Bulog Targetkan Ekspor Beras Premium ke Arab Saudi: Misi Krusial Tahun Ini Dimulai
Perum BULOG membidik ekspor beras premium ke Arab Saudi, menawarkan produk Beras Haji Nusantara kepada importir setempat. Pangan Indonesia ini bertujuan memenuhi kebutuhan jemaah Haji dan Umrah. Beras super premium ini mendapat respons positif, dinilai pulen dan sesuai selera pasar. Pengiriman awal 2.280 ton beras dijadwalkan Februari 2026.

Perum BULOG memulai langkah ambisius menembus pasar Arab Saudi, menawarkan produk “Beras Haji Nusantara” kepada importir di Jeddah. Manuver ini bukan sekadar penjajakan, melainkan upaya mendesak memperluas jangkauan pangan Indonesia bagi jemaah Haji dan Umrah, dengan target pengiriman awal 2.280 ton beras premium pada minggu ketiga Februari 2026.
Langkah ini menyusul penetapan rencana ekspor oleh pemerintah dalam Rapat Koordinasi Terbatas Bidang Pangan pekan lalu, menyoroti tekanan pada BULOG untuk segera merealisasikan target pasar global di tengah fluktuasi pasokan domestik.
Detail Penjajakan Krusial
Penawaran agresif ini berlangsung dalam acara “Bridging Supply and Service: Business Matching for Indonesian F&B Distributors and Hajj Catering Providers” yang digelar Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Jeddah. Di sana, importir langsung dihadapkan pada uji cita rasa, membandingkan beras Indonesia dengan produk pesaing.
Hasil uji coba diklaim “positif” oleh BULOG, dengan importir menyebut tekstur pulen, aroma baik, dan cita rasa sesuai preferensi pasar Arab Saudi. Klaim ini menjadi fondasi optimisme BULOG di tengah persaingan ketat pasar beras global yang sudah mapan.
BULOG mengklaim “Beras Haji Nusantara” sebagai produk super premium, diolah dari gabah segar petani Indonesia melalui mesin penggilingan modern. Standar mutu tinggi, kadar air terjaga, tingkat pecahan rendah, serta uji laboratorium dan standar ekspor disebut sebagai jaminan kualitas. Namun, validitas klaim “super premium” ini masih perlu dibuktikan di pasar nyata, bukan sekadar presentasi.
Optimisme BULOG tidak berhenti di sana. Perusahaan pelat merah ini menyatakan keyakinan bahwa importir di Makkah, Madinah, dan Jeddah mampu menyerap beras dalam “jumlah signifikan.” Sebuah pernyataan berani mengingat fase awal penjajakan pasar.
Pengiriman tahap awal 2.280 ton beras ini bukan hanya untuk kebutuhan jemaah haji tahun ini, tetapi juga menjadi pintu masuk Indonesia ke rantai pasok pangan sektor Haji dan Umrah di Arab Saudi. Ini menandai ambisi pemerintah untuk tidak sekadar menjual produk, tetapi menguasai segmen pasar krusial.
Optimisme dan Klaim
Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, mencoba memompa semangat atas respons awal. “Setelah pemaparan dan uji cita rasa bersama para importir, respons yang kami terima sangat baik dan cukup menarik minat mereka,” ujar Ahmad, tanpa merinci detail volume atau komitmen kontrak riil.
Ia menambahkan, klaim “Beras Haji Nusantara” sebagai produk kebanggaan dan kehormatan bagi bangsa Indonesia menjadi sorotan. “Harapan kami, langkah ini menjadi berkah bagi bangsa Indonesia sekaligus memperkuat posisi produk pangan nasional di pasar internasional,” tambahnya, mengesankan lebih pada narasi patriotisme ketimbang strategi bisnis konkret.
Pernyataan ini mengindikasikan bahwa di balik ambisi ekspor, ada pula beban politik dan harapan besar dari pemerintah yang diemban BULOG.
Mandat Pemerintah
Langkah penetrasi pasar ini memang tidak lepas dari instruksi langsung pemerintah. Rapat Koordinasi Terbatas Bidang Pangan pekan lalu secara eksplisit menetapkan rencana pengiriman awal beras premium ini, memposisikan BULOG sebagai pelaksana kebijakan yang harus segera menunjukkan hasil.