Kepuasan Publik: 70% Nilai Kinerja Menteri Kabinet Merah Putih Positif, Ini Datanya.
Survei Cyrus Network April 2026 menunjukkan 70% responden puas kinerja menteri Kabinet Merah Putih di bawah Presiden Prabowo Subianto. Kemenko PMK tertinggi dengan 80,3%. Kementerian Keuangan memimpin dengan 89,2%. Survei melibatkan 1.260 responden dengan margin of error 2,8%.

Tujuh puluh persen publik diklaim puas dengan kinerja para menteri Kabinet Merah Putih di bawah Presiden Prabowo Subianto setelah 1,5 tahun menjabat. Klaim gemilang ini muncul dari survei terbaru Cyrus Network yang dirilis pada Selasa, 14 April 2026, di Jakarta, memicu pertanyaan tentang dasar penilaian di tengah berbagai tantangan nyata.
Laporan Survei Nasional Opini Publik April 2026 ini secara khusus menyoroti angka kepuasan 67,3 persen “puas” dan 2,7 persen “sangat puas”, menggenapi total 70 persen. Namun, survei yang sama juga mencatat 24 persen responden menyatakan “tidak puas” atau “sangat tidak puas”, sebuah angka yang tidak bisa diabaikan dalam cerminan kinerja pemerintahan.
Sorotan Kemenko dan Kementerian Unggulan
Hasil survei Cyrus Network memetakan kepuasan tinggi pada tujuh kementerian koordinator. Kementerian Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan menduduki puncak dengan 80,3 poin, diikuti ketat oleh Kemenko Pangan 80,1 poin, dan Kemenko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan 79,5 poin. Seluruhnya diberi label “sangat baik”, menunjukkan pola kepuasan yang merata di tingkat koordinator.
Kemenko Politik dan Keamanan (78,9 poin), Kemenko Pemberdayaan Masyarakat (78,6 poin), Kemenko Perekonomian (75,1 poin), serta Kemenko Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (74,1 poin) juga mencatatkan angka tinggi, dengan dua yang terakhir dilabeli “baik”. Peneliti Cyrus Network, Syahril Ilhami, menyebutkan “selisih nilainya sangat tipis dari peringkat pertama ke peringkat ketujuh,” mengindikasikan persebaran kepuasan yang nyaris sama.
Pada tingkat kementerian, Kementerian Keuangan memimpin dengan skor 89,2 poin, diberi label “sangat baik”. Ini diikuti oleh Kementerian Kesehatan (86,8 poin) dan Sekretariat Kabinet (86,3 poin).
Deretan sepuluh besar kementerian dengan kinerja terbaik menurut masyarakat juga mencakup Kementerian Pertanian (86,1 poin), Kementerian Pemuda dan Olahraga (86,0 poin), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (85,9 poin), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (85,6 poin), Kementerian Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak (85,6 poin), Kementerian Kebudayaan (85,3 poin), serta Kementerian Komunikasi dan Digital (85,1 poin). Semua kementerian ini, tanpa kecuali, diberi label “sangat baik” oleh survei.
Metodologi dan Akurasi Survei
Survei ini mengklaim akurasi 95 persen dengan margin of error sekitar 2,8 persen. Peneliti Cyrus Network, La Ode Abdul Rahman, menjelaskan metodologi multistage random sampling digunakan dengan 1.260 responden berumur minimal 17 tahun atau sudah menikah. Responden tersebar proporsional di 126 desa/kelurahan terpilih di 38 provinsi, dengan “kontrol kualitas dilakukan untuk menjaga akurasi dan reliabilitas data yang diperoleh.”
“Sebanyak 67,3 persen puas dan 2,7 persen sangat puas. Jadi total 70 persen,” tegas peneliti utama Cyrus Network, Syahril Ilhami, saat merilis Laporan Survei Nasional Opini Publik April 2026.
Ilhami menambahkan, “selisih nilainya sangat tipis dari peringkat pertama ke peringkat ketujuh,” menyoroti keseragaman penilaian pada jajaran kementerian koordinator.
Peneliti Cyrus Network lainnya, La Ode Abdul Rahman, mengklaim bahwa “kontrol kualitas dilakukan untuk menjaga akurasi dan reliabilitas data yang diperoleh,” sebagai jaminan metodologi survei.
Implikasi di Tengah Realitas
Survei ini bertujuan mengukur kinerja Kabinet Merah Putih dalam 1,5 tahun pertama. Namun, angka kepuasan masif ini patut dicermati lebih jauh, terutama mengingat tantangan ekonomi dan sosial yang masih menghimpit masyarakat.
Klaim kinerja “kinclong” melalui angka survei ini perlu diuji dengan indikator objektif dan pengalaman langsung publik, bukan sekadar persepsi yang bisa terbentuk dari berbagai faktor, termasuk narasi positif yang dominan.