Inggris Cetak Sejarah: Bayi Pertama Lahir dari Rahim Donor Jenazah

2 min read
Historic UK First: Baby Born From Deceased Donor Womb

Dunia kedokteran reproduksi mencatat pencapaian penting. Bayi Hugo lahir di Inggris dari rahim transplantasi pendonor meninggal, menjadi kasus pertama. Ibunya, Grace Bell, penderita Sindrom MRKH, kini memiliki anak. Ini membuka harapan baru bagi wanita tanpa rahim untuk bisa hamil.

Historic UK First: Baby Born From Deceased Donor Womb

Bayi laki-laki bernama Hugo lahir di London sebelum Natal 2025, menandai tonggak sejarah medis kontroversial: ia adalah anak pertama di Inggris yang dilahirkan dari rahim hasil transplantasi dari pendonor yang telah meninggal dunia. Kelahiran ini, meski disebut sebagai “hadiah kehidupan” oleh ibunya, Grace Bell, sekaligus menyoroti kompleksitas dan beban medis di balik terobosan reproduksi yang mahal dan invasif ini.

Diagnosis MRKH dan Harapan Baru

Grace Bell, wanita berusia awal 30-an asal Kent, Inggris, didiagnosis Sindrom Mayer-Rokitansky-Küster-Hauser (MRKH) pada usia 16 tahun – sebuah kelainan bawaan yang membuatnya lahir tanpa rahim. Kondisi ini, yang diderita sekitar satu dari 5.000 perempuan, sebelumnya menutup harapan Grace untuk mengandung anak biologisnya sendiri. Perkembangan teknologi transplantasi organ kini membuka “peluang baru” yang penuh tantangan.

Prosedur Transplantasi Intensif

Kesempatan datang pada Juni 2024. Grace menjalani operasi transplantasi rahim selama 10 jam di Oxford, menerima organ dari pendonor yang telah meninggal. Prosedur rumit ini menjadikannya perempuan pertama di Inggris yang menerima rahim dari donor jenazah. Pencapaian ini digagas penelitian lebih dari 25 tahun oleh organisasi medis Womb Transplant UK di bawah pimpinan Profesor Richard Smith.

Tahapan IVF Pasca-Transplantasi

Setelah pemulihan pasca-operasi, tim medis melanjutkan dengan prosedur In Vitro Fertilization (IVF) atau bayi tabung. Metode ini krusial sebab rahim yang ditransplantasikan tidak terhubung secara alami dengan sistem reproduksi Grace. Embrio kemudian ditanamkan ke rahim baru, berujung pada kehamilan dan kelahiran Hugo yang dilaporkan sehat.

“Ini hadiah kehidupan yang tidak pernah saya bayangkan,” ujar Grace Bell, menggambarkan kebahagiaannya. Namun, euforia ini tidak menghapus fakta bahwa rahim yang ditransplantasikan tidak dimaksudkan untuk permanen.

Organ Temporer dan Risiko Jangka Panjang

Organ tersebut akan diangkat kembali setelah Grace menuntaskan rencana kehamilan masa depannya. Keputusan ini diambil untuk menghindarkannya dari konsumsi obat penekan sistem kekebalan tubuh (imunosupresan) seumur hidup, yang diperlukan untuk mencegah penolakan organ tetapi membawa risiko kesehatan jangka panjang.

Meski lebih dari 100 transplantasi rahim global telah menghasilkan 70+ kelahiran, kasus Hugo memaksa kita melihat batas antara harapan medis dan realitas beban fisik yang harus ditanggung pasien seumur hidupnya.

More like this