Bukan Sekadar Papan Tulis: Guru Bogor Ungkap Papan Digital Interaktif Ubah Murid Malas Jadi Rajin

3 min read
Papan Digital Interaktif: Guru Bogor Sukses Ubah Murid Malas Jadi Rajin

Papan digital interaktif meningkatkan antusiasme belajar siswa dan kehadiran di SDN 02/03 Leuwibatu, Rumpin, Bogor. Guru kelas 6 Acep Zainal Mutakin melaporkan siswa lebih aktif serta tingkat kehadiran mencapai 100%. Teknologi pendidikan ini mendukung digitalisasi pembelajaran, memudahkan guru, dan siswa memahami materi lebih cepat.

Papan Digital Interaktif: Guru Bogor Sukses Ubah Murid Malas Jadi Rajin

Papan digital interaktif berhasil membangkitkan gairah belajar siswa SDN 02/03 Leuwibatu, Rumpin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, sekaligus menyingkap problem serius minimnya fasilitas dan motivasi belajar di daerah terpencil. Sejak dipasang setahun lalu, alat ini mendongkrak tingkat kehadiran siswa hingga 100 persen, sebuah indikator mengejutkan dari kondisi pendidikan sebelumnya.

Perangkat tersebut mengubah drastis perilaku belajar murid. Dari pasif menyalin buku, kini mereka aktif melihat, memahami, dan menulis langsung di layar interaktif. Tingkat kehadiran mencapai angka sempurna, menghilangkan absensi yang sebelumnya jadi masalah.

Perangkat Mengungkap Kesenjangan

Alat ini membalikkan kebiasaan belajar pasif siswa yang hanya menyalin dari buku. Kini, mereka aktif melihat, memahami, dan menulis langsung di papan digital. Guru kelas 6, Acep Zainal Mutakin, mencatat fenomena langka: tingkat kehadiran murid mencapai angka sempurna sejak perangkat ini hadir.

Papan digital interaktif itu sendiri bukan barang baru, namun kehadirannya di SDN 02/03 Leuwibatu justru menyoroti jurang fasilitas pendidikan antara kota dan desa. Perangkat ini disebut relevan dengan generasi yang terbiasa digital, seolah-olah pendidikan di pedalaman baru menyentuh era modernisasi melalui satu perangkat.

Sebelumnya, para pengajar harus menenteng tumpukan buku fisik setiap hari. Kini, seluruh materi pembelajaran tersimpan digital, bahkan dapat diakses tanpa koneksi internet – sebuah kemudahan yang ironisnya baru terasa setelah kedatangan teknologi.

Papan interaktif ini didapat sekolah setahun lalu melalui program revitalisasi pemerintah. Pengadaan ini, meski disambut gembira, secara tersirat mengakui bahwa pemerataan fasilitas pendidikan masih menjadi pekerjaan rumah besar.

Para guru kini termotivasi untuk belajar digitalisasi, menandakan bahwa sebelumnya, dorongan atau kesempatan untuk adaptasi teknologi mungkin minim.

Kesaksian Guru

“Sangat ada yang berubah dari sikap anak-anak, kegembiraan, keceriaan ketika pembelajaran,” ujar Acep Zainal Mutakin, guru kelas 6, seperti dikutip dari program Sinergi Indonesia. “Dan semenjak kehadiran papan interaktif hadir, absensi anak-anak semuanya alhamdulillah setiap hari itu full. Tidak ada yang absen sama sekali.”

Acep menambahkan, perangkat ini diharapkan memicu motivasi siswa. “Saya ingin anak-anak bisa lebih termotivasi kembali untuk mengejar cita-citanya melalui pembelajaran ini,” katanya.

“Saya merasa senang sekali ketika mendapatkan bantuan papan interaktif seperti itu. Ternyata pemerintah pun memperhatikan sekolah seluruh Indonesia, jadi tidak hanya di perkotaan saja,” ungkap Acep, menggarisbawahi kesan bahwa perhatian terhadap daerah terpencil ini adalah hal yang baru.

Tantangan Pemerataan

Komitmen pemerintah dalam pemerataan akses teknologi pendidikan hingga ke desa memang tampak dari pengadaan ini. Namun, harapan Acep agar “setiap kelas dapat memiliki fasilitas serupa” di masa depan menunjukkan bahwa satu papan digital untuk satu sekolah masih jauh dari solusi menyeluruh.

Para pengajar dan murid kini berkomitmen merawat perangkat ini, mencabut instalasi listrik setelah belajar dan membatasi akses siswa. Sebuah upaya menjaga aset yang berharga, sekaligus pengingat betapa langkanya fasilitas semacam ini di wilayah mereka.

More like this