Inovasi MBG Dongkrak Produksi Susu Boyolali 400%: Suplai 2.000 Liter/Hari ke SPPG
Peningkatan produksi susu sapi PT Susu Boyolali Andalan mencapai empat kali lipat. Dari 500 liter, kini 2.000 liter per hari. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mendorong pertumbuhan ini, melibatkan UMKM lokal. Susu Boyolali Andalan menyuplai SPPG Jawa Tengah. Potensi susu Boyolali 100.000 liter, namun serapan MBG baru 20.000 liter.

Boyolali, Jawa Tengah, mencatat lonjakan produksi susu sapi segar lokal hingga empat kali lipat bagi PT Susu Boyolali Andalan, dipicu program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dimulai tahun lalu. Produksi harian pemasok ini melesat dari 500 liter menjadi 1.500-2.000 liter.
Namun, di balik angka fantastis itu, terkuak ironi tajam: potensi produksi susu peternak lokal se-Boyolali mencapai 100.000 liter per hari, sementara penyerapan oleh dapur MBG di wilayah itu hanya menyentuh 20.000 liter. Kesenjangan masif ini menelanjangi ketidakmampuan program menyerap potensi lokal secara optimal.
Ironi Penyerapan Susu Lokal
PT Susu Boyolali Andalan, yang sebelumnya hanya memproduksi 500 liter susu per hari, kini melonjak signifikan. Mereka mulai menyuplai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di sekitar Jawa Tengah sejak awal Januari 2025.
Peningkatan ini jelas menguntungkan pemasok tunggal tersebut, namun gagal menstimulasi penyerapan menyeluruh dari peternak lokal lain di Boyolali. Dea, pemilik PT Susu Boyolali Andalan, menyoroti pasokan susu lokal Boyolali jauh melebihi kebutuhan dapur MBG di wilayah itu.
Situasi ini menimbulkan pertanyaan serius tentang efektivitas koordinasi program MBG. Mengapa program yang bertujuan mulia ini tidak mampu memaksimalkan sumber daya lokal yang melimpah? Ini mengindikasikan adanya dislokasi antara kebutuhan program dan kapasitas produksi daerah.
Peternak lokal Boyolali, dengan kapasitas produksi 100.000 liter per hari, seharusnya menjadi tulang punggung pasokan susu untuk MBG. Namun, hanya seperlima dari potensi itu yang terserap.
Kesenjangan ini mengindikasikan bahwa sementara satu pihak meraup untung besar, potensi ekonomi lokal yang lebih luas terabaikan. Dapur MBG justru dikhawatirkan mengalami “kelangkaan” stok, padahal solusi ada di depan mata.
Dea mengungkap fakta mencolok, “Kemarin-kemarin sebelum ada program MBG kurang lebih kapasitas produksi kami sekitar 500 liter per harinya. Alhamdulillah saat ini sudah naik sekitar 3-4 kali lipat, di angka 1.500-2.000 liter per harinya.”
Ia menegaskan potensi besar yang terbuang, “Kurang lebih penyerapan untuk seluruh dapur MBG hanya membutuhkan sekitar 20.000 liter saja. Jadi sebetulnya potensi dari susu yang ada di Boyolali ini sangat mencukupi untuk Boyolali dan di luar Boyolali.”
Dea mendesak dapur MBG fokus pada produk lokal, “Apabila para dapur-dapur ini mau fokus menggunakan susu lokal, salah satunya produk susu pasteurisasi, maka kelangkaan yang dialami para dapur ini jelas akan berkurang.”
Evaluasi Mendesak Program MBG
Sebelum terlibat dalam MBG, PT Susu Boyolali Andalan telah menyuplai susu sapi pasteurisasi ke instansi seperti TNI, Polri, dan sekolah berasrama. Keterlibatan dalam MBG memang membuka pasar baru yang signifikan.
Namun, apresiasi Dea terhadap program MBG juga terselip harapan kritis: pelibatan UMKM lokal harus berkelanjutan dan merata agar manfaat program benar-benar dirasakan semua lapisan masyarakat, bukan hanya segelintir pemasok. Ini menyoroti perlunya evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme penyerapan produk lokal dalam program vital ini.