Gubernur Luthfi Buka Titik Terang bagi Warga Tegal Korban Tanah Gerak
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi berdialog dengan warga terdampak bencana tanah bergerak di Kabupaten Tegal pada 4 Februari 2026. Pemerintah menjamin relokasi gratis dan bantuan bagi korban, termasuk lansia serta ibu hamil. Total bantuan darurat bencana mencapai Rp458,04 juta. Status tanggap darurat ditetapkan, dengan 250 rumah dan seribu jiwa terdampak.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi tiba di lokasi pengungsian Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Rabu (4/2/2026), menjanjikan relokasi gratis dan bantuan bagi ribuan korban bencana tanah bergerak. Kunjungan ini berlangsung dua hari setelah bencana menghancurkan ratusan rumah, meninggalkan warga dalam ketidakpastian dan keterbatasan.
Di tengah tenda-tenda pengungsian yang sesak, Luthfi berjanji pemerintah akan menanggung seluruh biaya pemindahan hunian tetap (huntap) serta memberikan kompensasi gagal panen. Namun, janji ini mengemuka saat lebih dari seribu jiwa dari sekitar 250 rumah masih terpaksa mengungsi, setelah tanah bergerak tanpa henti sejak Senin (2/2/2026) akibat hujan lebat.
Ribuan Jiwa Terlantar, Janji Relokasi Menggantung
Situasi pengungsian memprihatinkan, dengan lansia Karsih (80) dan Rupi’ah (70) memerlukan pengawasan medis ketat. Ibu hamil seperti Warningsih juga menghadapi risiko tinggi, dengan rumahnya yang kini miring dan membahayakan. Warningsih memilih mengungsi demi keselamatan, meninggalkan harta benda di balik ancaman runtuhan.
Pemerintah daerah telah menetapkan status Tanggap Darurat Bencana selama 14 hari, mengaktifkan Posko Komando untuk koordinasi penanganan. Dapur umum berkapasitas 1.050 porsi makanan, layanan kesehatan, dan distribusi logistik satu pintu beroperasi di tengah upaya keras memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyalurkan total bantuan senilai Rp338,04 juta, meliputi logistik makanan, non-makanan, beras, obat-obatan, serta perlengkapan sekolah. Tambahan Belanja Tidak Terduga (BTT) sebesar Rp120 juta juga disiapkan untuk kepala desa, namun besaran ini harus diuji kemampuannya menopang kebutuhan mendesak ratusan keluarga yang kehilangan segalanya.
Retorika “Hadirnya Negara” di Tengah Penderitaan
“Nanti dipindah (relokasi) ya, jangan di sini lagi. Pokoknya nanti semua sudah disiapkan. Gratis. Nanti yang gagal panen juga nanti didata dan diberi bantuan,” ujar Luthfi kepada warga, berusaha meyakinkan di tengah keputusasaan. Ia juga menekankan pentingnya perawatan bagi kelompok rentan. “Saya titip yang sepuh-sepuh ini. Jangan sampai kekurangan makan atau obat. Kalau perlu dipindahkan ya segera.”
Luthfi mengklaim, “Hadirnya negara adalah memberikan kepastian bahwa masyarakat di huntap bisa eksis dan mandiri. Inilah hadirnya negara yang kita tunggu-tunggu.” Pernyataan ini kontras dengan realitas Warningsih, ibu hamil yang rumahnya kini “miring dan membahayakan,” memaksa dia dan keluarganya mengungsi. Warga lain, Afifah, hanya bisa menyatakan “terima kasih” atas janji hunian, sebuah harapan di tengah puing-puing.
Bencana Tak Berhenti, Ratusan Keluarga Tanpa Rumah
Bencana tanah bergerak di Desa Padasari bermula pada Senin (2/2/2026) malam, dipicu hujan lebat yang terus-menerus. Pergerakan tanah masih terpantau hingga kini, memperparah kerusakan dan mengancam stabilitas wilayah.
Dampak signifikan ini meninggalkan sekitar 250 rumah rusak parah dan lebih dari seribu jiwa kehilangan tempat tinggal, memaksa mereka bergantung pada uluran tangan pemerintah yang baru tiba dengan janji-janji di hari ketiga pasca-bencana.




