Indeks Saham Anjlok, Rosan Roeslani Desak Reformasi Pasar Investasi Buntut Skandal MSCI
Menteri Investasi Rosan Roeslani mendesak reformasi pasar modal setelah indeks saham anjlok hampir 7% dan kapitalisasi pasar IDX turun Rp 1.198 triliun. Gejolak dipicu kritik MSCI terkait transparansi. Rosan menekankan pentingnya kualitas, transparansi, dan tata kelola pasar saham untuk kepercayaan investor jangka panjang dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Menteri Investasi Rosan Roeslani menuntut percepatan reformasi pasar modal Indonesia pada Minggu, 1 Februari 2026. Desakan ini muncul di Jakarta, menyusul anjloknya indeks saham acuan hampir 7% dan hilangnya Rp 1.198 triliun (USD 71 miliar) kapitalisasi pasar dalam seminggu, dipicu kritik tajam penyedia indeks global MSCI Inc. yang menyoroti transparansi terbatas dan risiko transaksi terkoordinasi di Bursa Efek Indonesia (IDX).
Kerugian Pasar yang Mengkhawatirkan
Aksi jual masif di Bursa Efek Indonesia (IDX) memangkas total kapitalisasi pasar menjadi Rp 15.046 triliun (USD 896 miliar). Penurunan drastis ini menggarisbawahi rapuhnya kepercayaan investor terhadap integritas pasar modal domestik yang telah lama dipertanyakan.
Kritik Pedas dari MSCI
Pemicu utama gejolak ini adalah laporan MSCI Inc. yang secara eksplisit menunjuk pada “transparansi yang terbatas” dan “risiko transaksi terkoordinasi.” Kritik ini mengungkap kegagalan sistematis otoritas dalam menjaga keadilan dan kepercayaan di pasar ekuitas Indonesia.
Urgensi Reformasi yang Tertunda
Rosan menegaskan pasar modal berperan vital, menyumbang sekitar 29% terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun, kualitas pasar, termasuk integritas penemuan harga dan tata kelola yang kuat, jelas belum optimal. Keterlambatan reformasi kini memakan korban berupa kerugian triliunan rupiah.
Pengakuan Keterlambatan Reformasi
Rosan terang-terangan mengakui bahwa reformasi ini seharusnya sudah dilakukan sejak lama. “Ini adalah momen yang sangat baik untuk meningkatkan kualitas, transparansi, dan akuntabilitas bursa saham kita,” ujarnya dalam pertemuan di Jakarta. “Seharusnya ini sudah dilakukan sejak lama, tetapi sekaranglah saatnya untuk mempercepatnya.” Pernyataan ini secara implisit menuding kelalaian regulator sebelumnya.
Komitmen dan Kepercayaan Investor
Ia menambahkan, “Pasar modal kita berskala besar, jadi pasar ini harus memberikan kepercayaan jangka panjang bagi investor, dan keberlanjutannya harus dijaga.” Rosan menekankan pembentukan harga saham harus didorong mekanisme pasar yang adil, bukan transaksi yang dipertanyakan. BUMN, yang menguasai hampir 30% kapitalisasi pasar, menyatakan dukungan penuh terhadap agenda reformasi OJK, demi “memperkuat kepercayaan investor, baik di dalam negeri maupun internasional.”
Rosan Roeslani, yang juga menjabat kepala eksekutif dana kekayaan negara Danantara, melihat gejolak ini sebagai “peluang” untuk membangun fondasi pasar yang lebih kokoh. Pernyataan ini menyiratkan adanya fondasi yang lemah dan masalah struktural yang baru terungkap parah setelah dihantam krisis kepercayaan.