Fikri: Bagaimana Sekolah Rakyat Mengubah Jalan Hidup Pemulung, Mengembalikan Senyum dan Harapan

3 min read
Fikri: Bagaimana Sekolah Rakyat Mengubah Jalan Hidup Pemulung, Mengembalikan Senyum dan Harapan

Dari memulung ke Sekolah Rakyat. Hal itu dialami Fikri bocah asal Desa Sukaraja, Sumedang, Jawa Barat. Ia sempat tinggal bersama neneknya di Jakarta dan ikut memulung sampah plastik di jalanan demi bertahan hidup. Dari membawa karung berisi barang bekas, kini ia membawa buku dan pensil ke Sekolah Rakyat Terintegrasi 4 Sumedang, Jawa Barat. (Foto Dok Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI) Sumedang, Idola 92.6 FM-Fikri tersenyum lebar saat tangannya sibuk mewarnai gambar di dalam kelas. Anak berusia 6 tahun itu kini menikmati hari-harinya di Sekolah Rakyat Terintegrasi 4 Sumedang, Jawa Barat, sesuatu yang dulu terasa jauh dari kehidupannya. Fikri adalah bocah asal Desa Sukaraja, Sumedang, Jawa Barat. Ia sempat tinggal bersama neneknya di Jakarta dan ikut memulung sampah plastik di jalanan demi bertahan hidup. Dari membawa karung berisi barang bekas, kini ia membawa buku dan pensil ke sekolah. Di ruang kelas, Fikri menjalani hari-hari seperti anak seusianya. Ia belajar membaca dan berhitung, menggambar, hingga bermain bersama teman-teman. Sesekali, ia mencoba permainan edukatif di papan tulis interaktif (interactive flat panel) atau bermain lego dengan penuh antusias. “Sekolahnya seru banget. Aku jadi ngerasain punya kakak, punya bapak, punya ibu, banyak teman juga. Semuanya baik-baik,” ujar Fikri polos, seperti dikutip dari siaran pers Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI. Tak hanya belajar, Fikri juga merasakan perhatian yang sebelumnya jarang ia dapatkan. Di sekolah, ia memperoleh makanan bergizi setiap hari. “Aku juga bisa makan. Makanannya enak banget. Badanku jadi kuat,” katanya sambil tersenyum. Kini, perlahan, rasa percaya dirinya tumbuh. “Sekarang aku bisa belajar baca, belajar nulis, dan main lari-larian,” tuturnya. “Aku Fikri, aku senang sekali di Sekolah Rakyat. Terima kasih Pak Prabowo, aku sayang Bapak,” ujarnya dengan suara lantang dan wajah ceria. Perjalanan Fikri menuju bangku pendidikan bukanlah cerita mudah. Kehidupan di jalanan membuatnya harus kehilangan masa kecil yang semestinya diisi dengan bermain dan belajar. Kondisi itu kemudian menarik perhatian aparat kepolisian yang membantu memulangkannya ke kampung halaman di Sumedang. Sejak saat itu, berbagai bentuk pendampingan diberikan. Pemerintah memastikan Fikri mendapatkan akses pendidikan yang layak sekaligus dukungan kebutuhan dasar untuk keluarganya. Tak hanya Fikri, adiknya, Naufal, juga kini didaftarkan ke Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) agar keduanya bisa tumbuh dengan hak pendidikan yang terpenuhi sejak dini. Bantuan lain turut mengalir, mulai dari kebutuhan pokok, pengurusan administrasi kependudukan, hingga jaminan layanan kesehatan melalui BPJS. Bahkan, rumah keluarga Fikri juga mendapatkan bantuan perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) melalui kolaborasi pemerintah daerah, kepolisian, dan PMI. Sang ibu pun memperoleh bantuan modal usaha untuk memperkuat ekonomi keluarga. Kini, langkah kecil Fikri di ruang kelas menjadi awal dari perjalanan panjang menuju masa depan yang lebih cerah. Dari jalanan yang keras, ia menemukan harapan baru, di bangku sekolah, bersama mimpi-mimpi yang perlahan tumbuh. (her/dav)

Fikri: Bagaimana Sekolah Rakyat Mengubah Jalan Hidup Pemulung, Mengembalikan Senyum dan Harapan

Fikri, bocah 6 tahun asal Desa Sukaraja, Sumedang, Jawa Barat, kini duduk di bangku Sekolah Rakyat Terintegrasi 4 Sumedang, setelah bertahun-tahun hidup memulung sampah plastik di jalanan Jakarta. Kisah pilu Fikri, yang harus kehilangan masa kecil demi bertahan hidup, menampar wajah sistem perlindungan anak Indonesia yang gagal berfungsi proaktif.

Pemulangan Fikri ke kampung halaman oleh aparat kepolisian memicu intervensi reaktif pemerintah daerah dan berbagai lembaga, yang kini berupaya menutup lubang kegagalan masa lalu dengan menyediakan akses pendidikan dan kebutuhan dasar bagi Fikri serta keluarganya.

Fikri, yang sebelumnya akrab dengan karung berisi barang bekas, kini membawa buku dan pensil. Di Sekolah Rakyat Terintegrasi 4 Sumedang, ia menjalani hari-hari yang seharusnya menjadi hak setiap anak: belajar membaca dan berhitung, menggambar, serta bermain bersama teman-teman. Fasilitas seperti papan tulis interaktif dan lego menjadi bagian dari lingkungan barunya.

Namun, kasus Fikri bukan sekadar cerita sukses individu. Ini adalah cermin pahit kondisi ribuan anak lain yang terpaksa hidup di jalanan, luput dari perhatian negara. Intervensi yang diberikan, meski patut diapresiasi, muncul setelah Fikri mengalami eksploitasi dan kehilangan hak dasar sebagai anak.

Tak hanya pendidikan formal, Fikri juga kini menikmati perhatian dan nutrisi yang sebelumnya langka. Ia memperoleh makanan bergizi setiap hari di sekolah, aspek krusial yang sering terabaikan dalam kehidupan anak jalanan.

Intervensi ini meluas hingga ke keluarganya. Adiknya, Naufal, didaftarkan ke Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Bantuan kebutuhan pokok, pengurusan administrasi kependudukan, jaminan layanan kesehatan melalui BPJS, hingga perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) dikucurkan. Bahkan, ibu Fikri menerima bantuan modal usaha, sebuah upaya tambal sulam untuk menopang ekonomi keluarga yang sebelumnya terpuruk.

“Sekolahnya Seru Banget”

Fikri sendiri mengungkapkan kegembiraannya. “Sekolahnya seru banget. Aku jadi ngerasain punya kakak, punya bapak, punya ibu, banyak teman juga. Semuanya baik-baik,” ujar Fikri polos, dikutip dari siaran pers Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI.

Ia juga merasakan manfaat fisik dari perhatian yang didapat. “Aku juga bisa makan. Makanannya enak banget. Badanku jadi kuat,” katanya sambil tersenyum, menunjukkan betapa mendasarnya kebutuhan yang baru kini terpenuhi. “Sekarang aku bisa belajar baca, belajar nulis, dan main lari-larian,” tambahnya, menggambarkan tumbuhnya rasa percaya diri.

Dalam pernyataan yang sarat nuansa politik, Fikri juga menyebut, “Aku Fikri, aku senang sekali di Sekolah Rakyat. Terima kasih Pak Prabowo, aku sayang Bapak.”

Perjalanan Fikri ke bangku sekolah, yang dipicu oleh penemuan polisi, menyoroti respons reaktif negara terhadap krisis anak jalanan, bukan pencegahan sistemik. Dari jalanan yang keras, ia menemukan harapan baru, namun pertanyaan besar tetap menggantung: berapa banyak lagi Fikri lain yang belum “ditemukan” dan masih berjuang di bawah radar kegagalan sistematis?

More like this