Mak Ijah, Benteng Terakhir Abrasi Sayung: Dihadiahi Rumah Apung, Solusi Pemprov Jateng

3 min read
Mak Ijah, Benteng Terakhir Abrasi Sayung: Dihadiahi Rumah Apung, Solusi Pemprov Jateng

Mak Jah, pejuang abrasi di Demak, aktif menanam dan merawat mangrove di Desa Bedono, Sayung. Bertahan di rumahnya meski dikelilingi laut, ia kini menerima bantuan rumah apung dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Ini solusi adaptif untuk mengatasi rob dan menjaga lingkungan pesisir. Total 20 rumah apung akan dibangun di Demak.

Pasijah, atau Mak Jah (56), “pejuang terakhir” abrasi Demak, kini menerima rumah apung dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Bantuan ini datang setelah puluhan tahun Mak Jah berjuang sendirian menanam mangrove di Dusun Rejosari Senik, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, sebuah desa yang kini sepenuhnya terendam laut.

Mak Jah dan keluarganya menjadi satu-satunya yang bertahan di tengah lautan, sementara sekitar 200 kepala keluarga lainnya telah menyerah dan meninggalkan kampung halaman mereka. Rumah apung ini, yang diberikan atas perhatian Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, menjadi pengakuan atas perjuangan gigih Mak Jah yang dijuluki “Kartini Laut Sayung.”

Desa yang Hilang Ditelan Abrasi

Dulu, Dusun Rejosari Senik adalah desa subur dengan hamparan sawah dan lahan palawija. Pisang, cabai, padi, pepaya, hingga kelapa tumbuh melimpah, menjadi sumber penghidupan utama warga. Namun, sejak tahun 2000, air rob mulai rutin datang, perlahan mengubah wajah desa.

Kondisi memburuk drastis sekitar tahun 2010. Sebagian besar wilayah desa telah berubah menjadi lautan. Di tengah kehancuran ini, Mak Jah menolak pergi. Dia memilih bertahan, memulai perjuangan mandiri menanam mangrove di sekitar rumahnya, bahkan membuat bibit sendiri karena keterbatasan pasokan.

Ketelatenan Mak Jah membuahkan hasil. Kawasan di sekitar rumahnya kini ditumbuhi mangrove lebat, berfungsi sebagai penahan abrasi dan habitat vital bagi ikan, kepiting, udang, serta burung. Namun, hidup di tengah genangan laut tetap penuh tantangan; Mak Jah harus menempuh perjalanan 15-30 menit dengan perahu ke daratan untuk kebutuhan sehari-hari.

Rumah lamanya pun ia rawat sendiri, ditinggikan sedikit demi sedikit menggunakan pasir dan semen, memanfaatkan material dari rumah-rumah warga yang telah roboh. Perjuangan ini berlangsung tanpa bantuan signifikan selama bertahun-tahun, menyoroti lambatnya respons pemerintah terhadap krisis lingkungan yang melumpuhkan desa tersebut.

Solusi Adaptif di Tengah Keterlambatan

“Dulu desa ini awalnya petani, ada sawah, palawija, semuanya ada. Tapi sejak tahun 2000 mulai sering kena rob. Lama-lama airnya makin naik, makin tinggi,” kisah Mak Jah pada Jumat (24/4/2026), menggambarkan kehancuran yang terjadi.

Mak Jah mengaku sangat bersyukur atas bantuan rumah apung ini. “Senang sekali. Kalau rob besar bisa dipakai untuk tinggal. Saya akan tetap merawat mangrove ke depan,” ujarnya, menegaskan komitmennya meski tantangan gelombang besar kerap merusak bibit baru.

Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Disperakim) Provinsi Jawa Tengah, Boedyo Dharmawan, menyebut bantuan rumah apung sebagai “salah satu solusi adaptif” untuk persoalan lingkungan pesisir di Desa Timbulsloko dan Desa Bedono. Bantuan ini merupakan usulan dari Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin, sebagai bagian dari program PKK Siaga dan Tanggap Bencana (Sigab).

Latar Belakang Krisis dan Respons Pemerintah

Krisis abrasi di Demak, khususnya di Kecamatan Sayung, telah berlangsung lebih dari dua dekade, mengubah daratan menjadi lautan dan memaksa ratusan keluarga mengungsi. Perjuangan Mak Jah menjadi simbol ketahanan di tengah kelalaian penanganan masalah lingkungan yang masif.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Demak dan Bank Jateng, kini mengklaim telah membangun 15 unit rumah apung hingga akhir 2025. Pada tahun 2026, total 20 unit rumah apung direncanakan, 17 di antaranya bersumber dari APBD Provinsi Jawa Tengah, sebuah langkah yang terlambat namun krusial dalam menghadapi dampak abrasi yang tak terbendung.

Mak Ijah, Benteng Terakhir Abrasi Sayung: Dihadiahi Rumah Apung, Solusi Pemprov Jateng
Mak Ijah, Benteng Terakhir Abrasi Sayung: Dihadiahi Rumah Apung, Solusi Pemprov Jateng
Mak Ijah, Benteng Terakhir Abrasi Sayung: Dihadiahi Rumah Apung, Solusi Pemprov Jateng
Mak Ijah, Benteng Terakhir Abrasi Sayung: Dihadiahi Rumah Apung, Solusi Pemprov Jateng
Mak Ijah, Benteng Terakhir Abrasi Sayung: Dihadiahi Rumah Apung, Solusi Pemprov Jateng
Mak Ijah, Benteng Terakhir Abrasi Sayung: Dihadiahi Rumah Apung, Solusi Pemprov Jateng
More like this