Banjir Landa Jateng, Stok Pangan Aman: Ketahanan Pangan Jateng Teruji

2 min read
Banjir Landa Jateng, Stok Pangan Aman: Ketahanan Pangan Jateng Teruji

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memastikan ketahanan pangan aman, meski ada banjir. Produksi pangan daerah ini surplus, bahkan menopang kebutuhan nasional. Neraca beras surplus 702.409 ton per Maret 2026. Petani terdampak bencana dilindungi asuransi. Berbagai program dukungan pertanian dan modernisasi terus digalakkan untuk menjaga stabilitas.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi secara tegas menyatakan persediaan pangan di wilayahnya “aman” dan surplus, bahkan mampu menopang kebutuhan nasional, meskipun sejumlah daerah baru saja dilanda banjir. Klaim ini disampaikan Luthfi di Surakarta, Selasa (7/4/2026), namun memicu pertanyaan serius tentang realitas ketahanan pangan di tengah ancaman bencana dan potensi masalah distribusi yang belum terselesaikan.

Pernyataan Luthfi, yang disampaikan usai menghadiri open house HUT ke-10 Tribun Solo, menyoroti data surplus beras 702.409 ton per Maret 2026. Namun, angka tersebut gagal menjelaskan bagaimana pemerintah menjamin ketersediaan dan stabilitas harga di tingkat lokal, terutama bagi masyarakat terdampak banjir yang rentan.

Klaim Surplus di Tengah Tantangan

Data Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah memang menunjukkan neraca pangan relatif aman, dengan surplus beras, daging, dan telur pada periode Januari-Maret 2026. Luthfi juga menyebut skema perlindungan asuransi Jamkrida untuk petani terdampak bencana, seolah menjamin tidak ada kerugian signifikan.

Namun, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, justru menyoroti celah krusial: “Yang perlu menjadi perhatian berikutnya adalah distribusi agar surplus ini bisa merata, dan menjaga stabilitas harga.” Pernyataan ini secara implisit mengakui bahwa surplus di tingkat provinsi belum tentu berarti ketersediaan dan harga stabil di tingkat konsumen.

Indikator produksi hingga awal April 2026 juga menunjukkan realisasi yang bervariasi. Produksi padi baru mencapai 39,48 persen dari target, jagung 26,62 persen, dan kedelai hanya 1,44 persen. Komoditas hortikultura seperti bawang merah (23,45 persen) dan cabai (17,72 persen) juga masih jauh dari target. Angka-angka ini menimbulkan keraguan atas klaim “ketahanan pangan kuat” yang digembar-gemborkan.

Realisasi produksi yang rendah pada beberapa komoditas strategis, ditambah dengan tantangan distribusi, menunjukkan bahwa klaim surplus mungkin hanya gambaran parsial. Ancaman inflasi dan kelangkaan lokal tetap membayangi, terutama jika program-program pemerintah tidak dieksekusi secara efektif dan cepat.

Optimisme Gubernur vs. Realitas Lapangan

“Kondisi pangan kita surplus, jadi swasembada pangan kita kuat,” ujar Luthfi, mencoba meyakinkan publik. Ia menambahkan, “Kalau ada sawah yang terkena bencana, kita cover dengan asuransi Jamkrida, sehingga masyarakat petani kita bisa terangkat.” Pernyataan ini terdengar optimis, namun minim detail tentang mekanisme dan kecepatan pencairan asuransi bagi petani yang terpuruk.

Kontras dengan optimisme Luthfi, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan, Frans,

Banjir Landa Jateng, Stok Pangan Aman: Ketahanan Pangan Jateng Teruji
Banjir Landa Jateng, Stok Pangan Aman: Ketahanan Pangan Jateng Teruji
Banjir Landa Jateng, Stok Pangan Aman: Ketahanan Pangan Jateng Teruji
Banjir Landa Jateng, Stok Pangan Aman: Ketahanan Pangan Jateng Teruji
Banjir Landa Jateng, Stok Pangan Aman: Ketahanan Pangan Jateng Teruji
Banjir Landa Jateng, Stok Pangan Aman: Ketahanan Pangan Jateng Teruji
Banjir Landa Jateng, Stok Pangan Aman: Ketahanan Pangan Jateng Teruji
Banjir Landa Jateng, Stok Pangan Aman: Ketahanan Pangan Jateng Teruji
More like this