Ekonomi Indonesia Tetap Perkasa di Tengah Gelojak Global, Bukan Lagi Era 1998.

3 min read
Ekonomi Indonesia Tetap Tangguh Hadapi Gejolak Global: Bukan Lagi Era Krisis 1998

Ekonomi Indonesia tangguh di tengah gejolak global, jauh dari krisis 1998. Pertumbuhan ekonomi diproyeksikan 5,3% (2026), tertinggi kedua G20. Defisit anggaran rendah di bawah 3%. Bloomberg menyebut kemungkinan resesi Indonesia hanya 5%. Ketahanan ditopang ekonomi domestik kuat dan APBN terkendali.

Ekonomi Indonesia Tetap Tangguh Hadapi Gejolak Global: Bukan Lagi Era Krisis 1998

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Senin (13/4) 2026, secara lugas menyatakan ekonomi Indonesia “tangguh” dan “jauh dari krisis 1998”. Klaim ini dilontarkan dalam media briefing dengan jurnalis internasional di Auditorium Bakom RI, Jakarta, di tengah gejolak ekonomi global yang terus mengancam stabilitas banyak negara.

Pernyataan Airlangga menyoroti pertumbuhan ekonomi 5,11 persen pada 2025, proyeksi 5,3 persen untuk 2026, dan defisit anggaran di bawah 3 persen. Dia berkeras Indonesia memiliki imunitas terhadap resesi, meski ancaman ketidakpastian global nyata.

Klaim Ketahanan Ekonomi di Tengah Gejolak Global

Perbandingan yang disajikan Airlangga menunjukkan proyeksi pertumbuhan Indonesia (5,11% pada 2025) menjadi yang tertinggi kedua di G20 setelah India, kontras dengan rata-rata global 2,6-3,3% yang diproyeksikan IMF dan Bank Dunia. Ini menggambarkan optimisme pemerintah yang kontras dengan perlambatan ekonomi global.

Defisit anggaran Indonesia, disebutnya, “rendah” di bawah 3 persen, jauh di bawah India (4%), Prancis (4,4%), atau Amerika Serikat (6,3%). Angka ini disajikan sebagai bukti pengelolaan fiskal yang hati-hati dan terkendali.

Narasi ketahanan diperkuat oleh laporan Bloomberg yang menempatkan Indonesia pada risiko resesi hanya 5 persen. Angka ini jauh di bawah negara maju seperti Jepang (30%) dan AS (30%), menjadi pilar utama argumen “imun krisis” pemerintah.

Pemerintah mengklaim ketahanan domestik, menyumbang 54 persen Produk Domestik Bruto, sebagai fondasi utama. Swasembada beras sejak 2025, dengan produksi 34,7 juta ton dan stok Bulog 4,6 juta ton per 8 April 2026, digadang-gadang sebagai bukti konkret ketahanan pangan di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Inisiatif energi seperti kebijakan B50, pengembangan energi surya, dan peningkatan kapasitas kilang disebut-sebut memperkuat ketahanan energi. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), dengan penerimaan pajak Rp 462,7 triliun per Maret 2026 (tumbuh 14,3%) dan defisit terkendali, dianggap berfungsi sebagai “peredam guncangan” bagi masyarakat.

Penegasan Optimisme Pemerintah

“Jauh berbeda dengan situasi tahun 1998. Dari segi ekonomi makro, saya katakan pertumbuhan PDB adalah 5,11 persen. Dan proyeksi tahun ini di atas 5,3 persen. Dan kuartal pertama tahun ini, kami optimis pertumbuhan Indonesia di kuartal pertama sekitar 5,5 persen,” tegas Airlangga di Auditorium Bakom RI.

Dia menambahkan, “Dan jika Anda melihat cadangan devisa masih sekitar USD 148,2 miliar, itu setara dengan enam bulan impor.”

Airlangga juga menyoroti detail utang pemerintah, “Jika Anda melihat detail utang kita, sebagian besar berasal dari dalam negeri. Jadi, risiko guncangan eksternal terkendali.”

Tantangan yang Belum Terjawab

Cadangan devisa USD 148,2 miliar (setara enam bulan impor), tingkat kemiskinan 8,25 persen, tingkat kesenjangan 0,363, dan pengangguran 4,7 persen dipaparkan sebagai indikator perbaikan. Rasio utang pemerintah mencapai 40,46 persen terhadap PDB atau sebesar Rp 9.637,9 triliun, dengan kepemilikan asing pada Surat Berharga Negara hanya 12,6 persen, diklaim meminimalkan kerentanan eksternal.

Meski demikian, pernyataan optimis pemerintah ini perlu dibuktikan di tengah volatilitas global dan tantangan domestik yang terus berkembang. Klaim “jauh dari krisis” harus diuji oleh realitas pasar dan daya tahan masyarakat, bukan sekadar proyeksi angka.

More like this