Cuaca Ekstrem Mengintai, PLN Yogyakarta Pastikan Listrik Aman di Puncak Musim Hujan
PLN dan masyarakat Gunungkidul bersinergi melakukan rabas-rabas jaringan listrik di Saptosari dan Semin. Upaya ini menjaga keandalan pasokan listrik di DIY saat cuaca ekstrem. Pemangkasan vegetasi sekitar jaringan memitigasi gangguan kelistrikan, memastikan layanan listrik tetap optimal bagi warga.

PLN mengerahkan ratusan personel dan puluhan alat berat ke Kabupaten Gunungkidul, DIY, Minggu (8/2), dalam operasi pemangkasan vegetasi jaringan listrik. Langkah darurat ini mencuat saat cuaca ekstrem menerjang, mengindikasikan respons reaktif PLN terhadap ancaman pemadaman yang seharusnya dapat dicegah dengan pemeliharaan rutin.
Operasi Rabas-Rabas di Tengah Cuaca Ekstrem
Kegiatan “rabas-rabas” di Saptosari dan Semin ini, melibatkan PLN ULP Wonosari, BPBD Gunungkidul, Pemerintah Desa, Bhabinkamtibmas, serta warga. Mereka secara manual memangkas pohon-pohon yang menyentuh kabel, sebuah tugas inti pemeliharaan yang kini melibatkan partisipasi publik. Pemangkasan ini bertujuan membersihkan jaringan dari vegetasi yang menjadi pemicu utama gangguan saat hujan lebat dan angin kencang. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi DIY masih dalam puncak musim hujan, dengan potensi petir dan angin kencang, menempatkan infrastruktur listrik dalam risiko tinggi.
PLN UP3 Yogyakarta, yang mengaku telah melakukan patroli jaringan berkala dan inspeksi, kini baru memperkuat kesiagaan dengan mengerahkan 51 personel Tim Teknik, 6 personel Pekerjaan Dalam Keadaan Bertegangan (PDKB), 378 personel Tim Pelayanan Teknik (Yantek), dan 63 personel mitra kerja. Mobilisasi besar-besaran ini justru menyoroti urgensi yang mendadak.
Pengakuan dan Beban Tanggung Jawab
General Manager PLN Unit Induk Distribusi Jawa Tengah & D.I. Yogyakarta, Bramantyo Anggun Pambudi, menyatakan, “Kami sangat memahami bahwa padam tiba-tiba adalah hal yang paling dihindari oleh masyarakat karena mengganggu aktivitas.” Pernyataan ini menegaskan pemadaman adalah masalah krusial, namun pertanyaan tetap: mengapa mitigasi efektif baru gencar dilakukan saat ancaman nyata di depan mata?
Pelaksana Harian (PLH) Manager PLN UP3 Yogyakarta, Wiwit Supriyadi, menambahkan, “Kami tidak hanya meningkatkan kesiapsiagaan personel dan peralatan, tetapi juga memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah dan masyarakat melalui kegiatan preventif seperti rabas-rabas jaringan.” Keterlibatan masyarakat dalam “kegiatan preventif” ini justru membebankan tanggung jawab pemeliharaan infrastruktur vital kepada warga.
Untuk mendukung respons cepat, PLN menyiagakan 39 unit kendaraan roda empat, 24 unit roda dua, 9 unit crane, 6 unit Uninterruptible Power Supply (UPS), 18 Unit Gardu Bergerak (UGB), serta 20 unit genset portabel. Posko Siaga 24 jam juga dioperasikan, berkoordinasi dengan pemerintah daerah, TNI/Polri, dan BPBD. PLN mendesak masyarakat untuk “berperan aktif menjaga keselamatan dan keandalan infrastruktur kelistrikan,” serta melaporkan potensi gangguan via aplikasi PLN Mobile atau PLN 123. Imbauan ini, di tengah gempuran cuaca ekstrem, kembali menggeser sebagian beban pengawasan kepada konsumen.