Determinasi Sutarti: Dapur MBG Jadi Benteng Biayai Perang Anak Lawan Kanker Tulang & Cuci Darah

3 min read
Sutarti: Dapur MBG, Benteng Biaya Anak Melawan Kanker Tulang & Cuci Darah

Sutarti (56), warga Klaten, terbantu dapur Makan Bergizi Gratis (MBG). Layanan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) ini memungkinkannya membiayai pengobatan anak yang berjuang melawan kanker tulang dan gagal ginjal. Penghasilan pasti dari dapur MBG dekat rumah, sehingga Sutarti bisa merawat anaknya. Program ini sangat berarti bagi keluarga.

Sutarti: Dapur MBG, Benteng Biaya Anak Melawan Kanker Tulang & Cuci Darah

Seorang ibu di Klaten, Jawa Tengah, terpaksa menggantungkan hidup dan pengobatan kritis anaknya pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintah. Sutarti (56), warga Manisrenggo, kini bekerja di dapur MBG demi mendapatkan penghasilan pasti untuk membiayai perawatan putranya yang menderita kanker tulang dan gagal ginjal parah. Situasi ini menyoroti ketergantungan warga pada program karitatif di tengah rapuhnya jaring pengaman sosial dan akses kesehatan yang mahal.

Program Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Manisrenggo, Klaten, menjadi satu-satunya harapan Sutarti setelah perjuangan kerasnya sebagai pekerja bangunan berpenghasilan tak menentu. Keterlibatan dalam program ini memberinya kepastian finansial yang krusial, sekaligus memungkinkan dia tetap dekat dengan anaknya yang membutuhkan perhatian medis intensif.

Perjuangan Melawan Kanker dan Gagal Ginjal

Anak Sutarti telah berjuang melawan kanker tulang selama dua tahun. Setelah empat sesi kemoterapi gagal, kondisi sang anak memburuk menjadi gagal ginjal dan kini harus menjalani cuci darah dua kali seminggu. Terapi radiasi menjadi harapan terakhir, namun biayanya membayangi.

Sebelumnya, Sutarti banting tulang sebagai pekerja bangunan, namun penghasilan yang tidak pasti membuatnya kesulitan menopang pengobatan sang anak. Keterbatasan ekonomi memaksa keluarganya berada di ambang kehancuran finansial dan medis.

Keberadaan lowongan di dapur MBG, tepatnya di SPPG Linlin Solodiran, Losari Solodiran, Manisrenggo, menjadi titik balik. Lokasi yang strategis dekat rumah memungkinkan Sutarti bekerja tanpa meninggalkan anaknya terlalu lama.

Pekerjaan di dapur MBG ini memberikan Sutarti stabilitas finansial yang sebelumnya tidak pernah ia dapatkan. Kondisi ini secara tragis menunjukkan bagaimana program yang seharusnya fokus pada gizi, kini menjadi tumpuan utama keluarga untuk mengakses perawatan kesehatan dasar.

Ini adalah gambaran nyata dari sistem yang memaksa warga miskin menukarkan tenaga mereka dalam program pemerintah demi sekadar bertahan hidup dan mendapatkan layanan kesehatan yang seharusnya menjadi hak dasar.

Suara Hati Seorang Ibu

“Saya kerja di (dapur) MBG untuk membantu anak saya ke rumah sakit. Penyakitnya jadi kronis. Cuci darah seminggu dua kali,” kata Sutarti terbata-bata, menggambarkan keputusasaannya.

Dia menambahkan, “Alhamdulillah itu dekat dari rumah. Kita bisa ngawasin anak saya yang sakit.” Pernyataan ini menegaskan betapa krusialnya lokasi kerja yang dekat dengan rumah, demi bisa merawat anaknya yang sakit parah.

Sutarti juga menyampaikan, “Terima kasih Pak Presiden Prabowo (Subianto) saya telah diterima di dapur MBG. Bisa mencukupi kebutuhan rumah tangga saya. Dan untuk membantu anak saya yang sedang sakit kanker untuk berobat.” Ungkapan terima kasih ini, di satu sisi, menunjukkan betapa besar bantuan yang dirasakan, namun di sisi lain, juga menyiratkan kegagalan sistem yang lebih besar dalam menyediakan jaring pengaman sosial yang komprehensif.

Kasus Sutarti adalah cerminan dari jutaan keluarga di Indonesia yang berjuang di tengah keterbatasan akses kesehatan dan ekonomi. Ketergantungan pada program karitatif seperti MBG, alih-alih sistem kesehatan dan jaring pengaman sosial yang kokoh, menyoroti celah kebijakan yang mendalam. Ini bukan sekadar kisah sukses program, melainkan alarm keras tentang kerentanan warga yang terpaksa memilih antara pangan atau pengobatan.

More like this