BRI Genjot Segmen Konsumer Lewat Bank Emas: Langkah Strategis Diversifikasi Pertumbuhan
PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) mengembangkan portofolio baru dan layanan bank emas. Ini bagian strategi diversifikasi usaha melalui BRIVolution Reignite untuk memperkuat pendapatan dan laba. Kinerja keuangan BRI Triwulan III 2025 menunjukkan pertumbuhan positif, didukung kenaikan DPK dan penyaluran kredit. Laba bersih mencapai Rp41,2 triliun.

PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Persero Tbk, pada Kamis (30/10) di Kantor Pusat BRI Jakarta, mengumumkan manuver agresif ke segmen konsumer dan layanan “bank emas” sebagai “Second Engines of Growth”. Klaim ini, untuk memperkuat struktur pendapatan dan menjaga ketahanan bisnis di tengah dinamika ekonomi global, memicu perdebatan tajam tentang komitmen BRI terhadap core business UMKM, bahkan saat laba bersih Triwulan III 2025 menyentuh Rp41,2 triliun.
Strategi Diversifikasi yang Mempertanyakan Fokus
Diversifikasi ini bukan sekadar perluasan biasa. BRI memperluas basis nasabah payroll di segmen konsumer, sekaligus menggenjot Kredit Pemilikan Rumah (KPR) melalui kerja sama dengan pengembang tier-1. Pembiayaan kendaraan bermotor (auto loan) pun digarap lebih dalam dengan memanfaatkan sinergi perusahaan anak, BRI Finance, yang kini didorong “bahu membahu” dengan induknya. Langkah ini mengindikasikan pergeseran prioritas, jauh dari citra bank rakyat yang merakyat.
Di lini “bank emas” atau bullion service, BRI memanfaatkan Pegadaian yang memiliki 4.000 cabang. Peluncuran super app “Tring” oleh Pegadaian memungkinkan pembelian emas secara digital. Kendati disebut sebagai strategi diversifikasi, penetrasi ke pasar emas digital ini membawa risiko volatilitas harga dan tantangan regulasi yang belum sepenuhnya teruji, berpotensi menguras sumber daya yang seharusnya bisa dialokasikan untuk penguatan UMKM.
Transformasi bisnis berkelanjutan melalui program “BRIVolution Reignite” yang dicanangkan BRI berfokus pada dua pilar: transformasi bisnis funding dan penguatan core business. Namun, ekspansi masif ke segmen konsumer dan bullion ini justru memunculkan keraguan apakah “penguatan core business” yang dimaksud masih relevan dengan semangat awal BRI, ataukah hanya retorika untuk menutupi ambisi korporasi yang lebih luas.
Ambisi di Balik “Second Engines”
Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, secara gamblang menyatakan bahwa strategi ini adalah “bagian dari strategi diversifikasi sumber pertumbuhan”. Ia menambahkan, “BRI juga terus mengembangkan ‘Second Engines of Growth’ melalui penguatan segmen konsumer dan pengembangan layanan bullion atau bank emas.” Pernyataan ini menegaskan bahwa fokus baru ini adalah pendorong utama pertumbuhan ke depan.
Hery juga menekankan sinergi dalam ekosistem BRI. “Bisnis pembiayaan kendaraan bermotor BRI akan mendorong perusahaan anak untuk bersinergi. Terkait auto loan kita akan terus bangun BRI Finance bahu membahu dengan BRI membangun bisnis KKB,” ujarnya. Mengenai bullion service, Hery menyebut Pegadaian “baru saja meluncurkan super app yang bernama Tring” demi memudahkan konsumen membeli emas digital, sebagai bagian dari strategi diversifikasi.
Kinerja Positif di Tengah Perubahan Arah
Hingga Triwulan III 2025, BRI memang menunjukkan kinerja positif dengan Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 8,2% yoy menjadi Rp1.474,8 triliun dan penyaluran kredit tumbuh 6,3% YoY menjadi Rp1.438,1 triliun. Laba bersih Rp41,2 triliun menjadi bukti kekuatan finansial. Namun, pertanyaan tetap menggantung: apakah diversifikasi agresif ini benar-benar langkah strategis yang menguntungkan jangka panjang, ataukah sekadar upaya panik mencari ladang baru di luar zona nyaman UMKM yang mungkin mulai tergerus.