Melampaui Jeruji: Dapur MBG Tangerang Berdayakan 11 Napi Jadi Relawan Pencuci Ompreng
SPPG Babakan Tangerang melibatkan 11 narapidana Lapas Kelas 1 Tangerang sebagai relawan pencuci ompreng. Kolaborasi ini menggabungkan pelayanan gizi dan pemberdayaan sosial di dapur Makan Bergizi Gratis. Warga binaan bertugas di bawah pengawasan ketat, tidak terlibat pengolahan makanan, sebagai bagian dari pembinaan.

Sebelas narapidana Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas 1 Tangerang kini bekerja sebagai “relawan” pencuci ompreng untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Babakan, yang beroperasi di dalam area Lapas itu sendiri. Keterlibatan warga binaan ini, diklaim sebagai bentuk pemberdayaan sosial, justru memunculkan pertanyaan kritis tentang potensi eksploitasi tenaga kerja murah di balik dalih rehabilitasi.
Inisiatif ini menempatkan 11 narapidana yang akan segera bebas pada pekerjaan pencucian alat makan, sebuah tugas berulang yang krusial bagi operasional dapur MBG. Namun, status “relawan” bagi mereka yang berada di bawah sistem pemasyarakatan patut dipertanyakan, mengingat keterbatasan pilihan dan kontrol penuh dari pihak Lapas.
Operasional Dapur di Balik Jeruji
Para narapidana yang direkrut ini disebut sebagai warga binaan yang telah memperoleh remisi. Mereka ditempatkan hanya pada tugas pencucian ompreng, secara tegas dilarang menyentuh makanan atau menggunakan peralatan tajam, membatasi peran mereka pada pekerjaan kasar dan berulang yang minim keterampilan.
Seluruh aktivitas mereka berlangsung di bawah pengawasan ketat petugas Lapas. Kepala Koki dapur SPPG Babakan, Chef Kuming, memastikan pengawasan intensif ini, bahkan hingga larut malam. “Dari jam 2 siang, bahkan mereka pernah lembur sampai jam 2 pagi. Pihak sipir 4-5 orang masih tetap standby di sini,” jelas Kuming, menyoroti jam kerja panjang di bawah penjagaan berlapis.
Meskipun demikian, Kuming memuji kinerja para narapidana. Ia menyebut mereka sangat disiplin, terutama dalam menjaga kebersihan dan kerapian. “Omprengnya ini saya bilang perfect, clean,” katanya, membandingkan dengan SPPG lain yang seringkali meninggalkan ompreng basah.
Klaim disiplin tinggi ini, walau diapresiasi, menimbulkan pertanyaan: apakah lingkungan penjara yang menuntut kepatuhan mutlak secara tidak langsung dimanfaatkan untuk menciptakan tenaga kerja yang patuh dan efisien? Sebelum bekerja, warga binaan menerima pembekalan standar operasional pencucian ompreng, mulai dari pembilasan, pencucian, hingga sterilisasi.
Penempatan dapur SPPG Babakan di dalam area Lapas Kelas 1 Tangerang sendiri menjadi sorotan. Keputusan ini, yang mungkin bertujuan efisiensi logistik, justru memperkuat kesan bahwa program gizi gratis pemerintah ini bergantung pada sumber daya dan tenaga kerja dari sistem pemasyarakatan.
Pujian di Tengah Pertanyaan
Head Chef dapur SPPG Babakan, Chef Kuming, mengonfirmasi kolaborasi ini. Ia menyatakan, “Kita bekerja sama dengan Lapas, dan kita memberikan slot, bukan slot atau tempat yang kemudian diberikan kepada anak-anak Lapas, binaan Lapas. Itu sekitar 11 orang.” Ini menunjukkan inisiatif perekrutan berasal dari SPPG, bukan sepenuhnya inisiatif mandiri dari Lapas.
Kuming juga menekankan pengawasan ketat terhadap para narapidana. “Dari jam 2 siang, bahkan mereka pernah lembur sampai jam 2 pagi. Pihak sipir 4-5 orang masih tetap standby di sini. Jagain di pintu depan, di pintu belakang, sama di jendela gitu. Jadi insya Allah aman,” ujarnya, menggambarkan kondisi kerja yang jauh dari kesan “sukarela” biasa.
Kualitas kerja para narapidana tak luput dari pujian Kuming. Ia bahkan membandingkan dengan SPPG lain. “Entah gimana mungkin mereka sudah terbiasa disiplin gitu. Omprengnya ini saya bilang perfect, clean. Jadi ini luar biasa sih buat binan LAPAS ini. Ini keren,” tambahnya, memuji efisiensi yang dicapai.
Batas Tipis Pemberdayaan dan Eksploitasi
Di balik klaim positif ini, harapan keterlibatan warga binaan sebagai bagian dari “pembinaan dan pemberdayaan” untuk menyiapkan mental dan psikologis mereka sebelum kembali ke masyarakat menjadi ironis. Pertanyaannya mengemuka: apakah mencuci ompreng adalah bentuk pemberdayaan yang efektif, atau sekadar solusi praktis untuk kebutuhan tenaga kerja program pemerintah?
Program Makan Bergizi Gratis sendiri, yang didukung oleh sumber daya pemerintah, kini terekspos menggunakan tenaga kerja narapidana yang berstatus “relawan”. Ini membuka celah kritik atas bagaimana program sosial pemerintah dijalankan, dan sejauh mana batas antara rehabilitasi dan eksploitasi tenaga kerja dapat dibedakan.