Kendal: Peran Kunci Pesisir dalam Ekosistem Karbon Biru Nasional Terkuak.

2 min read
Kendal: Key Coastal Role in National Blue Carbon Ecosystem Revealed

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI mendorong pengembangan ekosistem karbon biru nasional di 16 kabupaten/kota Jawa Tengah, termasuk Kendal. Program 2026 ini bertujuan memulihkan ekosistem pesisir dan menurunkan emisi karbon. Kendal dipilih karena potensi mangrove penyerap karbon, krusial mitigasi perubahan iklim global.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI mendorong program “karbon biru” di 16 kabupaten/kota Pantura dan Selatan Jawa Tengah, dengan Kendal sebagai salah satu fokus utama. Program yang diklaim vital untuk pemulihan ekosistem pesisir dan mitigasi iklim ini, meski dijadwalkan mulai 2026, masih berkutat pada tahap perencanaan, menimbulkan keraguan atas implementasi di lapangan.

Kabupaten Kendal, dengan potensi ekosistem mangrovenya, dipilih menjadi lokasi kunci. Namun, ambisi besar ini belum melangkah jauh dari meja rapat, dengan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kendal mengakui bahwa inisiatif tersebut masih dalam fase penentuan lokasi dan sosialisasi.

Target Karbon Biru dan Potensi Mangrove

KKP menargetkan pemulihan ekosistem pesisir dan penyerapan emisi karbon melalui program ini. Klaimnya, ekosistem mangrove mampu menyimpan karbon tiga hingga lima kali lebih besar dibandingkan hutan darat, menjadikannya kunci dalam menekan dampak perubahan iklim global. Potensi inilah yang menjadi justifikasi utama pemilihan Kendal.

Tiga kecamatan di Kendal – Patebon (Desa Pidodo Kulon), Kangkung (Desa Jungsemi), dan Rowosari (Desa Sikucing hingga Desa Gempolsewu) – telah diusulkan sebagai lokasi penanaman mangrove. Jenis-jenis seperti Rhizophora dan Avicennia spp, yang dikenal memiliki daya serap karbon tinggi, akan menjadi fokus penanaman.

Lambatnya Implementasi di Lapangan

Meski demikian, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kendal, Hudi Sambodo, secara blak-blakan mengakui program pengembangan karbon biru nasional “masih tahap penentuan lokasi, sosialisasi, dan penyampaian pendapat”. Keterlibatan masyarakat, penghitungan luasan serta biaya, hingga identifikasi kesesuaian tata ruang, semuanya masih dalam proses. Ini menyoroti lambannya pergerakan di tengah desakan krisis iklim yang semakin nyata.

“Kabupaten Kendal masuk dalam 16 daerah pesisir Pantura Jawa Tengah, yang dipersiapkan untuk pengembangan karbon biru nasional,” ujar Hudi pada Sabtu (31/1/2026). Pernyataan ini menegaskan status Kendal sebagai daerah “persiapan”, bukan eksekusi nyata.

Hudi menambahkan, “Ekosistem mangrove di pesisir Kendal sangat potensial sebagai penyerap karbon, sehingga dinilai layak menjadi lokasi pengembangan karbon biru.” Sebuah pernyataan optimis, namun kontras dengan realitas bahwa program masih terperangkap di fase awal perencanaan.

Janji Tanpa Aksi Konkret

Inisiatif “karbon biru” ini muncul di tengah kebutuhan mendesak untuk menekan dampak perubahan iklim global. Namun, janji-janji penyerapan karbon melalui ekosistem pesisir seperti mangrove kerap terhambat birokrasi dan perencanaan yang berlarut-larut. Komitmen pemerintah dalam pengendalian iklim terancam hanya menjadi wacana belaka jika langkah konkret tidak segera diwujudkan.

Kendal: Peran Kunci Pesisir dalam Ekosistem Karbon Biru Nasional Terkuak.
More like this