Fenomena Tiongkok: Host AI Kini Kuasai Live Streaming, Siaran 24 Jam Nonstop
Foto: Sixth ToneTeknologi.id – Industri live commerce di Cina saat ini tengah mengalami transformasi signifikan. Kini, para kreator tidak lagi harus menghabiskan waktu berjam-jam di depan kamera untuk melakukan siaran langsung. Peran mereka telah digantikan oleh avatar kecerdasan buatan (AI) yang mampu bekerja nonstop selama 24 jam. Fenomena ini bukan lagi sekadar uji coba, melainkan telah menjadi mesin pendapatan baru bagi banyak brand di Cina.Cara kerjanya terbilang efisien. Kreator asli hanya perlu menyiapkan perangkat dasar seperti green screen dan pencahayaan sederhana. Mereka tidak perlu tampil prima atau bicara terus-menerus. Di sisi lain, avatar AI yang merupakan kloning digital dari kreator tersebut akan muncul di layar penonton. Avatar ini didesain mampu berbicara, menjelaskan keunggulan produk, hingga berinteraksi dengan penonton secara ekspresif layaknya manusia sungguhan.Baca juga:Ilmuwan Kembangkan Bio-AI dari Neuron Tikus yang Bisa Belajar Real-TimeBukti Efektivitas Avatar AISalah satu contoh sukses penggunaan teknologi ini datang dari kreator ternama, Luo Yonghao. Bekerja sama dengan perusahaan teknologi Baidu, Luo menggunakan avatar AI untuk sesi live streaming selama enam jam. Hasilnya cukup mengejutkan: penjualan yang dihasilkan mencapai 55 juta yuan atau sekitar Rp 930,3 miliar pada tahun 2025 lalu. Angka ini bahkan melampaui performa penjualan saat Luo melakukan siaran langsung secara konvensional.Avatar ini bukan sekadar animasi biasa. Teknologi di baliknya melibatkan pelatihan model AI menggunakan data video sang kreator selama bertahun-tahun. Proses ini memungkinkan AI meniru gaya bicara, gestur tubuh, hingga ekspresi khas sang kreator dengan tingkat akurasi yang tinggi.Ledakan Industri Avatar DigitalTren ini memicu pertumbuhan industri yang sangat pesat. Data dari basis bisnis di Cina mencatat ada lebih dari 993.000 perusahaan yang kini bergerak di sektor avatar digital. Menariknya, lebih dari 400.000 perusahaan di antaranya baru berdiri dalam beberapa tahun terakhir.Pada festival belanja daring “618” yang berlangsung pada 18 Juni lalu, tercatat lebih dari 5.000 brand menggunakan avatar AI untuk kegiatan live streaming. Sesi siaran tersebut berhasil meraup lebih dari 100 juta penayangan dan mencatatkan lebih dari 5 juta interaksi dari pengguna.Secara ekonomi, dampak yang ditimbulkan sangat masif. Pada tahun 2023, pendapatan dari sektor avatar digital di Cina diestimasikan mencapai 333 miliar yuan atau setara Rp 5.633 triliun. Angka ini diproyeksikan akan terus melonjak hingga mencapai 640 miliar yuan (sekitar Rp 10.826,2 triliun) pada 2025.Efisiensi vs Tantangan TransparansiKeunggulan utama dari penggunaan avatar AI adalah efisiensi operasional. Berbeda dengan manusia, avatar digital tidak memerlukan jam istirahat, makan, atau libur. Brand dapat menjalankan siaran langsung di toko daring mereka sepanjang hari tanpa henti. Selain itu, biaya produksi juga terpangkas signifikan karena perusahaan tidak lagi membutuhkan studio dan perangkat streamingbesar, kru lengkap,maupun persiapan teknis yang rumit.Namun, adopsi teknologi ini bukannya tanpa tantangan. Sebagian penonton menilai interaksi yang diberikan AI masih terasa kaku dan kurang natural dibandingkan manusia. Isu transparansi juga menjadi catatan penting, karena sering kali penonton tidak menyadari apakah pembawa acara yang mereka lihat adalah manusia asli atau sekadar kloning AI.Baca juga:Mirip Avatar Ilmuwan China Ciptakan Tanaman Bercahaya Tanpa ListrikRegulasi yang DiperketatMenanggapi perkembangan tren ini, otoritas di Cina mulai menetapkan aturan main. Platform besar seperti Douyin (TikTok versi Cina) kini mewajibkan para kreator untuk memberikan label atau tanda khusus jika mereka menggunakan avatar AI dalam siaran langsungnya. Selain itu, platform juga mensyaratkan adanya pengawasan manusia selama siaran berlangsung untuk memastikan konten yang disampaikan tetap akurat dan tidak melanggar aturan.Meski masih menghadapi tantangan etika dan teknis, penggunaan avatar AI telah mengubah peta industri konten digital. Kini, seorang kreator mampu “hadir” di banyak tempat sekaligus, menjaga roda bisnis tetap berputar 24 jam meski mereka tidak sedang berada di depan kamera.Baca Berita dan Artikel lainnya diGoogle News.(yna/sa)

Avatar kecerdasan buatan (AI) kini secara masif menggusur kreator manusia dalam industri live commerce Cina, memicu revolusi bisnis 24 jam non-stop dan mendongkrak pendapatan triliunan rupiah. Fenomena ini mengubah cara brand menjual produk, menekan biaya, namun sekaligus menggugat transparansi dan etika digital.
Kreator asli hanya perlu merekam diri sebentar, kemudian kloning digital mereka – avatar AI – mengambil alih panggung. Avatar ini berbicara, menjelaskan produk, dan berinteraksi dengan penonton secara ekspresif, beroperasi tanpa henti di toko daring sepanjang hari.
Mesin Penjualan Baru
Efektivitasnya terbukti brutal. Luo Yonghao, kreator ternama, mencetak penjualan 55 juta yuan (sekitar Rp 930,3 miliar) dari sesi live streaming enam jam menggunakan avatar AI hasil kerja sama dengan Baidu pada 2025, melampaui performa siaran konvensionalnya. Teknologi ini dilatih dengan data video bertahun-tahun, meniru gestur dan gaya bicara kreator dengan akurasi tinggi.
Ledakan ini memicu pertumbuhan industri avatar digital yang eksplosif di Cina. Lebih dari 993.000 perusahaan kini beroperasi di sektor ini, dengan 400.000 di antaranya baru lahir dalam beberapa tahun terakhir. Festival belanja daring “618” baru-baru ini mencatat lebih dari 5.000 brand memakai avatar AI, meraup 100 juta penayangan dan 5 juta interaksi.
Secara ekonomi, dampaknya raksasa. Pendapatan sektor avatar digital Cina pada 2023 mencapai 333 miliar yuan (Rp 5.633 triliun), diproyeksikan melonjak hingga 640 miliar yuan (Rp 10.826,2 triliun) pada 2025. Efisiensi operasional menjadi daya tarik utama: tanpa istirahat, tanpa kru besar, biaya produksi terpangkas signifikan.
Dilema Transparansi dan Aturan Baru
Namun, adopsi masif ini tidak mulus. Sebagian penonton mengeluhkan interaksi AI yang “kaku dan kurang natural” dibanding manusia. Isu transparansi mencuat tajam, sebab penonton sering tidak menyadari apakah pembawa acara yang mereka saksikan adalah manusia asli atau sekadar kloning AI.
Menyikapi kekacauan ini, otoritas Cina mulai mengencangkan cengkeraman regulasi. Platform besar seperti Douyin kini mewajibkan kreator memberi label khusus jika menggunakan avatar AI, serta menuntut pengawasan manusia selama siaran. Ini upaya menyeimbangkan inovasi dengan akuntabilitas.
Terlepas dari ganjalan etika dan teknis, avatar AI telah secara fundamental mengubah lanskap industri konten digital. Kreator kini “hadir” di banyak tempat sekaligus, menjaga mesin bisnis berputar 24 jam, bahkan saat mereka tidak berada di depan kamera, menandai era baru dominasi teknologi dalam perdagangan.