Bukan Manja, Anak Bungsu: Dilema Pahit Antara Meraih Cita
Ada yang bilang anak bungsu itu selalu dimanja, sehingga hidupnya tak seberat kakak-kakak mereka. Usia mereka pun paling muda jadi mereka paling disayang oleh orang tuanya. Mau sebesar apapun fisik anak bungsu, orang tua akan tetap menganggap mereka anak paling kecil. Jadinya, saudara yang lain selalu diminta untuk mengalah pada mereka. Terdengar istimewa, tapi sebetulnya di dalam hatinya penuh perasaan dilema. Sebagai anak bungsu dari 5 bersaudara, saya mengamini narasi di atas. Saya kerap merasa dianggap anak kecil oleh orang tua saya. Tapi, hal itu bukan berarti hidup kami, para anak bungsu ini, penuh bahagia tanpa depresi. Kami selalu dihantui oleh perasaan ketakutan tak bisa membalas jasa orang tua kita. Apalagi di usia kami yang menyentuh 25, orang tua kami pun sudah masuk usia senja. Ditinggal saudara dan dituntut membahagiakan orang tua Saat anak bungsu masuk usia 25 tahun hal yang paling mungkin terjadi yakni saudara mereka telah berkeluarga. Bukan hanya punya pasangan, tapi masing-masing dari mereka sudah punya anak yang membutuhkan kasih sayangnya. Maka, hal demikian sudah maklum kalau perhatian mereka akan terpecah. Hidup tak bisa lagi sepenuhnya untuk orang tua, apalagi adiknya. Tentu, kasih sayang yang paling utama adalah untuk anaknya sendiri. Kita tak perlu memungkiri hal ini, setiap orang pasti punya prioritas masing-masing. Nah, dari kondisi tersebut siapa lagi yang bisa diharapkan harus selalu ada untuk orang tua selain anak bungsu. Anak bungsu adalah komposisi paling ideal untuk menemani orang tua. Katanya, masih muda, jalannya masih panjang, hanya buang-buang waktu kalau cuma buat senang-senang di luar. Lebih baik menemani orang tua saja di rumah! Ya, hal tersebut memang betul. Tapi, ketika kakak-kakak kita sudah pindah, pastilah rumah terasa sangat berubah. Terasa sepi dan sunyi! Ingin berkontribusi, tapi belum jadi apa-apa Anak bungsu bukan tidak mau membantu dan membahagiakan orang tua, tapi apa yang bisa diharapkan dari manusia berusia 25 tahun. Di usia itu, anak bungsu baru saja meniti karir. Gajinya nggak seberapa, bahkan banyak yang masih jauh dari UMR. Berbeda kalau sudah menyentuh usia 30an, mungkin finansial mereka sudah agak stabil dan mapan. Saya sebut mungkin ya karena sebetulnya sulit juga untuk mencapainya! Oke, katanya, orang tua hanya butuh tinggal bersama anaknya, bukan duitnya. Tapi, kami sebagai anaknya juga membatin, “apakah kita cuma jadi beban saja di keluarga?” Di sisi lain, memang hanya anak bungsu yang jadi harapan terakhir orang tua. Sebab sekali lagi, kakak-kakak mereka sudah berkeluarga semua. Anak bungsu harus menggeser dulu cita-cita Konon katanya, manusia itu akan terus hidup jika punya harapan dan cita-cita. Dengan cita-cita, kita akan memiliki rencana yang harus dilakukan, mana yang perlu dikejar, dan jalan mana yang akan kita lewatkan. Intinya, akan lebih tersusun. Tapi, bagi anak bungsu, harapan dan cita-cita itu kadang harus digeser dulu. Ya, nanti-nanti dulu aja kali ya. Hal ini bukan karena anak bungsu itu santai, malas, atau manja, tetapi karena cita-cita mereka berada pada orang tuanya. Yang paling utama adalah bagaimana orang tua mereka bahagia. Sebab, melihat usia orang tua yang semakin senja seperti tidak ada waktu lain untuk mengejar cita-cita. Demikianlah nasib anak bungsu yang penuh dilema. Luarnya saja terlihat seperti anak kecil, padahal di dalamnya mereka juga pusing! Nah maka dari itu, mewakili para anak bungsu di dunia, saya ingin berpesan kepada kakak-kakak sekalian sebelum tulisan ini ditutup. Tengoklah sejenak adik dan orang tua kalian. Pasti mereka merasa sepi. Terkadang kasih sayang bukan cuma tentang uang kok, tapi juga kehadiran yang tulus dari orang-orang tersayang! Penulis: Abdur Rohman Editor: Kenia Intan BACA JUGA Jadi PNS di Desa Tidak Bisa Hidup Tenang, Tuntutan Sosialnya Tinggi karena Dikira Mapan dan Serba Bisa. Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya. Terakhir diperbarui pada 17 April 2026 oleh Kenia Intan

Anak bungsu di Indonesia terperangkap dalam dilema psikologis berat, memikul beban ekspektasi membahagiakan orang tua yang menua sementara saudara-saudara telah berkeluarga. Stereotip “anak manja” menyembunyikan kenyataan pahit: mereka seringkali merasa sendirian, dihantui ketakutan tidak mampu membalas jasa, dan terpaksa mengesampingkan cita-cita pribadi. Beban ini memuncak ketika mereka memasuki usia 25 tahun, saat orang tua mencapai usia senja.
Kondisi ini menciptakan tekanan mental ekstrem. Saat kakak-kakak fokus pada keluarga dan anak mereka sendiri, perhatian terhadap orang tua praktis teralihkan. Anak bungsu otomatis menjadi tumpuan terakhir, terjebak dalam tuntutan untuk selalu hadir di rumah, padahal di usia tersebut mereka justru sedang merintis karier dengan finansial yang belum stabil.
Beban Psikologis dan Ekspektasi yang Mencekik
Rumah yang dulu ramai berubah sunyi saat saudara-saudara beranjak pergi, meninggalkan anak bungsu dalam kesendirian. Ekspektasi agar anak bungsu menemani orang tua menjadi sebuah paksaan tak tertulis, dilabeli sebagai “pembuang waktu” jika mencoba mengejar kehidupan di luar. Padahal, justru pada usia 25 tahun inilah banyak anak bungsu baru memulai perjuangan karir, jauh dari kemapanan finansial.
Tuntutan “hanya butuh tinggal bersama” dari orang tua semakin menghimpit. Anak bungsu memendam pertanyaan pedih, “apakah kita cuma jadi beban saja di keluarga?” Perasaan ini makin kuat karena mereka tahu, di antara semua anak, hanya merekalah yang tersisa sebagai “harapan terakhir” orang tua. Situasi ini bukan pilihan, melainkan kondisi yang dipaksakan oleh dinamika keluarga dan usia.
Mereka bukan tak mau berkontribusi; justru keinginan itu sangat kuat. Namun, realitas gaji yang kerap jauh di bawah Upah Minimum Regional (UMR) di awal karier menghambat. Harapan untuk membahagiakan orang tua terbentur kenyataan finansial yang belum memadai, menambah rasa bersalah dan tekanan.
Cita-Cita Tergeser oleh Prioritas Orang Tua
Dalam kondisi serba sulit ini, cita-cita dan harapan pribadi anak bungsu kerap terpaksa bergeser. “Ya, nanti-nanti dulu aja kali ya,” menjadi ungkapan getir. Ini bukan cerminan kemalasan, melainkan prioritas mendesak yang dipicu oleh usia orang tua yang semakin senja. Mereka merasa waktu untuk membahagiakan orang tua terbatas, mendorong cita-cita mereka sendiri ke urutan kedua.
“Kami selalu dihantui oleh perasaan ketakutan tak bisa membalas jasa orang tua kita,” ungkap Abdur Rohman, seorang anak bungsu yang menyuarakan dilema ini. Ia menegaskan, “Di usia kami yang menyentuh 25, orang tua kami pun sudah masuk usia senja.”
Rohman juga menyoroti ironi lain. “Oke, katanya, orang tua hanya butuh tinggal bersama anaknya, bukan duitnya. Tapi, kami sebagai anaknya juga membatin, ‘apakah kita cuma jadi beban saja di keluarga?'” Perasaan menjadi beban, walau tidak diucapkan, merayap dan memakan mental.
“Demikianlah nasib anak bungsu yang penuh dilema. Luarnya saja terlihat seperti anak kecil, padahal di dalamnya mereka juga pusing!” pungkas Rohman, menyingkap kepahitan di balik citra anak bungsu yang dimanja. Ia menyerukan kakak-kakak untuk menengok adik dan orang tua mereka, mengingatkan bahwa kehadiran tulus kadang lebih berharga dari sekadar uang.
Fenomena ini kontras dengan anggapan umum bahwa anak bungsu hidup paling manja dan bebas beban. Realitas justru menunjukkan mereka memikul tanggung jawab emosional dan praktis yang tak terlihat, terjebak antara hasrat mengejar masa depan dan kewajiban moral terhadap orang tua yang menua, seringkali sendirian menghadapi dinamika keluarga yang berubah.