Jejak Pengrajin Jawa Tengah di Inacraft 2026: Dari Keramik Artistik hingga Bed Cover Batik

2 min read
Jejak Kerajinan Jawa Tengah di Inacraft 2026: Keramik Artistik & Bed Cover Batik

Inacraft 2026 di Jakarta International Convention Center menjadi panggung strategis bagi UMKM dan produk kerajinan unggulan Jawa Tengah. Paviliun Jawa Tengah menampilkan beragam karya kriya, termasuk batik, fesyen, keramik, dan kaligrafi kayu. Sebanyak 69 UMKM dari 14 kabupaten/kota berpartisipasi memamerkan produk unik.

Puluhan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Jawa Tengah membanjiri Jakarta International Handicraft Trade Fair (Inacraft) 2026 di JICC, 4-8 Februari, mempertaruhkan harapan ekspansi pasar di tengah ketergantungan pada pameran berskala besar untuk mendongkrak penjualan dan pengenalan produk mereka.

Wade Ceramic dari Blora, misalnya, memamerkan keramik stoneware bermotif daun jati asli, produk yang diklaim telah menembus pasar Jepang, Australia, dan Singapura. Namun, pemiliknya masih “berharap produk ini keluar dari Blora, kota saya semakin dikenal,” – sebuah pengakuan akan terbatasnya pengenalan di pasar domestik, bahkan setelah sukses ekspor.

Maharani Craft dari Pekalongan, berinovasi dengan bed cover bordir batik dari limbah perca konveksi. Meski mampu menciptakan nilai jual tinggi dari sampah, pengelola Ana Setiana mengakui belum mampu mengekspor langsung, masih mengandalkan “buyer dari Bandung” untuk penetrasi pasar internasional seperti Malaysia dan Singapura.

Sementara Kreasikayukuu asal Boyolali, dengan kaligrafi kayu andalannya, terang-terangan mencari “ilmu marketing dan juga jangkauan-jangkauan” untuk menggenjot penjualan offline yang selama ini didominasi daring. Ini mencerminkan tantangan UMKM secara umum dalam menguasai strategi pemasaran dan distribusi di luar platform digital.

Kesenjangan Pasar dan Keterbatasan Mandiri

Linda, pemilik Wade Ceramic, tidak menutupi ambisinya, “Saya berharap produk ini keluar dari Blora, kota saya semakin dikenal, semakin orang tahu bahwa di Blora ada potensi, ada pembuat keramik untuk mengangkat kota kami.” Senada, Ana Setiana dari Maharani Craft menyerukan, “Harapannya Indonesia jangan dipandang sebelah mata untuk kreasinya… kita harus menjadi nomor satu di dunia untuk produk kerajinan,” – sebuah optimisme yang berbanding lurus dengan beratnya persaingan global dan kebutuhan intervensi.

David Fahri Maulana dari Kreasikayukuu secara blak-blakan mengungkapkan kebutuhan mendesak, “Harapannya kami bisa mendapatkan ilmu marketing dan juga jangkauan-jangkauan supaya produk kami lebih menjual lagi. Selama ini masih di dunia online, harapannya offline juga bisa lebih menjual.” Pernyataan ini menegaskan celah besar dalam kapabilitas pemasaran UMKM di ranah luring.

Sokongan Pemerintah: Sebuah Keniscayaan?

Ketua Dekranasda Jateng, Nawal Arafah Yasin, mengklaim pihaknya membawa 22 stan dari 14 kabupaten/kota, melibatkan 69 pelaku UMKM – 90 persen di antaranya pengrajin perempuan – dengan produk terkurasi. Namun, intervensi promosi masif ini, yang diklaim sebagai “arahan Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin,” justru menyoroti ketergantungan UMKM pada sokongan pemerintah untuk sekadar bertahan dan merangkak di pasar yang kompetitif.

Jejak Pengrajin Jawa Tengah di Inacraft 2026: Dari Keramik Artistik hingga Bed Cover Batik
Jejak Pengrajin Jawa Tengah di Inacraft 2026: Dari Keramik Artistik hingga Bed Cover Batik
Jejak Pengrajin Jawa Tengah di Inacraft 2026: Dari Keramik Artistik hingga Bed Cover Batik
Jejak Pengrajin Jawa Tengah di Inacraft 2026: Dari Keramik Artistik hingga Bed Cover Batik
Jejak Pengrajin Jawa Tengah di Inacraft 2026: Dari Keramik Artistik hingga Bed Cover Batik
Jejak Pengrajin Jawa Tengah di Inacraft 2026: Dari Keramik Artistik hingga Bed Cover Batik
More like this