Mahasiswa UMS Bawa Brisk AI: Lompatan Pembelajaran Digital di MIM Ngancar

2 min read
Mahasiswa UMS Hadirkan Brisk AI: Lompatan Pembelajaran Digital di MIM Ngancar

Mahasiswa KKN-DIK FKIP UMS mendorong transformasi pembelajaran digital. Workshop Smart Teaching: Efisiensi Kinerja Pendidik melalui Brisk AI digelar di MIM Ngancar, Wonogiri. Brisk AI diperkenalkan untuk bantu guru menyusun perangkat ajar, merancang materi, dan meningkatkan efisiensi kinerja pendidik. Pendekatan praktik langsung diterapkan.

Mahasiswa UMS Hadirkan Brisk AI: Lompatan Pembelajaran Digital di MIM Ngancar

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pendidikan (KKN-DIK) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) baru saja menggelar “Workshop Smart Teaching: Efisiensi Kinerja Pendidik melalui Brisk AI” di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Ngancar, Wonogiri, Jawa Tengah, Kamis (22/1). Langkah ini, yang diklaim sebagai dorongan transformasi pembelajaran digital, justru menyoroti betapa minimnya intervensi nyata dalam menghadapi masifnya tantangan kecerdasan buatan (AI) di sektor pendidikan dasar.

Workshop tersebut secara spesifik memperkenalkan Brisk AI, sebuah platform kecerdasan buatan, kepada para guru. Tujuannya jelas: membantu pendidik menyusun perangkat ajar, merancang materi, dan meningkatkan efisiensi kinerja. Mahasiswa KKN-DIK memilih pendekatan praktik teknis langsung, mendampingi guru mencoba berbagai fitur Brisk AI.

Efisiensi Semu di Tengah Kesenjangan Digital

Fokus pada “efisiensi kinerja” melalui satu alat AI seperti Brisk AI menimbulkan pertanyaan serius. Apakah workshop singkat ini cukup membekali guru dengan pemahaman mendalam tentang AI, atau justru menciptakan ketergantungan pada solusi tunggal tanpa membangun kompetensi digital fundamental? Respons positif dari para guru MIM Ngancar, yang aktif mengikuti sesi praktik dan diskusi, bisa jadi hanya euforia sesaat, bukan indikator transformasi berkelanjutan.

Penerapan AI dalam pendidikan dasar memerlukan lebih dari sekadar pengenalan aplikasi. Infrastruktur memadai, akses internet stabil, dan program pelatihan berjenjang adalah prasyarat mutlak yang seringkali luput dari perhatian dalam program-program singkat semacam ini. Tanpa ekosistem pendukung yang kuat, “Smart Teaching” hanya menjadi jargon kosong.

Ketua KKN-DIK, Taufik, menyatakan ambisi mereka. “Melalui workshop ini, kami ingin guru dapat langsung mempraktikkan pemanfaatan Brisk AI sesuai kebutuhan pembelajaran di kelas. Teknologi diharapkan mampu membantu kinerja guru menjadi lebih efisien tanpa mengurangi kualitas pembelajaran,” ujarnya.

Pernyataan Taufik, meski optimistis, gagal menjelaskan bagaimana efisiensi ini akan terukur secara objektif dan bagaimana kualitas pembelajaran dijamin tetap terjaga, atau bahkan meningkat, dengan intervensi singkat tersebut. Narasi “tanpa mengurangi kualitas” justru mengindikasikan kekhawatiran implisit terhadap dampak AI yang belum teruji sepenuhnya di lapangan.

Kegiatan ini, yang berlangsung pada Kamis (22/1), merupakan bagian dari klaim komitmen mahasiswa UMS dalam menjawab tantangan perkembangan AI yang masif dan berpengaruh terhadap dunia pendidikan. Namun, komitmen tersebut masih sebatas inisiatif tunggal yang jauh dari upaya sistematis dan berkelanjutan untuk benar-benar mengintegrasikan AI dalam kurikulum dan praktik mengajar sehari-hari di sekolah-sekolah dasar.

More like this