Lebaran Hambar Bukan Ciri Kedewasaan: Waspada, Itu Bisa Jadi Sinyal Kamu Mati Rasa.

3 min read
Lebaran Hambar Bukan Kedewasaan: Hati-hati, Itu Sinyal Mati Rasa.

Persepsi makna Lebaran sering berubah saat dewasa. Lebaran terasa membosankan bukan karena pendewasaan, melainkan kurangnya inisiatif individu memperbarui makna. Sebaliknya, tahap dewasa memungkinkan penciptaan makna Lebaran yang lebih variatif dan pribadi. Penting untuk aktif memberi makna, menghindari Lebaran hanya sebagai tradisi repetitif. Dengan demikian, Lebaran tetap relevan.

Lebaran Hambar Bukan Kedewasaan: Hati-hati, Itu Sinyal Mati Rasa.

Penulis Karina Londy menghantam balik narasi yang menyatakan Lebaran membosankan adalah fase lumrah kedewasaan. Londy menohok, kebosanan itu bukan takdir usia, melainkan cermin kemalasan individu untuk menciptakan dan memperbarui makna perayaan. Opini tajam ini memicu debat di tengah masyarakat menjelang momen Idulfitri, menuntut tiap orang dewasa untuk introspeksi.

Londy secara tegas menolak pandangan sebelumnya yang menyebut banyak hal, termasuk Lebaran, minim makna seiring bertambahnya usia. Ia justru membalikkan logika, menegaskan bahwa makna tidak muncul begitu saja—melainkan harus diciptakan. Kedewasaan seharusnya menjadi momentum peningkatan kemampuan individu untuk menyematkan arti, bukan alasan untuk membiarkan momen sakral ini kehilangan esensinya.

Memperbarui Makna, Bukan Menunggu Hampa

Argumen Londy menyerang inti kepasifan. Ia menyatakan, bila orang dewasa mengabaikan kekuatan untuk memberi makna, mereka akan kehilangan kendali atas rasa dalam hidup, terutama pada Lebaran yang kerap dianggap repetitif. Kebosanan yang muncul bukan karena “sudah dewasa”, melainkan karena “malas” memperbarui makna yang tak lagi relevan.

Ketika kecil, Lebaran identik dengan keseruan angpau dan bermain bersama sepupu. Namun, saat dewasa, realitas itu pudar. Angpau berkurang, kini giliran memberi. Londy menekankan, momen inilah yang seharusnya membuka ruang bagi makna baru, lebih variatif, yang bersumber dari kehendak bebas seorang dewasa. Batasannya hanya ada pada pikiran dan tingkat kemauan—bukan pada usia.

Ia menawarkan contoh pribadi yang menusuk: baginya, makna Lebaran kini adalah kesibukan “marandang” atau membuat rendang. Tradisi ini menjadi koneksi kuat dengan mendiang neneknya yang berdarah Minang, sebuah cara otentik untuk mengenang dan merasakan kehadiran sosok yang dirindukan. Ini bukan sekadar menggugurkan kewajiban, melainkan menciptakan jembatan emosional yang dalam.

Londy juga menyentil realitas bahwa mencari makna sering dianggap sulit di tengah tuntutan hidup yang melelahkan. Namun, ia mengingatkan, hari-hari bermakna harus diupayakan, terutama pada Lebaran yang hanya datang setahun sekali. Tanpa makna, hidup akan hampa, berlalu begitu saja sebagai penonton, bukan pelaku.

Pilihan: Gairah atau Mati Rasa

“Fase pendewasaan menuntun kita untuk sadar bahwa banyak hal di dunia ini minim dengan makna,” demikian pandangan yang dibantah Londy.

Londy membalas, “Lebaran membosankan itu bukan karena kita sudah dewasa. Tapi karena kita saja yang ‘malas’ memperbarui makna Lebaran ketika makna yang sebelumnya sudah nggak relatable lagi.”

Ia menutup kritiknya dengan seruan: “Hidup itu cuma sekali. Lebaran pun hanya sekali-dua kali dalam setahun. Lebih baik diisi dengan gairah daripada menyerah dan mati rasa begitu saja, bukan?” Ini adalah ultimatum bagi setiap individu untuk mengambil peran aktif dalam hidup mereka.

Opini Londy ini hadir sebagai antitesis terhadap narasi umum tentang Lebaran yang kehilangan gairah bagi orang dewasa. Ini memaksa setiap individu untuk merenung dan bertindak sebagai pelaku, bukan sekadar penerima, dalam menciptakan pengalaman hidup yang bermakna.

More like this