Menaker RI Beberkan Strategi Mahasiswa UMS Taklukkan Dunia Kerja Digital

2 min read
Indonesian Minister Unveils UMS Student Strategies for Digital Job Market Mastery

Menteri Ketenagakerjaan RI mengajak mahasiswa UMS siap hadapi dunia kerja digital. Tantangan ketenagakerjaan nasional, seperti pengangguran dan disrupsi AI, mengubah lanskap pekerjaan. Mahasiswa didorong miliki keunikan serta keunggulan personal. Era ini mengutamakan keterampilan, bukan sekadar latar belakang pendidikan formal.

Indonesian Minister Unveils UMS Student Strategies for Digital Job Market Mastery

Menteri Ketenagakerjaan RI, Prof. Yassierli, S.T., M.T., Ph.D., secara blak-blakan memperingatkan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) di Solo, Jawa Tengah, Jumat (30/1/2026), mengenai ancaman serius pengangguran dan keterbatasan lapangan kerja di tengah disrupsi digital yang masif. Ia mendesak para mahasiswa untuk segera membekali diri dengan “growth mindset” dan keterampilan kecerdasan buatan (AI) esensial, secara implisit mengesampingkan relevansi latar belakang pendidikan formal semata.

Tantangan Ketenagakerjaan Mendesak

Dalam Kuliah Umum Stadium General bertema “Persiapan Menghadapi Dunia Kerja Di Era Digital”, Yassierli tanpa tedeng aling-aling menyoroti persoalan fundamental ketenagakerjaan nasional: pengangguran dan terbatasnya lapangan kerja. Yassierli mengakui Indonesia sebagai negara besar, namun transformasi ketenagakerjaan, menurutnya, “tidak bisa instan, semua butuh waktu dan proses”- sebuah pengakuan atas lambatnya adaptasi sistem.

Dunia kerja kini bergeser drastis, didorong oleh tiga kekuatan global: disrupsi AI dan digitalisasi, transisi hijau, serta perubahan demografi dan pergeseran “care economy”. Perubahan ini menghantam empat sektor utama: ekonomi digital dan kreatif, ekonomi hijau-biru-sirkular-berkelanjutan, serta ekonomi berbasis perawatan dan manusia. Arah pertumbuhan pekerjaan ke depan, katanya, akan banyak bertumpu pada sektor-sektor baru ini, meninggalkan sektor konvensional yang kian tergerus.

Data LinkedIn yang dipaparkan Yassierli mengejutkan: 80 persen pekerjaan yang tumbuh saat ini belum ada dua dekade lalu, dan 10 persen pekerja kini menduduki jabatan yang tak dikenal pada tahun 2000. Fenomena “gig economy” dan “freelance economy” menguat, diikuti peningkatan pekerja jarak jauh lintas negara serta pola kerja kontrak dan fleksibel. Keterampilan AI menjadi mutlak: 69 persen pemimpin di Indonesia, menurut Yassierli, tidak akan merekrut kandidat tanpa keahlian AI.

Ancaman Nyata dan Tuntutan Adaptasi

“Indonesia ini negara besar, dan perubahan ketenagakerjaan itu tidak bisa instan, semua butuh waktu dan proses,” ujar Yassierli, seolah menjustifikasi lambatnya respons kebijakan terhadap krisis ini.

Ia menambahkan, “Sekarang zamannya skills, not schools, yang dilihat adalah apa yang bisa Anda kerjakan.” Pernyataan ini secara tajam mengkritik sistem pendidikan formal yang gagal menyiapkan lulusan sesuai tuntutan pasar. Ia juga menegaskan ancaman, “69 persen pemimpin di Indonesia menyatakan tidak akan merekrut seseorang tanpa keterampilan AI.”

Ancaman nyata membayangi: lebih dari 50 persen keterampilan akan berubah di masa depan, dan sekitar 92 juta pekerjaan berpotensi hilang atau terotomasi pada 2030. Yassierli mendorong mahasiswa untuk mengadopsi “growth mindset” sebagai kunci bertahan dan menciptakan peluang baru, namun tanpa detail konkret mengenai dukungan struktural atau kebijakan pemerintah untuk menghadapi gelombang disrupsi ini.

More like this