Masjid Bersejarah Boyolali Ludes Terbakar, Gus Yasin Respons Cepat Salurkan Bantuan Rp80 Juta
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, meninjau Masjid Jami’ Jalaluddin Masrosyid Boyolali yang terbakar. Gus Yasin menyalurkan bantuan Rp80 juta dan menawarkan solusi perbaikan masjid serta Madrasah Diniyah Raudhatul Ihsan yang terdampak. Masjid bersejarah ini akan dibangun permanen, sementara atap madrasah segera diperbaiki.
Api melahap habis Masjid Jami’ Jalaluddin Masrosyid dan Madrasah Diniyah Raudhatul Ihsan di Desa Kendel, Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali, Kamis (19/3/2026) dini hari. Seminggu pasca-bencana, Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin) baru meninjau lokasi, membawa bantuan Rp80 juta dan menjanjikan pembangunan kembali.
Insiden ini menelanjangi kerentanan infrastruktur di daerah terpencil dan lambatnya respons pemerintah daerah. Ketergantungan pada “atensi serius” pejabat untuk penanganan bencana menyoroti absennya sistem mitigasi dan tanggap darurat yang efektif.
Kebakaran dan Dampak Parah
Masjid Jami’ Jalaluddin Masrosyid, bangunan bersejarah berusia lebih dari satu abad, ludes terbakar sekitar pukul 03.30 WIB. Diduga kuat akibat korsleting listrik, api dengan cepat melahap seluruh bangunan berbahan kayu jati tersebut. Hanya bagian tempat wudhu yang terbuat dari tembok tersisa.
Madrasah Diniyah Raudhatul Ihsan di belakang masjid juga tak luput dari amukan api. Atap madrasah rusak parah, menghentikan total aktivitas belajar mengajar para santri. Ironisnya, madrasah ini baru direnovasi dua tahun lalu.
Warga Desa Kendel kini terpaksa mendirikan tenda darurat di pelataran masjid untuk melanjutkan ibadah. Kondisi ini menjadi bukti nyata betapa parahnya dampak kebakaran terhadap kehidupan keagamaan dan pendidikan di desa tersebut.
Jarak pemadam kebakaran yang jauh dari lokasi menjadi faktor krusial kegagalan warga memadamkan api. Api terlanjur membesar sebelum bantuan tiba, mengungkap minimnya fasilitas darurat di wilayah pelosok.
Kunjungan dan Janji Pejabat
Kamis (26/3/2026) siang, seminggu setelah kebakaran, Gus Yasin bersama istrinya Nawal Arafah Yasin, mengunjungi lokasi. Kunjungan ini membawa bantuan total Rp80 juta, terdiri dari Rp30 juta dari Baznas Jawa Tengah dan Rp50 juta dari Ketua TP PKK Jateng.
Selain bantuan tunai, Gus Yasin juga menawarkan solusi konkret untuk pembangunan kembali. Perbaikan atap madrasah, yang diperkirakan menelan Rp36 juta, akan dibantu langsung oleh rekan kontraktor Wagub. Sementara itu, pembangunan kembali masjid secara permanen dengan beton dua lantai, estimasi anggaran mencapai Rp3,7 miliar, masih menunggu proposal dari pemerintah desa.
Suara dari Lapangan
Kepala Desa Kendel, Kusmanto Hadikusumo Wijoyodiningrat, menyatakan rasa syukur atas kehadiran Gus Yasin. “Beliau langsung tanggap dan langsung menuju lokasi sendiri. Ya, alhamdulillah beliau berkenan hadir di dukuh yang sangat terpencil dan pelosok ini. Kami bersyukur sekali,” ujarnya, meski “ketanggapan” tersebut datang seminggu setelah musibah.
Muhammad Toha, Takmir Masjid, menjelaskan, “Diduga karena gangguan listrik. Warga tidak mampu memadamkan api, sementara jarak pemadam cukup jauh, sehingga api sudah terlanjur membesar.” Pernyataan ini menegaskan kegagalan sistematis dalam penanganan darurat.
Sufyani, Kepala Madrasah Diniyah Raudhatul Ihsan, menambahkan, “Ini murni musibah. Masjid ini juga sudah sangat tua, lebih dari satu abad, dan seluruhnya dari kayu jati, sehingga api cepat merambat.” Ia berharap perbaikan segera dilakukan, namun tanpa kepastian jadwal.
Latar Belakang dan Tuntutan
Masjid Jami’ Jalaluddin Masrosyid, sebagai bangunan bersejarah, seharusnya mendapat perhatian khusus dalam hal mitigasi bencana. Material kayu jati yang rentan api dan dugaan korsleting listrik menunjukkan kelalaian dalam pengawasan dan pemeliharaan infrastruktur vital.
Musibah ini bukan sekadar insiden lokal. Ia mengungkap kebutuhan mendesak akan infrastruktur mitigasi bencana yang memadai, respons cepat dari pemerintah, dan mekanisme bantuan yang terstruktur di wilayah pelosok, bukan sekadar janji bantuan pasca-musibah yang bergantung pada “atensi serius” pejabat.









