China Buka Gerbang Luar Angkasa: Tiket Rp7,3 Miliar, Siapa Berani Terbang?

2 min read
China's Space Tourism: $470K Ticket. Who Dares to Fly?

InterstellOr, perusahaan antariksa komersial Beijing, membuka pemesanan tiket penerbangan suborbital. Wisata luar angkasa ini menggunakan kapsul CYZ1 untuk melintasi Garis Karman (100 km). Dengan harga 3 juta yuan (Rp7,3 miliar), China serius memasuki industri antariksa komersial, bersaing di pasar global.

China's Space Tourism: $470K Ticket. Who Dares to Fly?

InterstellOr, perusahaan antariksa komersial asal Beijing, secara agresif membuka pemesanan tiket penerbangan suborbital untuk wisata luar angkasa. Langkah ini menancapkan ambisi China dalam industri antariksa komersial global, dengan harga tiket fantastis Rp 7,3 miliar per orang. Ini memicu perlombaan baru di mana perjalanan ke angkasa bukan lagi monopoli negara, melainkan komoditas mewah yang hanya bisa dijangkau segelintir pihak.

Perusahaan yang baru berdiri Januari 2023 ini tidak main-main. Mereka telah memperkenalkan kapsul awak eksperimental CYZ1 pada 22 Januari 2026, dirancang khusus membawa penumpang melintasi Garis Karman di ketinggian 100 kilometer. Target penerbangan berawak pertama dijadwalkan pada 2028, jika seluruh pengujian berjalan mulus.

Penumpang dijanjikan merasakan kondisi mikrogravitasi selama beberapa menit. Momen tanpa bobot inilah kemewahan yang hanya bisa dibeli oleh segelintir miliarder, sebelum kapsul kembali memasuki atmosfer.

Harga 3 juta yuan—setara Rp 7,3 miliar—per tiket, dengan uang muka 10 persen, mengukuhkan wisata antariksa sebagai arena eksklusif. Angka ini sejalan dengan tarif global, namun tetap menyoroti jurang kesenjangan akses terhadap teknologi mutakhir.

Untuk memancing minat, InterstellOr menggandeng aktor ternama China, Johnny Huang Jingyu, sebagai penumpang selebritas pertama dengan nomor penerbangan “009”. Lin Xiaoyan, seorang penyair China-Amerika, juga diklaim sebagai perempuan Tionghoa perantauan pertama yang akan terbang. Ini jelas strategi pemasaran untuk membangun kepercayaan di pasar yang masih meragukan.

Ambisi Beijing Menantang Dominasi Barat

Langkah InterstellOr secara langsung menantang dominasi perusahaan Amerika Serikat seperti Blue Origin milik Jeff Bezos yang sudah lebih dulu mengoperasikan penerbangan suborbital. Di dalam negeri, persaingan juga memanas dengan CAS Space dan Deep Blue Aerospace yang mengembangkan teknologi serupa.

Ini bukan sekadar wisata, melainkan pertarungan geopolitik dan ekonomi baru di ruang angkasa. China, yang selama ini dikenal kuat dalam misi ilmiah dan militer, kini agresif mengukir jejak di pasar komersial, mengubah fiksi ilmiah menjadi realita mahal yang membuka babak baru perlombaan ke angkasa.

More like this