Menag Meneropong Masa Depan: Tasawuf, Kunci Esensial Keselamatan Bumi.

2 min read
Menag's Vision: Sufism, The Essential Key to Earth's Salvation

Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan tasawuf kunci keselamatan masa depan bumi. Ini penting di tengah kerusakan ekologis parah. Beliau menyampaikan ini saat kuliah umum di UIN Walisongo Semarang. Tasawuf mampu menyelamatkan alam semesta dan menjinakkan pikiran eksploitatif manusia.

Menag's Vision: Sufism, The Essential Key to Earth's Salvation

Menteri Agama Nasaruddin Umar mengklaim tasawuf sebagai satu-satunya “kunci keselamatan masa depan bumi” di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Jumat (6/2/2026). Pernyataan ini muncul di tengah krisis ekologis global yang semakin parah, melemparkan tanggung jawab penyelamatan lingkungan ke ranah spiritual-filosofis.

Umar, yang juga menjabat Imam Besar Masjid Istiqlal, mendesak pendekatan ulang teologi Islam konvensional. Ia menuding kegagalan manusia memahami kedudukannya sebagai khalifah menjadi penyebab kerusakan lingkungan, sementara tasawuf, yang selama ini dianggap “kurang atau sekadar pelengkap,” justru menjadi jawaban krusial atas mentalitas eksploitatif.

Klaim Solusi Spiritual di Tengah Krisis Nyata

Pandangan ini menempatkan tasawuf, praktik mistik Islam yang sering diisolasi dari realitas sosial, sebagai garda terdepan penanganan kerusakan alam. Ini menggeser fokus dari intervensi kebijakan konkret atau regulasi lingkungan yang dibutuhkan, ke arah transformasi spiritual yang abstrak.

Dalam kuliah umumnya, Umar membedah konsep teofani dan eksistensi manusia melalui terminologi sufi, termasuk hakikat Nur Muhammad serta keseimbangan makrokosmos-mikrokosmos. Ia memaparkan hierarki spiritual dari Alam Ruh hingga Alam Jabarut, menegaskan manusia tak boleh merasa terpisah dari entitas kosmik lainnya.

Narasi ini, meskipun kuat secara teologis, menimbulkan pertanyaan tentang relevansi praktisnya dalam menghadapi deforestasi masif, polusi industri, atau perubahan iklim yang membutuhkan respons cepat dan terukur dari pemerintah dan masyarakat secara luas.

Desakan Transformasi Teologi

“Perlu ada pendekatan ulang pada teologi kita. Selama ini tasawuf dianggap kurang atau sekadar pelengkap, padahal tugas besar kita adalah mentransformasikannya,” tegas Nasaruddin di Semarang. Pernyataan ini secara implisit mengkritik pendekatan keagamaan arus utama yang gagal merespons ancaman lingkungan.

Ia bahkan menyatakan secara gamblang, “Hanya tasawuf lah yang bisa menyelamatkan alam semesta, dan hanya tasawuf lah yang mampu menjinakkan pikiran liar manusia yang eksploitatif.” Klaim tunggal ini menyoroti tasawuf sebagai panasea, mengesampingkan peran ilmu pengetahuan, teknologi, atau hukum.

Menag juga mengutip lirik Ebiet G. Ade untuk memperkuat pesannya, “Alam bersahabat dengan kita, tapi kalau kita tidak bersahabat dengannya, mungkin alam mulai enggan bersahabat dengan kita.” Pesan ini berfungsi sebagai peringatan moral tentang konsekuensi tindakan manusia terhadap alam.

Konteks Ekologis dan Kebijakan

Kunjungan Menteri Agama dan kuliah umum ini berlangsung saat laporan kerusakan ekologis terus menumpuk, mulai dari bencana hidrometeorologi, hilangnya keanekaragaman hayati, hingga ancaman krisis iklim. Kondisi ini menuntut solusi yang tidak hanya bersifat doktrinal, tetapi juga struktural dan implementatif.

Penekanan pada tasawuf sebagai “kunci” memunculkan celah antara diskursus keagamaan dan urgensi kebijakan konkret yang harus diambil oleh Kementerian Agama atau lembaga pemerintah lainnya untuk menerjemahkan nilai-nilai spiritual ini menjadi aksi nyata penyelamatan bumi.

More like this