Kebijakan UMS: Diskon 50% S2 Bagi Lulusan PPG 2025, Strategi Tingkatkan Kualitas Pendidik?

3 min read
UMS Tawarkan Diskon 50% S2 untuk Lulusan PPG 2025: Tingkatkan Kualitas Pendidik?

Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menawarkan diskon 50% biaya program magister bagi lulusan Pendidikan Profesi Guru (PPG) 2025. Melalui skema Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), masa studi S2 dapat dipercepat menjadi satu tahun. Inisiatif ini mendorong peningkatan kompetensi guru pada prodi seperti Magister Administrasi Pendidikan dan Pendidikan Matematika. UMS menyiapkan total beasiswa Rp44 miliar.

UMS Tawarkan Diskon 50% S2 untuk Lulusan PPG 2025: Tingkatkan Kualitas Pendidik?

Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) meluncurkan diskon 50 persen untuk program magister bagi seluruh lulusan Pendidikan Profesi Guru (PPG) 2025 di Edutorium KH Ahmad Dahlan UMS, Solo, Jawa Tengah, Sabtu, 31 Januari 2026. Tawaran menggiurkan ini, diklaim sebagai apresiasi, justru menyisakan tanda tanya besar karena hanya berlaku dalam hitungan jam-pendaftaran ditutup pukul 14.00 WIB di hari yang sama-menghambat aksesibilitas bagi calon guru yang tak siap.

Kebijakan Mendadak dan Skema RPL

Rektor UMS Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., mengklaim diskon ini sebagai “apresiasi” atas talenta dan komitmen para guru. Namun, kebijakan dadakan ini, yang diumumkan saat Yudisium PPG, memaksa para lulusan untuk membuat keputusan finansial dan akademik penting dalam waktu singkat, berpotensi mengabaikan mereka yang tidak hadir atau tidak memiliki persiapan. Ini bukan “apresiasi” melainkan taktik pemasaran dengan deadline yang tidak masuk akal.

Skema Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) menjadi kunci, memungkinkan penyelesaian studi S2 hanya dalam satu tahun. Program magister yang masuk skema ini mencakup Administrasi Pendidikan, Pendidikan Bahasa Indonesia, Pendidikan Dasar, Pendidikan Bahasa Inggris, dan Pendidikan Matematika. Percepatan studi ini, meski terdengar efisien, patut dipertanyakan kualitas dan kedalaman pembelajarannya jika hanya ditempuh dalam waktu sesingkat itu.

Kontras mencolok terlihat dari pernyataan Harun tentang ketersediaan beasiswa UMS senilai Rp44 miliar yang terbagi dalam berbagai skema, termasuk Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan Lazismu, serta untuk alumni atau “siapapun yang memiliki talenta khusus”. Ketersediaan dana besar ini justru makin menyoroti keanehan diskon 50 persen yang dibatasi waktu ketat, seolah-olah program ini adalah kesempatan terakhir yang harus segera disambar, bukan bagian dari strategi beasiswa yang terstruktur.

Harun Joko Prayitno menegaskan, “Karena para guru ini sudah memiliki talenta, komitmen, dan kesungguhan dalam menyelesaikan profesi guru, maka UMS memberikan apresiasi beasiswa 50 persen melalui skema RPL tertentu.” Ia melanjutkan, “Supaya para guru nanti berdampak dan berkontribusi ketika menjalankan tugas sebagai guru profesional.” Pernyataan ini terdengar mulia, namun inkonsisten dengan mekanisme pelaksanaannya yang terburu-buru.

Salah satu lulusan PPG, Preselia Adi dari Ambon, yang langsung mendaftar Magister Pendidikan Matematika melalui skema RPL, mengakui program ini “Sangat membantu bagi guru seperti saya yang belum mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.” Meskipun demikian, pengalaman individu tidak menutupi fakta bahwa ribuan lulusan lain mungkin kehilangan kesempatan serupa karena keterbatasan waktu.

UMS, sebagai salah satu universitas swasta terkemuka, dikenal aktif menawarkan berbagai program beasiswa. Namun, insiden penawaran diskon magister yang tergesa-gesa ini mengikis citra inklusivitas dan transparansi, menunjukkan bahwa “apresiasi” terkadang lebih mirip strategi gimmick ketimbang komitmen nyata untuk pengembangan kompetensi guru secara merata. Ini menuntut evaluasi serius terhadap metode penyaluran bantuan pendidikan agar benar-benar mencapai sasaran tanpa memicu ketidakadilan.

More like this