Dosen UIN Walisongo Semarang Sambangi Surabaya: Kuliah Tamu Jadi Sorotan

2 min read
Kuliah Tamu Dosen UIN Walisongo Semarang di Surabaya Curi Perhatian

Dosen PGMI UIN Walisongo Semarang melaksanakan Visiting Lecture di UIN Sunan Ampel Surabaya, bagian KKL 2026. Acara ini meliputi penandatanganan PKS baru untuk keberlanjutan kolaborasi LPTK. Empat dosen PGMI UIN Walisongo menyampaikan materi strategis. Mahasiswa turut serta dalam kuliah tamu Al-Quran Isyarat. UIN Walisongo membuka PMB 2026.

Kuliah Tamu Dosen UIN Walisongo Semarang di Surabaya Curi Perhatian

Dosen Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) UIN Walisongo Semarang menyambangi UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya pada Senin (2/2/2026), bukan sekadar untuk “Visiting Lecture”, melainkan juga memformalkan pembaharuan Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang telah habis masa berlakunya. Acara ini menjadi panggung bagi kolaborasi akademik rutin yang dibungkus dalam agenda Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Tahun 2026, sekaligus indikasi kuat promosi penerimaan mahasiswa baru.

Formalitas Akademik dan Konten Visiting Lecture

Ratusan mahasiswa dan dosen pembimbing UIN Walisongo Semarang turut serta dalam KKL 2026. Acara seremonial di kampus UINSA dimulai dengan lagu kebangsaan dan Hymne UINSA, diikuti oleh penandatanganan PKS yang diklaim sebagai payung hukum kolaborasi ke depan. Ini mengindikasikan bahwa kegiatan ini lebih merupakan formalitas administratif daripada inisiatif kolaborasi baru yang revolusioner.

Sesi “Visiting Lecture” menampilkan empat dosen pakar dari PGMI UIN Walisongo yang secara simultan menyampaikan materi di lima lokasi berbeda. Topik yang diusung meliputi “Literasi Sastra di SD/MI”, “Pemanfaatan Teknologi dalam Pendidikan”, “Sastra Anak”, dan “Cerita Rakyat Nusantara sebagai Media Melawan Intoleransi di MI”. Pemilihan topik ini, meski relevan, gagal menunjukkan terobosan signifikan dalam konteks akademik yang lebih luas.

Sementara itu, mahasiswa PGMI UIN Walisongo juga diwajibkan mengikuti kuliah tamu bertopik “Al-Quran Isyarat”. Materi ini disampaikan oleh Azizatur Rahmah, seorang alumni PGMI UINSA tahun 2025 yang kini menjadi Guru Pendamping Khusus di Sidoarjo. Kegiatan ini, meskipun diklaim sejalan dengan “visi kemanusiaan” UIN Walisongo, terlihat lebih sebagai pertukaran pengalaman lokal daripada transfer keilmuan mendalam dari pakar eksternal.

Pengakuan di Balik Kunjungan

Ketua Prodi PGMI UIN Walisongo Semarang, Kristi Liani Purwanti, S.Si., M.Pd., secara blak-blakan mengakui, “Kebetulan masa berlaku PKS kita baru saja habis.” Pernyataan ini menegaskan bahwa kunjungan tersebut merupakan upaya reaktivasi kerja sama yang telah kedaluwarsa, bukan pembentukan aliansi baru.

Kristi melanjutkan, “Kehadiran kami di sini, selain untuk menjalin PKS baru sebagai payung hukum kolaborasi ke depan, juga untuk melaksanakan visiting lecture atau kuliah tamu. Sebagaimana tradisi akademik yang kita bangun sebelumnya, pertukaran pengajar ini diharapkan mampu memperkaya perspektif keilmuan baik bagi dosen maupun mahasiswa di kedua belah pihak.” Ungkapan “diharapkan” ini justru menunjukkan ketidakpastian dampak nyata dari kegiatan yang diklaim sebagai “pertukaran pengajar” tersebut.

Tujuan Akhir: Perekrutan Mahasiswa

Di balik hiruk-pikuk agenda akademik ini, UIN Walisongo Semarang secara terang-terangan menyisipkan promosi Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) tahun 2026. Ajakan untuk bergabung melalui jalur SNBP dan SPAN-PTKIN, lengkap dengan informasi portal resmi dan akun Instagram, secara gamblang menunjukkan agenda pemasaran yang menyertai kegiatan kolaborasi ini.

More like this