Fenomena Pimpinan Lupa Diri: Mengapa Jabatan Kerap Dibawa Sampai Rumah?

3 min read
Pimpinan Lupa Diri: Bahaya Jabatan yang Dibawa Pulang

Fenomena individu berjabatan tinggi yang sulit kembali menjadi warga biasa di kampung. Lingkungan kampung bersifat egaliter, status sosial lebih ditentukan oleh kontribusi dan perilaku baik, bukan posisi kerja. Relasi sosial di kampung dibangun atas kesetaraan, bukan struktur komando kantor.

Pimpinan Lupa Diri: Bahaya Jabatan yang Dibawa Pulang

Pejabat dengan jabatan tinggi di tempat kerja kerap “gagal menjadi tetangga” saat kembali ke kampung atau lingkungan tempat tinggal mereka. Fenomena ini mengungkap perilaku aneh, di mana kebiasaan superioritas kantor terbawa pulang, mengubah interaksi sosial warga menjadi seperti rapat dinas dan pengarahan.

Pergeseran ini menodai egaliterisme kampung. Musyawarah warga serasa rapat dinas, obrolan santai berubah jadi sesi pengarahan, usulan tetangga dipotong layaknya bawahan presentasi, dan kerja bakti disikapi dengan gaya membagikan disposisi.

Dominasi Tak Berdasar di Kampung

Kantor memang memberi mereka ruang sendiri, bawahan, serta tanda tangan yang menentukan nasib berkas. Namun, kebiasaan ini secara mencolok dibawa ke kampung yang sejelasnya bukan kantor. Mereka seolah lupa, tetangga bukan staf administrasi yang mengangguk patuh pada surat keputusan (SK).

Perilaku ini memanifestasikan dominasi yang tidak berdasar. Musyawarah warga terasa seperti rapat dinas. Ngobrol santai berubah menjadi sesi pengarahan. Bahkan usulan tetangga pun dipotong layaknya bawahan yang sedang presentasi. Saat kerja bakti, gaya bicara pejabat ini tak ubahnya seperti membagikan disposisi.

Bukan hanya cara bicara, ekspektasi mereka pun berubah. Pejabat ini mulai berharap diperlakukan berbeda, minta diprioritaskan dalam acara warga. Jika usulannya tidak diterima, mereka merasa tidak dihargai. Orang yang berani berbeda pendapat langsung dicap “kurang sopan”.

Padahal, kedudukan mereka di kampung tak lebih tinggi dari ketua RT, yang mungkin berprofesi sekadar pedagang atau petani. Kampung tidak mengenal struktur organisasi. Hierarki sosial di sana tidak disumbang oleh jabatan pekerjaan.

Justru, hierarki kampung ditentukan oleh seberapa dermawan dan berguna seseorang bagi komunitas. Individu yang punya kemampuan memperbaiki pipa, listrik, atau tembok retak, atau mereka yang memiliki akhlak baik dan ringan tangan, justru punya “kasta sosial” yang jauh lebih tinggi. Relasi sosial di kampung terbangun dari ikatan tetangga, bukan struktur komando ala perusahaan.

Kehilangan Sentuhan Kemanusiaan

“Sebagian orang terlalu lama hidup di tempat yang membuat pendapatnya selalu didengar sampai lupa rasanya menjadi orang biasa,” ungkap Supriyadi, penulis yang menyoroti fenomena ini. Ia menambahkan, tantangan terbesar seseorang yang punya jabatan bukan saat memimpin kantor – itu justru bagian termudah.

“Yang lebih sulit adalah tetap bisa menjadi warga biasa setelah terbiasa dihormati setiap hari,” tegasnya. Supriyadi menyoroti perbedaan krusial: dihormati karena posisi bisa lenyap saat pensiun, sementara disukai karena kepribadian sering bertahan jauh lebih lama.

Realitas ini menyadarkan banyak pihak: tidak semua orang yang berhasil secara karier lantas berhasil pula secara sosial. Ada yang piawai memimpin kantor, namun gagal menjadi tetangga yang baik. Kantor punya jam pulang, namun kampung adalah tempat kita kembali – di sana, orang hanya ingin bertemu sesama manusia, bukan atasan.

More like this