HPSN 2026: Ratusan ASN & Pelajar Sapu Bersih TRP Kartini, Wujudkan Pantai Idaman!
Ratusan ASN, pelajar, dan masyarakat Rembang membersihkan Taman Rekreasi Pantai Kartini pada Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026. Aksi ini bertujuan meningkatkan kepedulian kebersihan lingkungan. Total 369,5 kg sampah terkumpul, terdiri dari organik dan anorganik, kemudian diangkut ke TPA Landoh. Bupati Rembang mengapresiasi partisipasi dalam kegiatan kebersihan ini.
Ratusan Aparatur Sipil Negara (ASN), pelajar, dan masyarakat Rembang menyerbu Taman Rekreasi Pantai (TRP) Kartini pada Selasa, 24 Februari 2026, dalam aksi bersih-bersih sampah besar-besaran. Ironisnya, kegiatan ini digelar bukan semata peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026, melainkan karena kondisi TRP Kartini, yang disebut Bupati Harno sebagai “ikon pariwisata” daerah, dinilai “kurang bersih” dan butuh penanganan mendesak.
Pembersihan massal ini menyoroti kegagalan pemerintah daerah dalam menjaga kebersihan salah satu aset pariwisata utamanya, memaksa ratusan warga turun tangan dengan sapu, arit, hingga mesin pemotong rumput untuk mengangkut hampir 370 kilogram sampah dari area tersebut.
Bupati Rembang Harno secara terang-terangan mengakui TRP Kartini, yang seharusnya menjadi kebanggaan, “dipandang masih kurang bersih.” Pernyataan ini menjadi tamparan keras bagi pengelolaan lingkungan di wilayah tersebut, menunjukkan bahwa pemeliharaan rutin gagal total.
Peserta aksi, mulai dari ASN hingga pelajar, bersenjatakan sapu kelud, sapu lidi, mesin pemotong rumput gendong, dan arit, bahu-membahu membersihkan tumpukan daun kering dan sampah lain. Sampah yang terkumpul langsung dimasukkan ke plastik besar, ditimbang, dan diangkut truk sampah.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Rembang mencatat total 369,5 kilogram sampah berhasil dikumpulkan. Mayoritas, 360 kilogram, adalah sampah organik, sementara 9,5 kilogram sisanya sampah anorganik. Seluruhnya langsung diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Landoh.
Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan cerminan nyata dari akumulasi sampah yang dibiarkan menumpuk di area publik vital. Kondisi ini mempertanyakan efektivitas program kebersihan harian dan keseriusan pemerintah daerah dalam menjaga citra pariwisata.
Pengakuan Kegagalan Pengelolaan
Bupati Harno menegaskan, “TRP Kartini ini merupakan ikon kita dulu, dipandang masih kurang bersih. Maka kita fokuskan di sini.” Pernyataan ini secara implisit mengakui kelalaian dalam menjaga aset pariwisata yang seharusnya menjadi daya tarik utama.
Harno juga mencoba membangkitkan semangat, “Mari kita jadikan semangat HPSN 2026 ini sebagai titik balik transformasi lingkungan kita. Dengan kerja bersama, kita yakin persoalan sampah dapat tuntas secara cepat dan berkelanjutan.” Namun, retorika “titik balik” ini justru menyoroti bahwa “titik” sebelumnya adalah kondisi yang buruk.
Kepala DLH Kabupaten Rembang, Ika Himawan Affandi, hanya melaporkan data, “Total sampah yang berhasil dikumpulkan ada 369,5 kilogram. Terdiri atas 360 kilogram sampah organik dan 9,5 kilogram sampah anorganik. Sampah ini langsung kami bawa ke TPA Landoh.” Ia juga “berharap” kesadaran masyarakat


