hidup melalui “jaringan saraf” yang lebih luas: para ustadz, santri senior, pengurus, alumni, bahkan masyarakat sekitar. Tanpa jaringan ini, “otak hanyalah organ mati.”

Model kepemimpinan kolektif, seperti yang dibangun oleh KH. Mahrus Amin bersama KH. Abdul Manaf dan KH. Qomaruzzaman di Darunnajah, menjadi bukti nyata. Mereka sadar, “pohon pisang yang hanya punya satu batang akan rapuh.” Kepemimpinan harus bercabang, menciptakan “tunas-tunas” yang mandiri namun tetap membawa “DNA” yang sama. Ini menuntut pemimpin tidak hanya memimpin, tetapi juga menciptakan sistem yang memungkinkan kepemimpinan bergenerasi.

Kepemimpinan pesantren, tegas Kurniawan, bertumpu pada dua sayap yang tak boleh pincang: “all out” dan “lillāh”. “All out” berarti totalitas tanpa kompromi. Ia mengutip filosofi KH. Abdullah Syukri Zarkasyi dari Gontor yang menggertarkan hati: “Lambat terbabat, malas tergilas, berhenti mati, mundur hancur.” Ini bukan sekadar slogan, melainkan hukum alam organisasi yang kejam: siapa tidak bergerak total, akan tersingkir oleh zaman.

Totalitas Tanpa Syarat

Contoh nyata totalitas ini terlihat pada KH. Nawawi Thoyib di Sidogiri, yang merintis ekonomi pesantren dari nol demi membebaskan umat dari jeratan rentenir. Kini, BMT Sidogiri memiliki 256 cabang, buah dari kepemimpinan yang total. Pun demikian dengan KH. Hasyim Asy’ari di Tebuireng, yang mewariskan sanad keilmuan hingga ke seluruh Nusantara – sebuah warisan yang hanya lahir dari kepemimpinan yang “all out”.

“Kepemimpinan di pesantren bukan sekadar posisi, tapi fungsi yang menyebar ke seluruh jaringan,” tegas Muhammad Irfanudin Kurniawan dalam analisisnya. “Visi seorang kiai hanya akan hidup jika diterjemahkan dan dijalankan oleh seluruh elemen pesantren.”

Ia melanjutkan, “Pemimpin harus total. Tidak setengah-setengah. Filosofi ‘lambat terbabat, malas tergilas, berhenti mati, mundur hancur’ adalah realitas brutal yang harus dihadapi setiap pemimpin pesantren.”

“Tanpa komitmen ‘all out’ yang didasari ‘lillāh’, pesantren akan menjadi organisme yang rapuh, mudah tumbang oleh perubahan zaman,” pungkasnya.

Analisis Kurniawan secara telanjang menyoroti tuntutan ekstrem terhadap pemimpin pesantren, jauh melampaui ekspektasi kepemimpinan modern. Ia memaksa kita melihat kembali akar kepemimpinan sejati yang mengutamakan pengorbanan tanpa batas demi kelangsungan sebuah institusi yang tak hanya mendidik, tetapi juga membentuk peradaban.

More like this