Bukan Naik Haji, Syahadat Adalah Rukun Islam Terberat Sebenarnya

3 min read
Syahadat: Rukun Islam Tersulit Sesungguhnya, Bukan Haji

Rukun Islam terdiri dari syahadat, salat, zakat, puasa, dan haji. Meskipun ibadah haji dikenal sulit karena biaya dan antrean, syahadat justru dianggap sebagai rukun Islam paling menantang. Artikel ini membahas mengapa keyakinan syahadat, yang merupakan fondasi iman, memerlukan perjuangan seumur hidup bagi setiap muslim.

Syahadat: Rukun Islam Tersulit Sesungguhnya, Bukan Haji

Sebuah pemikiran kritis menggemparkan pemahaman umum umat Islam: syahadat, rukun Islam pertama, diidentifikasi sebagai ibadah paling sulit ditegakkan, menepis anggapan haji sebagai puncak kesulitan. Penulis Dyan Arfiana Ayu Puspita secara lugas menyatakan ini, menggarisbawahi bahwa rukun yang dianggap “cuma modal mangap” itu justru menuntut komitmen tanpa henti, setiap detik, hingga napas terakhir.

Deklarasi ini muncul dari refleksi mendalam, menyoroti bagaimana haji dibatasi kemampuan finansial dan fisik, sementara syahadat-akar dari seluruh rukun-terus-menerus diuji oleh goyahnya hati dan godaan duniawi. Penulis menuding umat muslim seringkali gagap dalam mengaktualisasikan syahadat, menunjukkan jurang antara pengucapan dan penghayatan keyakinan.

Menggugat Persepsi Umum: Haji Bukan yang Terberat

Argumen Puspita bermula dari perbandingan gamblang. Ibadah haji, meski menuntut biaya rata-rata Rp87,4 juta per jemaah untuk 2026, antrean panjang hingga puluhan tahun, serta kekuatan fisik ekstrem di tengah kerumunan dan terik matahari, tetap memiliki batasan yang jelas: “bagi yang mampu.”

Namun, batasan “kemampuan” itu tidak berlaku bagi syahadat. “Mengucapkan syahadat sebagai salah satu rukun Islam memang hanya butuh waktu beberapa detik. Tapi menghidupkannya? Ya Allah, itu benar-benar perjuangan seumur hidup,” tulis Puspita. Ia menegaskan, syahadat harus diamalkan setiap detik, tanpa jeda, tanpa pengecualian, hingga akhir hayat.

Syahadat bukan sekadar “simbol login” ke Islam, melainkan fondasi keyakinan mutlak terhadap keesaan Allah dan kenabian Muhammad. Puspita menyoroti kerapuhan hati manusia yang “mudah sekali beriak, mudah sekali dibolak-balikkan,” menjadikannya medan perang spiritual tiada akhir.

Ia mencontohkan, kecemasan berlebihan akan materi, kemarahan karena dicurangi, atau bahkan pertanyaan skeptis, “Kenapa harus aku ya, Rabb? Kenapa?” saat diterpa masalah, adalah bukti nyata kegagalan menjaga syahadat. Keyakinan sejati seharusnya meniadakan cemas dan keraguan pada kehendak Ilahi.

Kesenjangan kian melebar pada syahadat rasul. Puspita mengkritik dirinya sendiri dan umat muslim yang gagal meneladani sifat Nabi Muhammad-SAW. Ali-alih bebas ghibah, tekun membaca Al-Quran, atau ikhlas beramal, banyak yang justru menikmati gosip, malas ibadah, dan mengharapkan pujian. “Apakah hanya sebatas teles-teles lambe alias formalitas saja?” ia menyentak.

Pengakuan Jujur: Gagal Menjaga Syahadat

Puspita secara jujur mengakui pergulatan pribadinya. “Di situlah saya merasa sangat gagal. Syahadat saya ternyata belum meresap ke hati. Ini jadi bukti bahwa syahadat adalah rukun Islam yang paling sulit,” tulisnya getir.

Ia bahkan merinci kekalahan atas godaan duniawi, “Saya jadi ingat saya pernah mewek gara-gara duit ilang. Marah karena merasa dicurangi juga pernah. Dan sering pula kepala ini migrain karena mikir tentang masa depan.” Ini, katanya, menunjukkan syahadatnya belum mendarah daging.

Lebih pedih lagi, Puspita menanyakan relevansi syahadat rasul yang terucap saat salat. “Bukankah seharusnya, syahadat rasul itu mampu membawa diri ini untuk meneladani sifat-sifat Nabi? Nyatanya? Ya, gitu deh. Kadang ingat, seringnya nggak. Menyedihkan sekali memang,” ujarnya, mengungkap keputusasaan.

Fondasi Runtuh, Rukun Lain Goyah

Puspita menyimpulkan, setiap hari adalah “peperangan untuk menjaga syahadat.” Bohong demi keuntungan, iri pada nikmat orang lain, atau cemas berlebihan pada masa depan, semua adalah ujian syahadat.

Posisi syahadat di rukun Islam nomor satu bukan tanpa alasan. “Karena sejatinya, syahadat adalah kunci dari rukun-rukun yang lain. Ketika rukun Islam yang pertama mampu kita jaga, maka pintu-pintu rukun yang lain akan terbuka,” Puspita menekankan, memaksa umat muslim untuk merenungkan kembali pondasi imannya di tengah modernitas yang menggerus keyakinan.

More like this