LPOI Desak Iran: Buka Selat Hormuz untuk Kapal Tangker Indonesia

3 min read
LPOI Demands Iran Open Strait of Hormuz for Indonesian Tankers

Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) berkirim surat kepada pemimpin Iran. LPOI meminta izin kapal tangker Indonesia melintas Selat Hormuz. Ketua Umum LPOI, Said Aqil Siroj, mendukung kedaulatan Iran, namun mengajukan permohonan ini demi menjaga kedaulatan energi nasional Indonesia.

LPOI Demands Iran Open Strait of Hormuz for Indonesian Tankers

Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) mendadak putar haluan. Setelah terang-terangan mendukung penguasaan Iran atas Selat Hormuz, kini LPOI justru memohon izin khusus agar kapal tanker Indonesia dapat melintas di jalur vital tersebut. Manuver politik ini terkuak melalui surat terbuka yang dikirim LPOI kepada jajaran pemimpin Iran, dikutip Sabtu (18/4/2026).

Permintaan izin istimewa ini mencuat setelah Ketua Umum LPOI, Said Aqil Siroj, sebelumnya membenarkan langkah Iran menguasai Selat Hormuz sebagai bagian dari upaya menjaga kedaulatan negara. Kini, demi “kedaulatan energi nasional” Indonesia, LPOI menuntut pengecualian dari kebijakan yang mereka dukung sendiri.

Dukungan Berbalut Permohonan

LPOI, gabungan sejumlah Ormas Islam Indonesia, awalnya menyuarakan dukungan penuh terhadap kebijakan Iran di Selat Hormuz. Mereka memandang kontrol Iran atas selat itu sebagai hak berdaulat. Ironisnya, dukungan itu kini menguap menjadi permohonan pragmatis.

Permintaan tersebut secara eksplisit meminta pengawalan keamanan untuk kapal tanker Indonesia, khususnya bagi yang “mungkin masih berada di sana.” Ini menimbulkan pertanyaan serius tentang status kapal-kapal Indonesia di tengah ketegangan regional.

Selat Hormuz sendiri merupakan urat nadi maritim global, jalur krusial bagi sepertiga pasokan minyak dunia. Penguasaan Iran atas selat ini selalu menjadi titik panas geopolitik, memicu ancaman dan ketegangan internasional.

Langkah LPOI ini memicu spekulasi: apakah ini bentuk politik dua muka? Atau sekadar upaya penyelamatan diri setelah menyuarakan dukungan yang berpotensi merugikan kepentingan energi nasional?

Permintaan “dengan segala kerendahan hati” ini seolah menampar pernyataan dukungan sebelumnya, menyingkap prioritas yang bergeser dari solidaritas ideologis ke kebutuhan praktis.

Suara Said Aqil Siroj

Ketua Umum LPOI, Said Aqil Siroj, melontarkan pernyataan yang kontradiktif dalam suratnya. Ia menempatkan dukungannya pada kedaulatan Iran, namun sekaligus meminta pengecualian.

“Kami masyarakat muslim dan organisasi-organisasi Islam Indonesia dan bangsa Indonesia sangat memahami, menghormati dan mendukung kebijakan penguasaan terkait Selat Hormouz, sebagai bagian dari ikhtiar menjaga kedaulatan Tanah Air, karena hubbul wathon mina/iman,” tulis Said Aqil, membenarkan klaim Iran atas dasar patriotisme keagamaan.

Namun, di paragraf berikutnya, nada berubah drastis. Said Aqil memohon kelonggaran. “Dengan segala kerendahan hati, sebagai salah satu ikhtiar kemaslahan umat Islam Indonesia dan untuk menjaga kedaulatan energi Bangsa Indonesia. Melalui surat ini, mohon kiranya dapat diizinkan kapal tangker bangsa kami untuk dapat melintas dengan pengawalan keamanan, khususnya untuk kapal tangker bangsa kami yang mungkin masih berada di sana,” pintanya.

Pernyataan ini jelas menunjukkan tarik-menarik antara dukungan ideologis dan desakan kepentingan nasional yang mendesak, menempatkan LPOI dalam posisi yang canggung.

Latar Belakang Krusial

LPOI merupakan organisasi payung yang menghimpun berbagai Ormas Islam di Indonesia. Aksi mereka mengirim surat ke Iran ini bukan sekadar pernyataan solidaritas, melainkan intervensi langsung dalam isu geopolitik yang sensitif. Selat Hormuz telah lama menjadi arena ketegangan, dengan Iran berulang kali mengancam blokade sebagai respons terhadap sanksi atau tekanan asing. Ini membuat setiap pergerakan diplomatik terkait selat tersebut menjadi sorotan tajam.

More like this