Fakta Terungkap: Nomor WhatsApp Palsu Sekda Jateng Sumarno Meresahkan!

2 min read
Nomor WhatsApp Palsu Sekda Jateng Sumarno: Waspada Penipuan!

Radio Jateng menyajikan siaran langsung audio. Streaming resmi ini dikelola oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Pendengar dapat mengakses konten melalui browser untuk informasi terkini. Sumber dari Jatengprov.go.id tersedia 24 jam. Dengarkan berbagai program radio secara mudah dan faktual.

Nomor WhatsApp Palsu Sekda Jateng Sumarno: Waspada Penipuan!

Ribuan warga di sejumlah desa di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, terpaksa mengungsi dini hari tadi setelah banjir bandang menerjang pemukiman mereka. Air bah, setinggi hingga dua meter di beberapa titik, merendam ratusan rumah dan memutus akses jalan utama, menyusul hujan deras tak henti semalaman. Insiden ini kembali menyoroti rapuhnya sistem mitigasi bencana di wilayah yang rentan.

Banjir, yang mulai merendam sekitar pukul 02.00 WIB, melumpuhkan aktivitas warga di sedikitnya lima desa di Kecamatan Karanganyar dan Sayung. Tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Demak, dibantu relawan, berjibaku mengevakuasi warga yang terjebak. Banyak di antara mereka adalah lansia dan anak-anak yang terkejut saat air tiba-tiba masuk ke dalam rumah. Keterlambatan respons awal dan kurangnya perahu karet menjadi keluhan utama di lokasi pengungsian sementara.

Kegagalan Mitigasi yang Berulang

Peristiwa ini bukan kali pertama Demak dilanda banjir parah. Pola serupa terjadi berulang kali setiap musim hujan ekstrem. Analisis awal menunjuk pada kombinasi curah hujan di luar batas normal dan buruknya pengelolaan tata ruang di hulu sungai. Deforestasi masif dan alih fungsi lahan di wilayah tangkapan air disinyalir memperparah laju dan volume air yang masuk ke permukiman. Saluran drainase yang dangkal dan tersumbat sampah juga dituding memperparuk kondisi.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Pemerintah Kabupaten Demak tampak gagap menghadapi ancaman berulang ini. Janji-janji normalisasi sungai dan pembangunan tanggul kerap menguap setelah bencana reda. Anggaran mitigasi yang minim dan implementasi kebijakan yang lamban menjadi sorotan tajam. Warga kini mempertanyakan keseriusan pihak berwenang dalam melindungi keselamatan dan properti mereka.

Kemarahan Warga Memuncak

“Setiap tahun begini, Pak! Cuma janji-janji saja,” teriak Parjo, 58 tahun, seorang warga Desa Undaan yang rumahnya kini terendam seluruhnya. “Pemerintah cuma datang saat banjir, bagi-bagi mi instan, terus lupa. Sampai kapan kami harus begini?” Keluhannya mencerminkan frustrasi kolektif masyarakat yang merasa diabaikan.

Seorang aktivis lingkungan lokal, Budi Santoso, menegaskan, “Ini bukan sekadar bencana alam, ini kegagalan struktural. Ada pembiaran terhadap perusakan lingkungan di hulu, dan ada kelalaian dalam penataan kota di hilir. Pemerintah harus bertanggung jawab penuh atas kerugian dan penderitaan warga.”

Banjir Demak kali ini menambah daftar panjang bencana hidrometeorologi yang melanda Jawa Tengah dalam beberapa tahun terakhir. Tanpa evaluasi menyeluruh dan tindakan konkret yang revolusioner, bukan tidak mungkin tragedi serupa akan terus menghantui warga setiap musim penghujan tiba. Pemerintah dituntut berhenti dengan retorika dan mulai bertindak nyata.

More like this