Bukan KKN Biasa: Program SAYANG UMS Kelompok 19 Ubah Beban Jadi Harapan Warga Terdampak
Mahasiswa KKN-Dik UMS Kelompok 19 meluncurkan program SAYANG (Sayur Murah untuk Semua Orang). Ini adalah bazar sayur murah di Masjid Al-Barokah, Wonogiri, Jawa Tengah. Tujuannya meringankan beban masyarakat dari fluktuasi harga kebutuhan pokok. Program ini membantu jamaah pengajian Ahad pagi mendapatkan pangan sehat dan terjangkau.

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pendidikan (KKN-Dik) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Kelompok 19 menggelar bazar “SAYANG” (Sayur Murah untuk Semua Orang) di halaman Masjid Al-Barokah, Wonogiri, Jawa Tengah, Minggu (25/1). Program penjualan sayuran murah ini, dengan harga Rp3.000-8.000, menjadi cerminan nyata kegagalan pemerintah menstabilkan harga pangan di tengah jeritan ekonomi rakyat, memaksa mahasiswa turun tangan demi meringankan beban warga.
Krisis Harga Pangan: Mahasiswa Bertindak
Inisiatif mahasiswa UMS ini muncul sebagai respons langsung terhadap lonjakan kebutuhan pokok rumah tangga dan fluktuasi harga bahan pangan yang terus menghimpit. Mereka menyediakan sayuran dengan harga yang diklaim “ramah” bagi masyarakat, khususnya jamaah pengajian Ahad pagi. Kondisi ini menyoroti betapa rentannya daya beli masyarakat dan lambannya intervensi kebijakan yang efektif.
Kolaborasi dengan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Purwantoro dan Pimpinan Cabang Nasyiatul Aisyiyah (PC NA) Purwantoro mengindikasikan bahwa masalah harga pangan bukan lagi domain pemerintah semata, melainkan telah merembet menjadi isu sosial yang membutuhkan uluran tangan komunitas. Namun, ketergantungan pada program karitatif seperti ini justru membuktikan absennya solusi struktural yang berkelanjutan dari pemangku kebijakan.
Kegiatan ini, meski disambut antusias, adalah solusi parsial yang hanya menyentuh sebagian kecil masalah. Bazar sayur murah hanya berlangsung sesaat, tidak menawarkan jaminan stabilitas harga jangka panjang atau akses merata bagi seluruh lapisan masyarakat yang terbebani. Ini adalah tamparan keras bagi rezim yang kerap menggembar-gemborkan ketahanan pangan.
Suara dari Lapangan
Nida Munfa’ati, Pimpinan Cabang Nasyiatul Aisyiyah, memuji kegiatan ini, “Program yang telah dilaksanakan sangat bagus dan memuaskan, kegiatannya mendidik, menyenangkan, dan mampu memunculkan ide kreatif serta membaur dengan masyarakat selain itu program ini juga dapat menginspirasi masyarakat luas. Harapan kedepannya semoga bisa terus berkembang, lebih kompak, dan silaturahmi tetap terjaga.” Pujian ini, walau tulus, secara implisit menggarisbawahi kegagalan sistemik yang membuat inisiatif semacam ini terasa “luar biasa” padahal seharusnya menjadi tanggung jawab negara.
Rafi Ihsan Murtadha, salah satu jamaah, mengutarakan harapannya, “Tetap diadakan terus tidak harus di pengajian saja, karena kegiatan seperti ini harapannya bisa lebih banyak lagi diimplementasikan di berbagai kesempatan. Selain membawa manfaat sosial, kegiatan ini juga disambut antusias oleh Masyarakat karena kegiatan ini sangat membantu, apalagi harga sayur nya murah banget dan mudah di jangkau.” Permintaan agar program ini terus diadakan adalah bukti nyata bahwa masyarakat masih mencari pegangan di tengah ketidakpastian ekonomi.
Pertanyaan Mendesak bagi Kebijakan Negara
Latar belakang program SAYANG ini adalah kondisi ekonomi riil di lapangan, di mana inflasi dan gejolak harga pangan telah menjadi momok sehari-hari. Sementara mahasiswa berusaha menambal lubang, pertanyaan besar tetap menggantung: sampai kapan rakyat harus bergantung pada belas kasihan, bukan pada kebijakan ekonomi yang adil dan stabil?