DPR Geram: Persoalan Mina Tak Kunjung Usai, Kapan Solusi Nyata Datang?
loading…Ketua Komisi VIII DPR RI sekaligus anggota Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI, Marwan Dasopang saat di Mina, Makkah, Arab Saudi, Jumat (29/5/2026). Foto: Andri/Sari MEKKAH – Persoalan kepadatan jemaah di Mina kembali menjadi perhatian dalam penyelenggaraan ibadah haji 1447 H/2026 M. Meski secara umum pelaksanaan haji tahun ini dinilai berjalan baik, keterbatasan ruang dan fasilitas di kawasan Mina masih menjadi tantangan yang dirasakan langsung oleh jemaah Indonesia.Ketua Komisi VIII DPR RI sekaligus anggota Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI, Marwan Dasopang, menilai persoalan tersebut tidak bisa terus dibiarkan berulang tanpa solusi jangka panjang. Hal itu disampaikannya melalui rilis yang diterima Parlementaria di Mina, Makkah, Arab Saudi, Jumat (29/5/2026).Baca juga: Timwas Haji DPR Soroti Fase Armuzna Soal Keterlambatan Bus dan Kepadatan Tenda Menurut Marwan, secara keseluruhan tahapan penyelenggaraan ibadah haji tahun ini berlangsung sesuai agenda dan patut diapresiasi. Pelayanan kepada jemaah, kata dia, telah berjalan cukup baik sejak fase kedatangan hingga puncak ibadah haji.“Secara keseluruhan penyelenggaraan haji berjalan baik. Tahapan-tahapan awal hingga puncak pelaksanaan ibadah berlangsung sesuai agenda. Kita patut mengapresiasi berbagai pihak yang telah bekerja keras memberikan pelayanan kepada jemaah. Namun kondisi di Mina masih menjadi tantangan utama,” kata Politisi Fraksi PKB ini.

Kepadatan jemaah di Mina kembali menghantam penyelenggaraan ibadah haji 1447 H/2026 M. Ketua Komisi VIII DPR RI sekaligus anggota Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI, Marwan Dasopang, menyorot tajam keterbatasan ruang dan fasilitas di lokasi krusial ini yang terus menjadi momok bagi jemaah Indonesia.
Dari Mina, Makkah, Arab Saudi, Jumat (29/5/2026), Marwan Dasopang melalui rilisnya menegaskan, persoalan ini bukan sekadar keluhan musiman, melainkan kegagalan sistemik yang menuntut solusi permanen. Masalah ini tidak bisa lagi dibiarkan berulang tanpa tindakan konkret.
Persoalan Berulang di Mina
Ribuan jemaah haji Indonesia merasakan langsung dampak keterbatasan di Mina. Ruang gerak sempit, fasilitas sanitasi minim, dan tekanan fisik-mental menjadi pemandangan rutin, merampas kekhusyukan ibadah.
Walaupun secara umum tahapan haji 2026 diapresiasi berjalan sesuai agenda, pujian itu luntur di hadapan realitas Mina. Pelayanan jemaah yang disebut “cukup baik” di fase lain, tak mampu menutupi borok utama di kawasan krusial ini.
Kepadatan ini bukan sekadar statistik. Ini adalah penderitaan nyata bagi jemaah yang seharusnya fokus beribadah, namun terpaksa bergulat dengan kondisi fisik yang menantang dan fasilitas yang tidak memadai.
Marwan Dasopang secara eksplisit menuntut agar masalah ini tidak lagi dianggap enteng. Ini bukan insiden, melainkan pola yang harus dipecahkan dengan strategi jangka panjang, bukan sekadar tambal sulam yang tak pernah tuntas.
Setiap tahun, narasi “keterbatasan Mina” terulang. Kegagalan mengatasi akar masalah ini terus-menerus merusak pengalaman puncak ibadah haji bagi jemaah Indonesia, menunjukkan minimnya kemajuan substantif.
Kecaman Terhadap Keterbatasan Fasilitas
“Secara keseluruhan penyelenggaraan haji berjalan baik. Tahapan-tahapan awal hingga puncak pelaksanaan ibadah berlangsung sesuai agenda. Kita patut mengapresiasi berbagai pihak yang telah bekerja keras memberikan pelayanan kepada jemaah,” ujar Marwan.
Namun, ia langsung menyambung, “Namun kondisi di Mina masih menjadi tantangan utama.” Pernyataan ini jelas menunjuk pada titik lemah penyelenggaraan haji yang tak termaafkan.
Pernyataan Politisi Fraksi PKB ini menelanjangi ironi: di tengah klaim keberhasilan, ada luka menganga di jantung ibadah haji yang tak kunjung sembuh, mengancam kualitas pelayanan yang dijanjikan.
Tuntutan Solusi Permanen
Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI, yang salah satu anggotanya adalah Marwan Dasopang, memiliki mandat untuk memastikan kualitas pelayanan haji. Sorotan tajam ini membuktikan bahwa pengawasan mereka menemukan celah krusial yang tidak bisa diabaikan.
Masalah kepadatan di Mina bukan hal baru. Ini adalah isu abadi yang selalu muncul setiap musim haji, menuntut reformasi fundamental dalam manajemen ruang dan fasilitas di Tanah Suci, bukan lagi sekadar evaluasi tanpa solusi.