Menaker Peringatkan: Masa Depan Kerja Bergantung pada Penguasaan AI
Menteri Ketenagakerjaan Prof. Yassierli menegaskan pentingnya penguasaan AI saat Kuliah Umum di UMS Solo. Keterampilan kecerdasan buatan krusial bagi dunia kerja masa depan. Permintaan pekerja AI meningkat pesat; 69% perusahaan mencari talenta AI. Mahasiswa juga perlu human skill dan mindset adaptif menghadapi era digital.

Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Prof. Yassierli, S.T., M.T., Ph.D., melontarkan peringatan keras di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Solo pada Jumat, 30 Januari 2026, menyoroti jurang kesiapan tenaga kerja Indonesia menghadapi gelombang kecerdasan buatan (AI). Deklarasi ini datang saat ia mengisi Kuliah Umum bertajuk “Persiapan Menghadapi Dunia Digital di Era Digital”, menegaskan bahwa 69 persen pimpinan perusahaan di Indonesia menolak merekrut calon pekerja tanpa keterampilan AI, menempatkan mahasiswa di persimpangan krusial antara kompetensi atau pengangguran.
Ancaman Nyata di Pasar Kerja
Permintaan terhadap tenaga kerja dengan kemampuan AI melonjak lebih dari dua kali lipat, mengubah lanskap pasar kerja secara fundamental. Keterampilan AI bukan lagi nilai tambah, melainkan prasyarat mutlak yang menentukan nasib karier. Mahasiswa, sebagai calon tenaga kerja, didesak untuk tidak hanya menjadi pengguna pasif teknologi, tetapi harus bertransformasi menjadi praktisi dan pengembang yang mampu memecahkan masalah dengan AI.
Selain penguasaan digital, Menaker juga menekankan pentingnya “human skill” yang mencakup kemampuan berpikir kognitif, analitis, sistemik, serta ketahanan (resilience), fleksibilitas, dan agilitas. Keseimbangan antara kompetensi digital dan karakter menjadi kunci, namun penekanan ini menempatkan beban adaptasi sepenuhnya pada individu, tanpa merinci strategi makro pemerintah.
Prof. Yassierli mendesak mahasiswa untuk mengadopsi pola pikir “growth mindset, future mindset, dan innovation mindset.” Ini adalah seruan untuk beradaptasi, namun juga memunculkan pertanyaan tentang dukungan ekosistem yang memadai dari negara untuk mewujudkan transformasi pola pikir ini secara merata.
Ultimatum Menaker
“AI kini menjadi skill penting untuk future workforce. Permintaannya terus meningkat, dan perusahaan mulai selektif terhadap calon pekerja yang tidak memiliki kompetensi ini,” tegas Yassierli, memberikan gambaran suram bagi mereka yang tertinggal. Ia menambahkan, “Kita harus memiliki growth mindset, future mindset, dan innovation mindset agar siap menghadapi perubahan industri dan bekerja di mana pun.”
Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., mengapresiasi kehadiran Menaker, menyatakan tujuan kuliah umum ini adalah “memberikan motivasi dan wawasan kepada generasi muda, khususnya Generasi Z, agar tidak hanya berorientasi mencari pekerjaan tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja baru.” Pernyataan ini, meski positif, menggarisbawahi pendekatan yang lebih berfokus pada inspirasi daripada intervensi struktural.
Kuliah umum yang dihadiri lebih dari 600 mahasiswa tingkat akhir UMS ini menjadi cermin dari realitas brutal pasar kerja yang menanti. Pesan Menaker terang benderang: kuasai AI atau tergilas. Namun, di tengah desakan ini, pertanyaan kritis tetap mengemuka: bagaimana pemerintah akan menerjemahkan peringatan ini menjadi kebijakan konkret dan program masif yang menjamin kesetaraan akses dan kesiapan seluruh angkatan kerja Indonesia, bukan hanya melalui ceramah motivasi?