Dulu saya mengira orang miskin itu malas, dan saya salah

5 min read
Dulu saya mengira orang miskin itu malas, dan saya salah

Dulu, dalam beberapa kesempatan diskusi bersama teman, saya selalu mengatakan bahwa kebanyakan orang miskin itu karena malas dan kurang berusaha. Hingga kemudian saya mulai lebih banyak belajar, membaca, dan bertemu dengan lebih banyak manusia dengan berbagai cerita hidupnya membuat saya merasa bahwa keyakinan saya terlalu dangkal. Berjumpa dengan pengalaman-pengalaman baru menyadarkan saya untuk melihat sisi lain dari cara kerja dunia melalui lensa yang lebih jernih dan jujur. Selama ini saya menganggap semua pencapaian lahir semata-mata dari kerja keras. Padahal, kerja keras saya juga ditopang oleh berbagai kesempatan yang mungkin tidak dimiliki oleh semua orang. Saya lupa bahwa saya bisa kuliah dengan baik karena orang tua yang mendukung, perut yang kenyang, dan fasilitas yang memadai. Saya luput menyadari. Di luar sana ada orang-orang yang setiap harinya harus memilih antara membayar uang sekolah atau membeli beras. Antara membeli buku atau membayar tagihan listrik. Antara mengejar masa depan atau memastikan keluarganya dapat bertahan hingga esok hari. Rasanya tidak pantas menyebut orang yang menghabiskan lebih dari separuh harinya bekerja di bawah terik matahari, mengangkat beban berat, atau berdiri berjam-jam demi mencari nafkah sebagai orang yang malas. Pun, terlalu kejam rasanya mengatakan bahwa mereka yang tetap bekerja meski tubuhnya dipenuhi rasa lelah, telapak tangannya mulai mengeras, dan tetap berangkat setiap pagi meski tidak pernah ada jaminan bahwa hari itu akan membawa penghasilan yang cukup sebagai orang yang kurang bekerja keras. Melihat kemiskinan sebagai kegagalan individu itu keliru Barangkali, selama ini saya terlalu sering melihat kemiskinan sebagai kegagalan individu, dan terlalu cepat menyimpulkan bahwa seseorang miskin karena tidak cukup bekerja keras, tanpa pernah bertanya lebih jauh tentang kehidupan yang ia jalani. Istilah “kemiskinan struktural” menjadi terasa lebih nyata. Bahwa benar, kemiskinan tidak hanya dibentuk oleh keputusan-keputusan pribadi, tetapi juga oleh “sistem.” Sistem inilah yang menentukan siapa yang lebih mudah memperoleh pendidikan yang layak. Siapa yang memiliki akses terhadap pekerjaan yang baik, siapa yang tumbuh di lingkungan yang mendukung, hingga siapa yang memiliki jaringan yang dapat membuka peluang-peluang baru. Ketika akses terhadap berbagai sumber daya tersebut tidak pernah benar-benar setara, maka perjuangan setiap orang pun tidak pernah dimulai dari titik yang sama. Dalam psikologi, cara melihat masyarakat seperti ini dijelaskan melalui Social Dominance Theory yang dikembangkan oleh Sidanius dan Pratto. Saya mengenal teori ini ketika belajar pada mata kuliah Psikologi Kelompok Marjinal. Teori ini memandang bahwa masyarakat memang cenderung tersusun dalam hierarki antarkelompok. Hierarki tersebut kemudian terus dipertahankan melalui berbagai institusi seperti pendidikan, ekonomi, maupun hukum, serta melalui berbagai ideologi yang membuat ketimpangan terasa masuk akal. Akibatnya, sebagian kelompok memiliki akses yang lebih besar terhadap sumber daya dan kesempatan, sementara kelompok lainnya harus terus berjuang untuk memperoleh hal-hal yang bagi kelompok lain mungkin terasa biasa. Namun, bagian menariknya adalah, ternyata, ketidakadilan tidak hanya dipertahankan oleh sistem, tetapi juga oleh cara kita memandang sistem itu sendiri. System Justification Theory menjelaskan hal ini. Alih-alih mempertanyakan dan “protes” mengapa sistem ini bertahan lama, manusia justru cenderung membenarkan tatanan sosial yang sudah ada. “Kalau masih miskin, jangan punya anak dulu, dong” Sebagai contoh, saya sering melihat di timeline media sosial saya berbagai komentar mengenai larangan punya anak bagi orang miskin. Seringnya dilontarkan dengan berbagai redaksi yang berbeda-beda. Kalimat-kalimat seperti “Kalau masih miskin, jangan punya anak dulu, dong”, “Kalau nggak sanggup kasih makan, jangan beranak” atau “Ya jangan punya anak banyak. Kalau miskin itu tahu diri dan kendalikan hidup sendiri, ga usah nyalahin kemampuan orang lain.” Unpopular opinion, tetapi, bukankah ini sama kejamnya dengan kita mengatakan “Kalau tidak punya uang untuk berobat, ya jangan sakit.” Padahal, bukankah semua orang pernah sakit? Maka aneh sekali jika kita malah menyalahkan orang miskin yang memiliki anak daripada mempertanyakan keadaan yang menyebabkan “punya anak” itu menjadi hal yang mahal bagi orang miskin. Terdengar absurd, bukan? Cara berpikir semacam ini menunjukkan bagaimana kita seringkali memindahkan persoalan sistem menjadi tanggung jawab individu. Alih-alih bertanya mengapa kebutuhan dasar seperti pangan, kesehatan, dan pendidikan begitu sulit diakses sebagian orang, kita justru meminta mereka menyesuaikan hidupnya dengan keterbatasan sistem. Namun, sampai di titik ini, saya juga tidak ingin terjebak pada kesimpulan yang sebaliknya. Kemiskinan memang sesuatu yang politis dan dipengaruhi oleh sistem, bukan berarti usaha individu tak lagi penting. Saya tetap percaya bahwa kerja keras, ketekunan, dan keberanian mengambil kesempatan adalah bagian penting dari ikhtiar untuk keluar dari kemiskinan. Usaha yang saya maksud juga bukan semata-mata bekerja lebih lama atau mengeluarkan tenaga lebih besar. Usaha juga berarti adanya tekad untuk terus belajar, kemampuan mengelola keuangan, membangun kebiasaan yang sehat. Mengambil keputusan yang bijak, serta bersedia menunda kesenangan yang impulsif demi tujuan yang lebih besar. Individual tidak jadi satu-satunya penyebab Yang ingin saya kritik dalam hal ini adalah cara berpikir yang menempatkan individu sebagai satu-satunya aktor yang bertanggung jawab atas kemiskinan. Karena cara pandang seperti ini dapat berisiko membuat kita mengabaikan berbagai faktor struktural yang turut membentuk dan mempertahankan kemiskinan. Perlu kita pahami bahwa usaha dan kesempatan bukanlah dua hal yang saling meniadakan. Kita dapat mengakui pentingnya kerja keras tanpa menutup mata terhadap ketimpangan akses. Mendorong seseorang untuk terus berusaha tidak seharusnya membuat kita mengabaikan kenyataan bahwa setiap orang menghadapi tantangan yang berbeda-beda. Sebab tujuan yang ingin kita capai bukanlah menciptakan masyarakat yang berhenti bekerja keras. Hal penting lainnya adalah membangun sistem yang memastikan bahwa setiap kerja keras memiliki kesempatan yang lebih adil untuk membuahkan hasil dan tidak berakhir sia-sia. Penulis: Ana Fitri Aulia Editor: Rizky Prasetya BACA JUGA Orang Miskin: Dimanfaatin Bule, Disepelekan Musisi Edgy Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat carainiya. Terakhir diperbarui pada 30 Juli 2026 oleh Rizky Prasetya

Dulu saya mengira orang miskin itu malas, dan saya salah

Dulu, dalam beberapa kesempatan diskusi bersama teman, saya selalu mengatakan bahwa kebanyakan orang miskin itu karena malas dan kurang berusaha. Hingga kemudian saya mulai lebih banyak belajar, membaca, dan bertemu dengan lebih banyak manusia dengan berbagai cerita hidupnya membuat saya merasa bahwa keyakinan saya terlalu dangkal.

Berjumpa dengan pengalaman-pengalaman baru menyadarkan saya untuk melihat sisi lain dari cara kerja dunia melalui lensa yang lebih jernih dan jujur.

Selama ini saya menganggap semua pencapaian lahir semata-mata dari kerja keras. Padahal, kerja keras saya juga ditopang oleh berbagai kesempatan yang mungkin tidak dimiliki oleh semua orang. Saya lupa bahwa saya bisa kuliah dengan baik karena orang tua yang mendukung, perut yang kenyang, dan fasilitas yang memadai.

Saya luput menyadari. Di luar sana ada orang-orang yang setiap harinya harus memilih antara membayar uang sekolah atau membeli beras. Antara membeli buku atau membayar tagihan listrik. Antara mengejar masa depan atau memastikan keluarganya dapat bertahan hingga esok hari.

Rasanya tidak pantas menyebut orang yang menghabiskan lebih dari separuh harinya bekerja di bawah terik matahari, mengangkat beban berat, atau berdiri berjam-jam demi mencari nafkah sebagai orang yang malas. Pun, terlalu kejam rasanya mengatakan bahwa mereka yang tetap bekerja meski tubuhnya dipenuhi rasa lelah, telapak tangannya mulai mengeras, dan tetap berangkat setiap pagi meski tidak pernah ada jaminan bahwa hari itu akan membawa penghasilan yang cukup sebagai orang yang kurang bekerja keras.

Melihat kemiskinan sebagai kegagalan individu itu keliru

Barangkali, selama ini saya terlalu sering melihat kemiskinan sebagai kegagalan individu, dan terlalu cepat menyimpulkan bahwa seseorang miskin karena tidak cukup bekerja keras, tanpa pernah bertanya lebih jauh tentang kehidupan yang ia jalani. Istilah “kemiskinan struktural” menjadi terasa lebih nyata. Bahwa benar, kemiskinan tidak hanya dibentuk oleh keputusan-keputusan pribadi, tetapi juga oleh “sistem.”

Sistem inilah yang menentukan siapa yang lebih mudah memperoleh pendidikan yang layak. Siapa yang memiliki akses terhadap pekerjaan yang baik, siapa yang tumbuh di lingkungan yang mendukung, hingga siapa yang memiliki jaringan yang dapat membuka peluang-peluang baru. Ketika akses terhadap berbagai sumber daya tersebut tidak pernah benar-benar setara, maka perjuangan setiap orang pun tidak pernah dimulai dari titik yang sama.

Dalam psikologi, cara melihat masyarakat seperti ini dijelaskan melalui Social Dominance Theory yang dikembangkan oleh Sidanius dan Pratto. Saya mengenal teori ini ketika belajar pada mata kuliah Psikologi Kelompok Marjinal. Teori ini memandang bahwa masyarakat memang cenderung tersusun dalam hierarki antarkelompok. Hierarki tersebut kemudian terus dipertahankan melalui berbagai institusi seperti pendidikan, ekonomi, maupun hukum, serta melalui berbagai ideologi yang membuat ketimpangan terasa masuk akal.

Akibatnya, sebagian kelompok memiliki akses yang lebih besar terhadap sumber daya dan kesempatan, sementara kelompok lainnya harus terus berjuang untuk memperoleh hal-hal yang bagi kelompok lain mungkin terasa biasa.

Namun, bagian menariknya adalah, ternyata, ketidakadilan tidak hanya dipertahankan oleh sistem, tetapi juga oleh cara kita memandang sistem itu sendiri. System Justification Theory menjelaskan hal ini. Alih-alih mempertanyakan dan “protes” mengapa sistem ini bertahan lama, manusia justru cenderung membenarkan tatanan sosial yang sudah ada.

“Kalau masih miskin, jangan punya anak dulu, dong”

Sebagai contoh, saya sering melihat di timeline media sosial saya berbagai komentar mengenai larangan punya anak bagi orang miskin. Seringnya dilontarkan dengan berbagai redaksi yang berbeda-beda. Kalimat-kalimat seperti “Kalau masih miskin, jangan punya anak dulu, dong”, “Kalau nggak sanggup kasih makan, jangan beranak” atau “Ya jangan punya anak banyak. Kalau miskin itu tahu diri dan kendalikan hidup sendiri, ga usah nyalahin kemampuan orang lain.”

Unpopular opinion, tetapi, bukankah ini sama kejamnya dengan kita mengatakan “Kalau tidak punya uang untuk berobat, ya jangan sakit.” Padahal, bukankah semua orang pernah sakit? Maka aneh sekali jika kita malah menyalahkan orang miskin yang memiliki anak daripada mempertanyakan keadaan yang menyebabkan “punya anak” itu menjadi hal yang mahal bagi orang miskin.

Terdengar absurd, bukan? Cara berpikir semacam ini menunjukkan bagaimana kita seringkali memindahkan persoalan sistem menjadi tanggung jawab individu. Alih-alih bertanya mengapa kebutuhan dasar seperti pangan, kesehatan, dan pendidikan begitu sulit diakses sebagian orang, kita justru meminta mereka menyesuaikan hidupnya dengan keterbatasan sistem.

Namun, sampai di titik ini, saya juga tidak ingin terjebak pada kesimpulan yang sebaliknya. Kemiskinan memang sesuatu yang politis dan dipengaruhi oleh sistem, bukan berarti usaha individu tak lagi penting. Saya tetap percaya bahwa kerja keras, ketekunan, dan keberanian mengambil kesempatan adalah bagian penting dari ikhtiar untuk keluar dari kemiskinan.

Usaha yang saya maksud juga bukan semata-mata bekerja lebih lama atau mengeluarkan tenaga lebih besar. Usaha juga berarti adanya tekad untuk terus belajar, kemampuan mengelola keuangan, membangun kebiasaan yang sehat. Mengambil keputusan yang bijak, serta bersedia menunda kesenangan yang impulsif demi tujuan yang lebih besar.

Individual tidak jadi satu-satunya penyebab

Yang ingin saya kritik dalam hal ini adalah cara berpikir yang menempatkan individu sebagai satu-satunya aktor yang bertanggung jawab atas kemiskinan. Karena cara pandang seperti ini dapat berisiko membuat kita mengabaikan berbagai faktor struktural yang turut membentuk dan mempertahankan kemiskinan.

Perlu kita pahami bahwa usaha dan kesempatan bukanlah dua hal yang saling meniadakan. Kita dapat mengakui pentingnya kerja keras tanpa menutup mata terhadap ketimpangan akses. Mendorong seseorang untuk terus berusaha tidak seharusnya membuat kita mengabaikan kenyataan bahwa setiap orang menghadapi tantangan yang berbeda-beda.

Sebab tujuan yang ingin kita capai bukanlah menciptakan masyarakat yang berhenti bekerja keras. Hal penting lainnya adalah membangun sistem yang memastikan bahwa setiap kerja keras memiliki kesempatan yang lebih adil untuk membuahkan hasil dan tidak berakhir sia-sia.

Penulis: Ana Fitri Aulia


Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Orang Miskin: Dimanfaatin Bule, Disepelekan Musisi Edgy

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat carainiya.

Terakhir diperbarui pada 30 Juli 2026 oleh

More like this