3 min read
KKL Surabaya Program

Mahasiswa Prodi Manajemen dan Administrasi Logistik (MAL) Sekolah Vokasi Undip menjalani Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di Surabaya dan Bali pada 26-30 Januari 2026. KKL ini memberikan pengalaman praktik industri manajemen logistik, rantai pasok, dan bea cukai. Mahasiswa SV Undip KKL mengunjungi perusahaan serta kantor bea cukai, meningkatkan kompetensi profesional dan kesiapan kerja.

KKL Surabaya Program

Ratusan mahasiswa Program Studi Manajemen dan Administrasi Logistik (MAL) Sekolah Vokasi (SV) Universitas Diponegoro (Undip) menggelar Kuliah Kerja Lapangan (KKL) yang sarat pertanyaan efektivitasnya, melintasi Surabaya dan Bali pada 26-30 Januari 2026. Kegiatan ini, diklaim sebagai implementasi pembelajaran praktik industri, justru memicu spekulasi mengenai kedalaman pengalaman yang didapat, mengingat padatnya jadwal kunjungan di belasan lokasi berbeda dalam waktu singkat.

Rute Kunjungan yang Padat

KKL ini memecah mahasiswa ke berbagai titik. Angkatan 2024 menyasar PT Yakult Indonesia Persada di Mojokerto, Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean Tanjung Perak (KPPBC TMP) Surabaya, serta PT Integrasi Aviasi Solusi di Denpasar, Bali. Sementara itu, Angkatan 2023 menyambangi PT Terminal Petikemas Surabaya, PT Multi Terminal Indonesia – Surabaya, PT Cipta Krida Bahari Surabaya, KPPBC TMPA Ngurahrai, KPPBC TMPA Denpasar, hingga Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Klaim tujuan KKL adalah memberikan pengalaman langsung terkait penerapan manajemen logistik dan rantai pasok. Mahasiswa disebut-sebut harus memahami pengelolaan gudang, distribusi, transportasi, pengendalian persediaan, dan sistem logistik terintegrasi, termasuk operasional Bea dan Cukai. Namun, ambisi ini dipertanyakan mengingat skala dan durasi kunjungan yang sangat singkat untuk cakupan materi yang begitu luas.

Selama kegiatan, mahasiswa menerima pemaparan materi dari perusahaan, diiringi observasi langsung ke area operasional. Ini diklaim sebagai implementasi teori perkuliahan dalam konteks nyata. Namun, metode “pemaparan materi” dan “observasi langsung” dalam waktu singkat di banyak lokasi menimbulkan keraguan apakah mahasiswa benar-benar mendalami atau hanya sekadar melihat permukaan industri.

Dosen Pendamping Angkat Bicara

Riandhita Eri Werdani, salah satu dosen pendamping, menyatakan KKL ini “bertujuan untuk memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa terkait penerapan manajemen logistik dan rantai pasok di dunia industri, khususnya pada perusahaan manufaktur dan distribusi produk minuman kesehatan berskala nasional.” Pernyataan ini menegaskan fokus pada pemahaman praktis, tetapi gagal menjelaskan bagaimana pengalaman mendalam dapat tercapai di tengah jadwal yang begitu ketat.

Werdani menambahkan, “Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa mendapatkan pemaparan materi dari pihak perusahaan, sistem manajemen logistik modern, serta standar operasional prosedur (SOP) yang diterapkan untuk menjamin kualitas dan ketepatan distribusi produk ke konsumen.” Ia juga menyebut mahasiswa melakukan observasi langsung. Penekanan pada “pemaparan materi” dan “observasi” tanpa detail interaksi atau proyek nyata justru menguatkan kesan KKL ini lebih bersifat kunjungan biasa daripada praktik kerja lapangan substantif.

KKL ini, yang berlangsung pada 26-30 Januari 2026, merupakan bagian dari kurikulum vokasi Undip yang mengklaim “link and match” dengan industri. Namun, tanpa evaluasi mendalam terhadap dampak nyata pada kompetensi mahasiswa, kegiatan ini berisiko sekadar menjadi agenda rutin yang memboroskan sumber daya tanpa mencapai tujuan pendidikan vokasi yang sesungguhnya.

More like this